Jacob Elordi Effect: Saat Gaya Selebriti Membentuk Tren Fashion Pria
Apa Itu Jacob Elordi Effect?
Jacob Elordi Effect dapat digunakan untuk menggambarkan fenomena ketika gaya berpakaian seorang selebriti menjadi referensi visual yang kemudian diperhatikan, dibicarakan, ditiru, atau diterjemahkan oleh konsumen, media, stylist, maupun brand. Istilah ini bukan nama teori akademik atau indeks resmi, melainkan cara praktis untuk membaca pengaruh celebrity style terhadap fashion.
Dalam kasus Jacob Elordi, daya tariknya tidak hanya berasal dari popularitas sebagai aktor. Penampilannya sering mempertemukan beberapa bahasa menswear yang sedang relevan: tailoring yang lebih relaxed, oversized proportions, denim, leather outerwear, basic pieces, dan aksesori yang relatif understated. Media fashion seperti Vogue dan GQ secara konsisten mendokumentasikan berbagai aspek wardrobe tersebut.
Bagi industri fashion, bagian yang paling menarik bukan sekadar apakah konsumen “meniru Jacob Elordi”. Pertanyaan yang lebih berguna adalah bagaimana sebuah penampilan selebriti berubah dari gambar editorial menjadi inspirasi produk, konten, pencarian konsumen, dan akhirnya keputusan pembelian.
Efek tersebut juga tidak otomatis berarti setiap gaya yang dikenakan selebriti akan menjadi tren massal. Popularitas, konteks pemakaian, harga, ketersediaan produk, kecocokan dengan iklim, serta kemampuan brand menerjemahkan look menjadi produk yang wearable ikut menentukan seberapa jauh pengaruh tersebut bergerak.
Mengapa Gaya Selebriti Bisa Memengaruhi Fashion?
Pengaruh selebriti bekerja terutama melalui visibilitas dan asosiasi. Ketika seseorang yang memiliki perhatian publik tampil dengan pakaian tertentu, outfit tersebut memperoleh konteks tambahan: siapa yang memakainya, di mana dikenakan, bagaimana difoto, dan bagaimana media atau audiens membicarakannya.
Fashion kemudian tidak lagi dilihat hanya sebagai produk. Ia menjadi bagian dari citra personal.
Mekanismenya dapat berlangsung dalam beberapa tahap: sebuah look muncul, media mengangkatnya, audiens mendiskusikannya, platform sosial memperluas eksposur, lalu konsumen mulai mengenali elemen visual yang sama pada produk lain.
Tetapi pengaruh tidak sama dengan penjualan. Ada jarak antara visibility → interest → consideration → purchase. Banyak brand keliru ketika menganggap tingginya engagement terhadap sebuah outfit otomatis berarti permintaan komersial yang tinggi.
Untuk bisnis fashion, justru jarak tersebut yang perlu dianalisis.

Apa yang Membuat Gaya Jacob Elordi Mudah Dikenali?
Salah satu kekuatan gaya Elordi adalah adanya konsistensi visual tanpa terpaku pada satu formula outfit.
Ia dapat muncul dalam tailoring, casualwear, outerwear, atau kombinasi keduanya. Namun, beberapa karakter visual berulang membuat wardrobe-nya relatif mudah dikenali.
Vogue, misalnya, menyoroti sejumlah elemen yang sering muncul dalam gaya Elordi, termasuk baggy jeans, oversized shirts, leather jackets, loafers, dan tailoring.
GQ juga beberapa kali membahas pilihan outerwear dan tailoring Elordi, termasuk penggunaan coat dengan siluet yang kuat.
Yang penting, elemen-elemen tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam menswear. Jeans, leather jacket, blazer, coat, dan loafers telah lama menjadi bagian dari wardrobe pria. Yang berubah adalah kombinasi, proporsi, styling, dan konteks sosialnya.
Itulah yang membuat celebrity effect menarik bagi trend forecasting. Sebuah tren tidak selalu muncul karena sebuah produk baru ditemukan. Kadang, produk lama memperoleh relevansi baru karena digunakan dengan cara berbeda.

Dari Celebrity Look Menjadi Tren: Bagaimana Prosesnya?
Tidak semua penampilan selebriti berkembang menjadi tren. Ada beberapa kondisi yang membuat sebuah look lebih mudah diterjemahkan oleh pasar.
Pertama adalah recognizability. Konsumen harus mampu mengenali elemen yang membuat sebuah outfit berbeda atau menarik.
