Article

Homepage Article Fashion Design Rahasia Gaya Jacob Elordi:…

Rahasia Gaya Jacob Elordi: Memadukan Outfit Klasik dan Kasual

Apa Rahasia Gaya Jacob Elordi?

Rahasia gaya Jacob Elordi terletak pada kemampuannya menggabungkan elemen klasik menswear dengan pakaian kasual tanpa membuat salah satunya terlihat terlalu dominan. Blazer, white shirt, tie, tailored trousers, coat, dan loafers dapat muncul bersama denim, leather jacket, knitwear, sneakers, atau pakaian dengan siluet lebih relaxed.

Yang membuat kombinasi tersebut terlihat modern bukan banyaknya item fashion, melainkan cara setiap elemen memiliki fungsi visual. Item klasik memberikan struktur dan kesan polished, sedangkan item kasual membuat outfit terasa lebih santai dan relevan untuk keseharian.

Pendekatan ini juga menjelaskan mengapa gaya Elordi menarik bagi brand menswear. Formula tersebut relatif mudah diterjemahkan menjadi wardrobe yang terdiri dari produk terpisah dan dapat dipakai lintas kesempatan. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada proporsi, material, warna, kualitas konstruksi, dan konteks pemakaian.

Dengan kata lain, gaya Elordi bukan sekadar soal memakai pakaian mahal, tetapi tentang menciptakan keseimbangan antara formalitas dan relaksasi.

Mengapa Gaya Klasik dan Kasual Bisa Terlihat Serasi?

Klasik dan kasual sebenarnya bukan dua kategori yang selalu berlawanan. Dalam menswear modern, keduanya sering bertemu melalui konsep relaxed tailoring, smart casual, dan elevated basics.

Blazer, misalnya, secara historis memiliki hubungan kuat dengan tailoring. Tetapi ketika dipadukan dengan T-shirt, jeans, atau sneakers, karakter blazer berubah. Sebaliknya, jeans yang sangat kasual dapat terlihat lebih refined ketika dikenakan bersama coat, shirt, dan leather shoes.

Jacob Elordi sering bermain pada titik pertemuan tersebut. Vogue mencatat wardrobe-nya mencakup basic pieces, baggy jeans, oversized shirts, leather jackets, loafers, dan tailoring.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa perpaduan klasik-kasual bukan berarti memasukkan satu item formal dan satu item santai secara acak. Ada hubungan yang perlu dijaga.

Misalnya, blazer dengan shoulder pad yang sangat formal dapat terasa kurang natural jika dipasangkan dengan celana olahraga yang sangat casual. Sebaliknya, blazer dengan konstruksi lebih ringan dapat menyatu lebih baik dengan denim atau knitwear.

Itulah mengapa tingkat formalitas setiap item perlu berada dalam rentang yang masih dapat berkomunikasi satu sama lain.

Gaya pria memadukan blazer klasik dengan elemen kasual ala Jacob Elordi

Elemen Klasik yang Membentuk Gaya Jacob Elordi

Gaya klasik Elordi tidak selalu berarti pakaian formal lengkap. Beberapa wardrobe staples justru menjadi fondasi yang membuat outfit-nya terasa timeless.

Blazer dan Tailoring yang Tidak Terlalu Kaku

Blazer merupakan salah satu cara paling mudah untuk memasukkan elemen klasik ke dalam outfit kasual.

Namun, blazer modern tidak harus memiliki struktur seperti suit jacket formal. Konstruksi yang lebih ringan, shoulder line yang natural, dan sedikit ruang pada badan dapat membuat blazer lebih mudah dipadukan dengan jeans atau knitwear.

Pada Elordi, pendekatan ini relevan karena gaya formal dan casual-nya sering berada dalam spektrum yang sama, bukan dua identitas yang sepenuhnya terpisah.

Bagi brand, perbedaan konstruksi ini penting. Blazer dengan full canvas, padding yang lebih kuat, dan chest structure memiliki karakter berbeda dari unstructured blazer dengan interlining ringan.

Jika target produknya adalah smart casual, terlalu banyak struktur justru dapat membatasi cara pemakaian.

White Shirt sebagai Penyeimbang

Kemeja putih adalah salah satu item paling fleksibel dalam classic menswear. Dalam konteks gaya Elordi, kemeja tidak harus selalu dikenakan dengan dasi atau suit.

Kemeja putih yang sedikit relaxed dapat digunakan dengan jeans, trousers, blazer, atau outerwear. Ia menjadi semacam “jembatan” antara pakaian formal dan kasual.

Dari perspektif desain produk, item seperti ini menarik karena memiliki potensi penggunaan lintas occasion. Namun, keberhasilannya bergantung pada detail seperti collar shape, fabric weight, opacity, cuff construction, dan panjang hem.

Kemeja putih dari poplin yang crisp akan memberikan kesan lebih formal dibandingkan kemeja dari cotton yang washed atau material dengan drape lebih lembut.

Coat dan Outerwear Klasik

Coat panjang juga sering memberikan karakter klasik pada wardrobe pria. Dalam penampilan Elordi, outerwear dapat menjadi elemen statement sekaligus lapisan yang menyatukan outfit.

GQ pernah menyoroti oversized black topcoat yang dikenakan Elordi dengan strong shoulders dan panjang melewati lutut.

Menariknya, coat semacam ini dapat dipakai di atas outfit yang sangat sederhana. Artinya, outerwear tidak selalu membutuhkan banyak detail untuk menjadi pusat perhatian.

Bagi brand, hal ini membuka peluang untuk mengembangkan produk outerwear dengan konstruksi bersih, warna netral, dan fit yang dapat digunakan di atas berbagai jenis outfit.

Loafers dan Leather Shoes

Sepatu kulit, terutama loafers, memberikan anchor yang lebih refined pada outfit relaxed.

Vogue mencatat penggunaan loafers dalam sejumlah penampilan Elordi bersama celana longgar dan item casual.

Secara styling, sepatu seperti ini bekerja karena memberikan sedikit formalitas tanpa membuat outfit terlihat seperti business suit.

Bagi konsumen pria yang mulai mengeksplorasi smart casual, ini merupakan pendekatan yang cukup mudah diterapkan: pakaian boleh relaxed, tetapi footwear tetap clean.

Elemen Kasual yang Membuat Look Tidak Terlalu Formal

Jika pakaian klasik memberikan struktur, elemen kasual berfungsi sebagai penyeimbang. Pada gaya Elordi, elemen tersebut dapat berupa denim, leather jacket, relaxed shirt, T-shirt, knitwear, atau footwear dengan karakter lebih santai.

Denim sebagai Casual Anchor

Jeans adalah salah satu item yang paling efektif untuk menurunkan tingkat formalitas sebuah outfit. Vogue secara khusus menyoroti baggy jeans sebagai bagian dari gaya Elordi, termasuk saat dipadukan dengan oversized shirt dan loafers.

Kombinasi ini menarik karena jeans tetap casual, tetapi loafers dan shirt mengembalikan sebagian kesan polished.

Bagi brand, ini menunjukkan bahwa kategori denim tidak harus selalu diposisikan sebagai streetwear. Potongan, wash, dan styling dapat mengubah persepsi produk secara signifikan.

Jeans dengan clean dark wash, misalnya, lebih mudah masuk ke smart casual dibandingkan distressed jeans dengan banyak abrasion.

Leather Jacket sebagai Pengubah Karakter

Leather jacket membawa karakter berbeda dari blazer atau coat. Ia dapat membuat outfit yang sangat klasik terasa lebih youthful tanpa membutuhkan banyak aksesori. Dalam beberapa penampilannya, Elordi menggunakan leather jacket dengan item wardrobe yang sederhana. Vogue juga memasukkan slouchy leather jacket dalam daftar elemen khas gayanya.

Untuk brand, bentuk leather jacket perlu diperhatikan secara khusus karena materialnya sendiri sudah memiliki visual weight yang tinggi. Jika ditambah shoulder volume dan panjang ekstrem, produk dapat menjadi terlalu berat secara visual.

Alternatif untuk pasar lebih luas dapat berupa leather-look material atau textile outerwear dengan konstruksi serupa, tetapi klaim mengenai material dan performanya harus disampaikan secara akurat.