Kedua adalah replicability. Jika look membutuhkan pakaian yang sangat mahal, custom-made, atau sulit ditemukan, pengaruhnya mungkin kuat secara editorial tetapi lemah dalam adopsi massal.
Ketiga adalah wearability. Outfit yang terlihat menarik dalam foto belum tentu cocok untuk aktivitas sehari-hari.
Keempat adalah distribution. Semakin sering sebuah estetika muncul melalui media, social media, editorial, campaign, atau street-style coverage, semakin besar peluang konsumen mengenali bahasa visual tersebut.
Karena itu, pengaruh celebrity dapat dibayangkan seperti corong:
|
Tahap |
Yang terjadi |
Pertanyaan bisnis |
|
Exposure |
Look dilihat audiens |
Apakah visualnya menarik perhatian? |
|
Recognition |
Elemen outfit mulai dikenali |
Apa ciri yang paling mudah diingat? |
|
Interest |
Konsumen mencari referensi |
Produk apa yang mereka cari? |
|
Adaptation |
Brand menerjemahkan estetika |
Apakah desainnya wearable? |
|
Conversion |
Konsumen membeli |
Apakah harga dan produknya masuk akal? |
|
Retention |
Produk terus dipakai |
Apakah tren punya umur pakai yang cukup? |
Kerangka ini penting karena tren fashion tidak berhenti pada viralitas. Nilai komersial baru muncul ketika estetika dapat diterjemahkan menjadi produk yang tersedia, sesuai harga, dan relevan dengan kebutuhan konsumen.
Apakah Semua Gaya Jacob Elordi Bisa Disebut Tren?
Tidak.
Ini salah satu batas penting dalam membaca celebrity influence.
Sebuah outfit dapat menjadi viral tanpa menjadi tren yang bertahan. Sebaliknya, elemen tertentu dapat mengalami adopsi lebih luas tanpa publik secara sadar menghubungkannya dengan selebriti yang pertama kali memakainya.
Misalnya, konsumen mungkin mulai menyukai relaxed trousers atau loafers karena melihat banyak referensi menswear di media sosial. Mereka belum tentu mencari “celana seperti yang dipakai Jacob Elordi”.
Dengan demikian, pengaruh selebriti lebih tepat dipahami sebagai salah satu pemicu cultural visibility, bukan satu-satunya penyebab perubahan tren.
Bagi brand, perbedaan ini menentukan strategi. Jika perusahaan hanya mengejar tampilan selebriti yang sedang ramai, risiko product lifecycle menjadi pendek. Tetapi jika brand mengidentifikasi elemen desain yang lebih mendasar—misalnya relaxed proportions atau versatile tailoring—produk dapat memiliki relevansi lebih panjang.
Apa yang Bisa Dipelajari Brand Menswear dari Jacob Elordi Effect?
Bagi brand pria, celebrity effect paling berguna ketika digunakan sebagai input untuk membaca permintaan, bukan sebagai instruksi untuk menyalin outfit.
Bayangkan sebuah brand melihat beberapa penampilan Elordi dengan relaxed tailoring. Respons yang terlalu literal adalah membuat satu setelan oversized dan langsung memasukkannya ke koleksi.
Respons yang lebih strategis adalah memecah fenomena tersebut menjadi beberapa pertanyaan:
- Apakah konsumen memang mencari siluet yang lebih relaxed?
- Apakah kebutuhan tersebut muncul pada blazer, trousers, atau keduanya?
- Apakah target market menginginkan oversized atau sekadar comfort fit?
- Material apa yang realistis untuk iklim dan price point target?
- Apakah produk dapat dipakai dengan wardrobe yang sudah dimiliki?
- Apakah tren tersebut cukup kuat untuk produksi volume besar?
Setelah pertanyaan tersebut dijawab, barulah celebrity reference memiliki nilai dalam product development.
Untuk memahami sisi siluet secara lebih spesifik, pembaca dapat melihat Gaya Jacob Elordi: Kenapa Siluet Oversized Jadi Begitu Ikonik?.
Celebrity Influence dalam Product Development
Bagi tim desain dan merchandising, referensi selebriti sebaiknya diterjemahkan dari image menjadi product attributes.
Contohnya, sebuah foto Jacob Elordi mengenakan coat oversized tidak cukup menjadi brief desain. Tim perlu mengidentifikasi apa yang sebenarnya menarik dari foto tersebut.
Mungkin daya tariknya berasal dari shoulder line. Bisa juga berasal dari panjang coat, volume badan, pilihan warna, atau cara coat tersebut dipadukan dengan trousers dan footwear.
Setelah elemen visual diisolasi, tim dapat mengubahnya menjadi parameter produk.
|
Referensi visual |
Parameter produk |
|
Siluet oversized |
body ease, shoulder width, sleeve length |
|
Tailoring relaxed |
struktur bahu, interlining, fit |
|
Dark denim |
fabric weight, wash, finishing |
|
Leather outerwear |
leather type, thickness, surface finish |
|
Long coat |
garment length, hem proportion, construction |
|
Relaxed trousers |
rise, thigh ease, leg opening |
Proses ini membuat tren lebih terukur.
Hal tersebut juga mengurangi risiko satu foto selebriti diterjemahkan secara berlebihan menjadi produk yang tidak sesuai dengan DNA brand.

Bagaimana Pengaruh Celebrity Style Masuk ke Retail?
Retail memiliki peran penting dalam mengubah tren visual menjadi pengalaman belanja.
Ketika sebuah estetika mulai mendapat perhatian, retailer tidak harus langsung membuat koleksi penuh. Salah satu pendekatan yang lebih terkontrol adalah menguji beberapa commercial entry points.
Misalnya:
- Entry-level: T-shirt, shirt, denim, atau aksesori dengan harga lebih mudah dijangkau.
- Mid-level: relaxed trousers, blazer, knitwear, atau outerwear.
- Statement: coat, leather jacket, atau produk dengan siluet lebih ekstrem.
Struktur seperti ini memungkinkan konsumen masuk ke estetika yang sama melalui tingkat harga dan komitmen berbeda.
Bagi retailer, strategi tersebut juga berguna untuk mengukur apakah minat konsumen hanya berada pada konten atau benar-benar bergerak ke produk.
Jika konsumen banyak menyimpan konten tentang relaxed tailoring tetapi produk tailoring tidak bergerak, mungkin masalahnya bukan pada estetika. Bisa jadi harga, fit, climate suitability, atau product presentation yang tidak sesuai.
Mengapa Social Media Mempercepat Celebrity Effect?
Social media membuat satu penampilan dapat mengalami banyak siklus interpretasi.
Foto red carpet dapat berubah menjadi fashion commentary. Foto street style dapat menjadi referensi outfit. Potongan video dapat digunakan kembali dalam konten styling. Produk yang terlihat pada gambar kemudian dapat dicari melalui search atau social commerce.
Proses ini memperpendek jarak antara celebrity exposure dan consumer research.
Namun, social media juga memperbesar risiko salah membaca data. Views, likes, shares, saves, search volume, dan sales tidak mengukur hal yang sama.
Sebuah video outfit dengan jutaan views mungkin menunjukkan ketertarikan visual. Itu belum membuktikan bahwa konsumen bersedia membayar harga produk yang sama.
Untuk brand, data sebaiknya dibaca secara berlapis:
- Attention: reach, views, impressions.
- Interest: saves, shares, comments, product-page visits.
- Intent: search behavior, wishlist, add-to-cart.
- Conversion: purchase, conversion rate, revenue.
- Post-purchase: repeat purchase, return rate, review, actual usage.
Perbedaan ini penting ketika perusahaan ingin menentukan apakah celebrity-driven trend layak dinaikkan dari content test menjadi inventory commitment.
Apakah Celebrity Trend Cocok untuk Semua Brand?
Tidak selalu.
Brand dengan positioning classic menswear mungkin dapat mengambil elemen relaxed tailoring dari gaya Elordi tanpa mengadopsi keseluruhan estetika. Brand streetwear mungkin lebih tertarik pada baggy denim atau oversized outerwear. Brand premium dapat mengambil pendekatan melalui material dan construction.
Sementara itu, brand dengan target konsumen yang membutuhkan pakaian formal untuk kantor mungkin hanya mengambil sebagian kecil dari tren tersebut.
Dengan kata lain, relevansi tren harus selalu melewati filter brand DNA.
Sebuah tren yang cocok untuk celebrity image belum tentu cocok untuk customer profile.