Knitwear dan Layering

Knitwear dapat menjadi elemen transisi yang sangat efektif antara tailoring dan casualwear. Crewneck knit yang dipakai di bawah blazer, misalnya, dapat menggantikan shirt dan tie untuk menciptakan outfit yang lebih santai. Cardigan atau knit polo juga dapat memberikan struktur tanpa formalitas yang terlalu tinggi.

Kunci utamanya adalah tekstur. Knitwear memiliki visual softness yang berbeda dari woven tailoring sehingga dapat mengurangi kesan kaku dari blazer atau trousers.

Layering menswear klasik dan kasual dengan blazer knitwear dan denim

Bagaimana Jacob Elordi Mengatur Tingkat Formalitas?

Salah satu cara paling berguna membaca gaya Elordi adalah melalui skala formalitas, bukan sekadar kategori pakaian.

Bayangkan outfit berada pada spektrum:

Lebih klasik

Titik tengah

Lebih kasual

Suit jacket

Unstructured blazer

Leather jacket

Dress shirt

Relaxed shirt

T-shirt

Tailored trousers

Straight trousers

Baggy jeans

Oxford shoes

Loafers

Sneakers

Structured coat

Relaxed coat

Overshirt

Tidak berarti setiap outfit harus memilih item dari semua kolom. Justru yang penting adalah menjaga keseimbangan.

Contohnya, blazer + white shirt + jeans + loafers berada di tengah spektrum. Jika jeans diganti tailored trousers dan ditambah tie, outfit bergerak ke arah formal. Jika blazer diganti leather jacket dan loafers diganti sneakers, karakter casual semakin kuat.

Kerangka ini dapat membantu stylist maupun brand ketika membuat koleksi capsule. Alih-alih mengembangkan produk secara terpisah, setiap item dapat dirancang agar dapat berpindah setidaknya satu tingkat formalitas melalui styling.

Mengapa Warna Netral Memperkuat Formula Ini?

Gaya klasik-kasual lebih mudah terlihat kohesif ketika warna tidak terlalu ramai.

Elordi cukup sering tampil dalam warna seperti hitam, navy, putih, abu-abu, cokelat, denim blue, dan earthy tones. Vogue juga menggambarkan wardrobe-nya sebagai perpaduan basic pieces dan investment items.

Warna netral bukan berarti outfit harus monoton. Perbedaan tekstur dapat menciptakan kedalaman tanpa membutuhkan banyak warna.

Contohnya, navy wool blazer, white cotton shirt, blue denim, dan brown leather shoes sudah memiliki beberapa perbedaan visual meskipun paletnya sederhana.

Untuk brand, pendekatan ini juga memiliki manfaat komersial. Produk warna netral cenderung lebih mudah dikombinasikan dengan item lain sehingga dapat memperpanjang kemungkinan styling dan penggunaan wardrobe.

Namun, ini bukan berarti warna netral selalu lebih laku untuk semua brand. Brand dengan positioning expressive atau fashion-forward mungkin justru membutuhkan warna statement sebagai identitas.

Bagaimana Material Mengubah Kesan Klasik dan Kasual?

Dua garment dengan pola hampir sama dapat terlihat sangat berbeda karena materialnya.

Blazer berbahan wool dengan permukaan halus memberikan kesan berbeda dari blazer linen-cotton yang lebih relaxed. Jeans dark rinse terasa lebih polished daripada jeans dengan heavy distressing. Leather jacket dengan permukaan clean terlihat berbeda dari leather jacket dengan banyak hardware.

Inilah alasan mengapa moodboard styling sebaiknya selalu dilengkapi material references.

Untuk product development, beberapa parameter yang perlu diperhatikan antara lain:

  • fabric weight, karena memengaruhi struktur dan kenyamanan;
  • surface texture, yang memengaruhi persepsi formalitas;
  • drape, yang menentukan seberapa relaxed garment terlihat;
  • finishing, terutama pada denim dan outerwear;
  • construction, termasuk interlining dan shoulder structure.

Sebuah desain yang tampak “Jacob Elordi” pada moodboard belum tentu menghasilkan efek sama ketika diproduksi menggunakan fabric yang berbeda.