Sebelum mengembangkan produk berbasis celebrity influence, brand dapat memeriksa:
- apakah estetika sesuai dengan positioning;
- apakah target customer memiliki occasion untuk memakainya;
- apakah supplier mampu memproduksi konstruksi yang dibutuhkan;
- apakah target retail price realistis;
- apakah produk dapat dipakai lebih dari satu musim;
- apakah styling-nya dapat dikomunikasikan tanpa bergantung pada figur selebriti.
Poin terakhir sering dilupakan. Jika produk hanya menarik ketika dikenakan oleh selebriti, brand belum tentu memiliki product proposition yang kuat.
Apa Risiko Mengikuti Tren yang Dipicu Selebriti?
Celebrity-driven fashion memiliki daya tarik tinggi, tetapi juga membawa beberapa risiko bisnis.
Trend timing. Saat brand selesai melakukan forecasting, sampling, costing, production, dan distribution, perhatian publik mungkin sudah berpindah.
Overproduction. Satu look yang viral tidak otomatis memiliki demand volume yang cukup.
Brand dilution. Terlalu sering mengejar tren selebriti dapat membuat koleksi kehilangan identitas.
Fit mismatch. Proporsi pakaian pada figur dengan tinggi, bentuk tubuh, dan styling tertentu belum tentu cocok untuk target customer.
Context mismatch. Outfit yang cocok untuk red carpet, editorial, atau airport look belum tentu relevan untuk aktivitas konsumen.
Masalah tersebut bukan alasan untuk menghindari celebrity trends. Yang dibutuhkan adalah sistem validasi yang lebih disiplin.

Bagaimana Brand Indonesia Bisa Mengadaptasi Jacob Elordi Effect?
Untuk pasar Indonesia, adaptasi sebaiknya dilakukan pada prinsip visual, bukan copy-paste wardrobe.
Kondisi iklim menjadi salah satu filter utama. Heavy coat, thick knitwear, atau multilayer styling mungkin menarik secara editorial tetapi memiliki penggunaan yang lebih terbatas dalam kehidupan sehari-hari di banyak wilayah Indonesia.
Brand dapat mengambil elemen yang lebih transferable, seperti:
- relaxed tailoring dengan fabric weight yang lebih ringan;
- straight atau relaxed denim;
- clean leather-look outerwear untuk penggunaan tertentu;
- loose shirt dengan breathable construction;
- loafers sebagai pengganti footwear yang terlalu formal;
- tonal color palette;
- layering ringan yang dapat dilepas.
Adaptasi ini juga dapat menjadi peluang desain lokal. Alih-alih mengejar kemiripan visual secara literal, brand dapat bertanya: “Apa kebutuhan konsumen Indonesia yang dapat diselesaikan oleh estetika ini?”
Jawabannya mungkin bukan coat oversized, tetapi lightweight jacket dengan proporsi serupa. Bukan heavy knit, tetapi fine-gauge knit yang lebih sesuai untuk temperatur tropis.
Pendekatan semacam ini membuat tren global menjadi input desain, bukan perintah produksi.
Bagaimana Mengubah Celebrity Trend Menjadi Strategi yang Lebih Aman?
Untuk brand yang ingin memanfaatkan fenomena celebrity style, pendekatan bertahap biasanya lebih rasional daripada langsung melakukan bulk production.
Mulai dari signal detection. Pantau elemen yang muncul berulang, bukan hanya satu outfit. Kemudian lakukan market validation melalui konten, styling content, sample photography, pre-order, limited drop, atau small-batch release sesuai model bisnis.
Setelah mendapatkan sinyal yang cukup, brand dapat melakukan product refinement berdasarkan data penjualan, feedback fit, return reasons, dan respons konsumen.
Barulah produk yang terbukti memiliki demand dapat dinaikkan volumenya.

Untuk brand kecil, metode ini bahkan dapat menjadi alternatif terhadap risiko membeli bahan dalam volume besar berdasarkan satu tren. Tidak semua tren harus dikejar. Kadang keputusan bisnis terbaik adalah menunggu sampai sinyal permintaan lebih jelas.
Common Mistakes: Ketika Brand Salah Membaca Celebrity Effect
Menganggap Viral Sama dengan Demand
Viralitas menunjukkan perhatian, bukan otomatis willingness to pay. Produk tetap harus melewati pertimbangan harga, fit, kualitas, occasion, dan availability.
Menyalin Outfit, Bukan Memahami Kodenya
Jika brand hanya meniru jaket, celana, dan sepatu dari satu foto, koleksi akan sangat bergantung pada konteks original. Memahami kode visual—proporsi, warna, material, dan styling—memberikan ruang adaptasi lebih besar.