Tekstur material blazer denim dan knitwear dalam menswear klasik kasual

Bagaimana Brand Bisa Menerjemahkan Gaya Ini ke Koleksi?

Untuk fashion business, strategi paling masuk akal bukan membuat koleksi “Jacob Elordi” secara literal. Gunakan formula styling-nya sebagai dasar wardrobe architecture.

Misalnya, sebuah brand menswear dapat mengembangkan:

Core: white shirt, dark denim, straight trousers, knit crewneck.

Refined layer: unstructured blazer, tailored coat, loafers.

Casual layer: leather jacket, overshirt, relaxed denim, sneakers.

Ketika produk-produk tersebut dapat saling bertukar pasangan, nilai komersial setiap SKU menjadi lebih tinggi karena satu item tidak bergantung pada satu outfit.

Pendekatan ini juga mendukung konsep capsule wardrobe. Konsumen tidak hanya membeli satu look dari campaign, tetapi memperoleh beberapa produk yang dapat digunakan dalam kombinasi berbeda.

Bagi brand kecil, ini dapat menjadi strategi yang lebih realistis dibandingkan membuat koleksi besar. Produk hero dapat dikembangkan dengan beberapa warna dan kemudian didukung oleh basic pieces yang memperluas kemungkinan styling.

Pengembangan capsule wardrobe pria dengan produk klasik dan kasual

Apa Dampaknya untuk Product Development?

Inspirasi celebrity style baru memiliki nilai bisnis ketika diterjemahkan menjadi parameter produk yang bisa diuji.

Dalam tahap development, tim dapat memisahkan referensi menjadi tiga lapisan:

  • Visual language menentukan bagaimana produk ingin terlihat.
  • Product specification menerjemahkan visual tersebut ke measurement, material, construction, dan finishing.
  • Commercial validation menguji apakah produk tersebut benar-benar diterima pasar.

Contohnya, referensi “Jacob Elordi memakai blazer oversized dengan jeans” terlalu luas untuk dijadikan tech pack. Tim harus mengubahnya menjadi keputusan yang lebih konkret: shoulder width berapa, body length berapa, sleeve opening seperti apa, fabric weight berapa, jenis denim apa, wash seperti apa, dan footwear apa yang digunakan dalam campaign.

Pendekatan ini membantu menghindari kesalahan ketika tren diterjemahkan terlalu cepat dari editorial image menjadi produk massal.

Untuk memahami tahap berikutnya dalam membaca tren, brand dapat menghubungkannya dengan Cara Membaca Tren Fashion untuk Pengembangan Produk.

Apakah Formula Jacob Elordi Cocok untuk Pasar Indonesia?

Sebagian besar prinsip styling-nya dapat diadaptasi, tetapi produk fisiknya perlu mempertimbangkan konteks Indonesia.

Blazer ringan, relaxed shirt, knitwear tipis, denim, trousers dengan potongan longgar, dan loafers dapat menjadi titik awal yang lebih realistis dibandingkan heavy outerwear.

Iklim panas dan lembap membuat berat kain, konstruksi garment, dan layering menjadi pertimbangan penting. Konsumen mungkin menyukai visual coat atau leather jacket dalam editorial, tetapi belum tentu memiliki kebutuhan pemakaian yang sama dalam keseharian.

Karena itu, brand lokal dapat mengambil bahasa visual dari gaya Elordi tanpa menyalin seluruh wardrobe-nya.

Contohnya:

  • coat berat → lightweight overshirt atau unstructured jacket;
  • wool blazer → linen blend atau lightweight wool untuk konteks tertentu;
  • heavy knit → fine-gauge knit;
  • full formal look → relaxed tailoring;
  • dark winter layering → tonal layering yang lebih ringan.

Adaptasi tersebut bukan berarti mengurangi nilai estetika. Justru desain menjadi lebih relevan ketika mempertimbangkan kondisi pemakaian sebenarnya.

Gaya Klasik-Kasual dan Peluang Retail

Formula klasik-kasual memiliki potensi retail karena konsumen tidak harus membeli seluruh outfit sekaligus.

Seseorang dapat memulai dari white shirt yang kemudian dipakai dengan jeans. Setelah itu, blazer dapat ditambahkan untuk occasion yang lebih formal. Loafers kemudian mengubah karakter outfit lagi.

Dari perspektif merchandising, pola ini memungkinkan brand membangun cross-selling berdasarkan fungsi styling, bukan sekadar kategori produk.

Misalnya, halaman produk blazer dapat menampilkan pairing dengan jeans dan loafers. Halaman jeans dapat menunjukkan pairing dengan white shirt dan blazer. Dengan demikian, konten editorial juga berfungsi sebagai alat untuk membantu konsumen memahami hubungan antarproduk.

Strategi ini lebih informatif daripada sekadar menampilkan satu model mengenakan seluruh koleksi sekaligus.

Kesalahan Saat Meniru Gaya Klasik-Kasual Jacob Elordi

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi ketika brand atau konsumen mencoba menerjemahkan estetika ini.

1. Menganggap semua item harus premium.
Kesan refined lebih banyak dipengaruhi proporsi, material, finishing, dan koordinasi outfit daripada label semata.

2. Memasukkan terlalu banyak elemen formal.
Blazer, tie, dress shirt, tailored trousers, Oxford shoes, dan coat sekaligus dapat menggeser outfit menjadi formalwear penuh. Unsur casual diperlukan untuk menciptakan tension yang menjadi inti gaya tersebut.

3. Mengabaikan tingkat formalitas material.
Jeans distressed dengan blazer sangat structured menciptakan kontras yang jauh lebih kuat daripada dark denim clean dengan unstructured blazer.

4. Meniru outfit secara literal.
Outfit selebriti dirancang untuk konteks tertentu, termasuk red carpet, press event, airport, atau street-style photography. Tidak semuanya cocok untuk kebutuhan sehari-hari.

5. Mengabaikan iklim.
Layering yang terlihat bagus dalam foto tidak selalu praktis di kota-kota Indonesia yang panas dan lembap.

Kesalahan tersebut menunjukkan bahwa inspirasi fashion harus diterjemahkan melalui konteks, bukan hanya visual.

Apa yang Sebenarnya Bisa Dipelajari Brand dari Gaya Jacob Elordi?

Pelajaran terpentingnya adalah versatility.

Sebuah wardrobe yang baik tidak harus terdiri dari pakaian yang semuanya memiliki tingkat formalitas sama. Justru produk yang dapat bergerak antara casual dan refined memberi konsumen lebih banyak cara memakai pakaian yang sama.

Dari sisi bisnis, ini dapat diterjemahkan menjadi produk yang lebih modular: blazer yang dapat dipakai dengan jeans, trousers yang dapat dipakai dengan T-shirt, shirt yang cocok dengan tailoring maupun denim, dan loafers yang tidak terbatas pada suit.

Gaya Elordi menjadi menarik karena ia memperlihatkan bagaimana wardrobe klasik dapat tetap relevan tanpa harus tampil konservatif. Elemen kasual memberikan fleksibilitas, sedangkan elemen klasik menjaga outfit tetap memiliki struktur visual.

Namun, pengaruh celebrity style terhadap pasar lebih luas akan dibahas pada artikel berikutnya dalam cluster ini, Jacob Elordi Effect: Saat Gaya Selebriti Membentuk Tren Fashion Pria.

FAQ: Gaya Jacob Elordi Klasik dan Kasual

Apa ciri utama gaya klasik-kasual Jacob Elordi?

Ciri utamanya adalah perpaduan item klasik seperti blazer, white shirt, tailored trousers, coat, dan loafers dengan elemen casual seperti denim, leather jacket, knitwear, T-shirt, atau relaxed silhouettes. Kuncinya bukan jumlah item formal dan casual, tetapi keseimbangan tingkat formalitas, proporsi, material, dan warna. Karena itu, gaya tersebut dapat terlihat refined tanpa menjadi formalwear penuh.

Apakah gaya Jacob Elordi termasuk smart casual?

Sebagian penampilannya dapat dikategorikan sebagai smart casual, tetapi label tersebut tidak mencakup seluruh wardrobe Elordi. Ia juga tampil dalam tailoring formal, relaxed menswear, streetwear-influenced looks, dan outerwear yang lebih utilitarian. Smart casual lebih tepat digunakan untuk menjelaskan outfit tertentu ketika elemen tailored dan casual berada dalam satu kombinasi.

Bagaimana cara membuat outfit pria klasik terlihat lebih kasual?

Cara paling mudah adalah mengganti satu atau dua elemen formal dengan item yang lebih relaxed. Blazer dapat dipadukan dengan denim, dress shirt dapat diganti dengan knit polo, atau loafers dapat digunakan bersama trousers yang lebih longgar. Hindari mengubah semua elemen sekaligus karena hasilnya dapat kehilangan struktur yang membuat outfit klasik terlihat refined.

Apakah blazer bisa dipadukan dengan jeans seperti gaya Jacob Elordi?

Bisa. Kombinasi blazer dan jeans bekerja paling baik ketika tingkat formalitas keduanya masih memiliki hubungan visual. Unstructured atau relaxed blazer biasanya lebih mudah dipadukan dengan denim daripada blazer formal dengan struktur bahu dan konstruksi suit yang sangat kuat. Warna dan wash denim juga memengaruhi hasil akhir; dark, clean denim cenderung lebih polished daripada denim dengan distressing berat.

Apakah gaya Jacob Elordi cocok untuk iklim Indonesia?

Prinsip styling-nya dapat diadaptasi, tetapi material dan layering perlu disesuaikan. Lightweight blazer, breathable shirt, fine-gauge knit, relaxed trousers, dan overshirt lebih realistis untuk banyak situasi dibandingkan heavy coat atau knitwear tebal. Kenyamanan tetap bergantung pada serat, berat kain, konstruksi, dan kondisi lingkungan, sehingga visual oversized atau layered tidak otomatis berarti lebih adem.

Apa item paling mudah untuk memulai gaya klasik-kasual?

White shirt, clean dark denim, relaxed trousers, unstructured blazer, dan loafers merupakan titik awal yang relatif fleksibel. Konsumen tidak perlu membeli semuanya sekaligus. Satu item klasik dapat dipasangkan dengan wardrobe casual yang sudah dimiliki, lalu ditingkatkan secara bertahap. Bagi brand, prinsip yang sama dapat diterapkan melalui capsule collection dengan produk yang saling kompatibel.

Mengapa gaya Jacob Elordi terlihat mahal meskipun outfit-nya sering sederhana?

Kesan tersebut banyak dipengaruhi oleh fit, proporsi, material, grooming, footwear, dan konteks styling. Outfit sederhana dengan shirt yang memiliki fit tepat, denim dengan wash bersih, coat yang terstruktur, dan sepatu yang terawat dapat terlihat lebih refined daripada outfit dengan banyak detail tetapi proporsinya tidak seimbang. Harga produk tetap berpengaruh terhadap material dan construction, tetapi tidak menjadi satu-satunya faktor visual.

Kesimpulan

Gaya Jacob Elordi menarik bukan karena ia memilih pakaian yang selalu formal atau selalu kasual, tetapi karena ia mampu menempatkan keduanya dalam satu wardrobe dengan tingkat formalitas yang terkontrol.

Blazer dapat bertemu denim. White shirt dapat dipakai dengan jeans. Loafers dapat dipasangkan dengan trousers yang relaxed. Leather jacket dapat berdampingan dengan elemen klasik. Hasilnya adalah menswear yang terasa polished tanpa terlalu formal dan casual tanpa terlihat asal.

Bagi fashion business, prinsip tersebut menawarkan pelajaran yang lebih berguna daripada sekadar meniru outfit selebriti. Produk sebaiknya dirancang agar memiliki styling versatility, dapat berpindah antaroccasion, dan tetap relevan dengan kondisi pemakaian target pasar.

Untuk pasar Indonesia, adaptasi material dan konstruksi menjadi bagian penting. Gaya yang terlihat menarik di editorial harus diterjemahkan kembali berdasarkan iklim, aktivitas, price point, dan kebiasaan konsumen.

Pada akhirnya, rahasia gaya Jacob Elordi bukan berada pada satu merek atau satu item. Ia berada pada kemampuan menghubungkan classic menswear, casualwear, proporsi, material, dan konteks pemakaian dalam satu sistem wardrobe yang fleksibel.

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.