Mengabaikan Product-Market Fit
Celebrity dapat mengenakan pakaian ekstrem untuk kebutuhan editorial. Konsumen biasa mungkin membutuhkan versi yang lebih wearable.
Membeli Inventory Terlalu Cepat
Trend-driven inventory memiliki risiko markdown jika demand tidak bertahan. Small-batch testing dapat memberikan informasi sebelum brand mengambil komitmen produksi lebih besar.
Menghilangkan Identitas Brand
Jika setiap celebrity trend langsung masuk ke koleksi, konsumen dapat kesulitan memahami apa yang sebenarnya membedakan brand tersebut.
Apa yang Sebenarnya Bertahan dari Jacob Elordi Effect?
Tidak semua bagian dari sebuah celebrity look memiliki umur yang sama.
Siluet ekstrem mungkin memiliki siklus lebih pendek. Sebaliknya, item seperti clean denim, relaxed trousers, white shirt, leather outerwear, dan loafers dapat memiliki relevansi lebih panjang karena sudah memiliki tempat dalam wardrobe pria.
Di sinilah brand perlu membedakan antara trend signal dan product opportunity.
Trend signal memberi petunjuk mengenai perubahan selera visual. Product opportunity adalah elemen yang dapat diterjemahkan menjadi produk dengan demand, margin, usability, dan lifecycle yang masuk akal.
Bagi fashion business, kategori kedua jauh lebih penting.
Jika sebuah estetika hanya bertahan karena satu figur, risiko komersialnya tinggi. Jika estetika tersebut terhubung dengan perubahan preferensi yang lebih luas—misalnya keinginan terhadap fit yang lebih relaxed atau wardrobe yang lebih versatile—peluang jangka panjangnya lebih menarik.
Apa Batas Pengaruh Selebriti terhadap Tren Fashion?
Pengaruh selebriti tidak berlangsung dalam ruang kosong.
Tren fashion dibentuk oleh banyak faktor: desainer, brand, media, stylist, retailer, subkultur, social media, ekonomi, teknologi, dan perubahan gaya hidup. Selebriti merupakan salah satu node dalam jaringan tersebut.
Karena itu, menyebut Jacob Elordi sebagai satu-satunya penyebab perubahan menswear akan terlalu menyederhanakan prosesnya.
Yang lebih tepat adalah melihatnya sebagai amplifier. Ketika suatu estetika sudah memiliki momentum budaya, figur dengan visibilitas tinggi dapat membuatnya lebih mudah dikenali oleh audiens yang lebih luas.
Sudut pandang ini lebih berguna untuk forecasting karena membantu brand menghindari atribusi yang terlalu sederhana.
FAQ Jacob Elordi Effect
Apa yang dimaksud dengan Jacob Elordi Effect?
Jacob Elordi Effect adalah istilah deskriptif untuk menggambarkan bagaimana gaya berpakaian Jacob Elordi dapat menjadi referensi yang diperhatikan, dibicarakan, atau diadaptasi oleh audiens dan industri fashion. Istilah ini bukan nama indeks resmi atau teori akademik. Pengaruh tersebut perlu dibedakan dari bukti bahwa sebuah produk benar-benar mengalami peningkatan penjualan akibat Elordi.
Apakah Jacob Elordi benar-benar menciptakan tren fashion pria?
Tidak tepat mengatakan bahwa Elordi menciptakan seluruh tren yang diasosiasikan dengannya. Banyak elemen seperti denim, tailoring, leather jackets, loafers, dan relaxed proportions sudah lama hadir dalam menswear. Pengaruh Elordi lebih tepat dipahami sebagai kontribusi terhadap visibility dan popularitas kombinasi atau interpretasi tertentu dari elemen tersebut.
Mengapa brand fashion tertarik pada gaya selebriti?
Brand tertarik karena celebrity style dapat menjadi sumber cultural signal dan membantu mengidentifikasi estetika yang sedang mendapat perhatian. Namun, sinyal tersebut belum sama dengan bukti demand. Brand tetap perlu menguji kesesuaian tren dengan target konsumen, harga, fit, material, produksi, dan positioning.
Apakah brand harus membuat produk yang sama dengan yang dipakai Jacob Elordi?
Tidak. Pendekatan yang lebih aman adalah mengidentifikasi elemen desain yang relevan lalu menerjemahkannya sesuai DNA brand dan kebutuhan konsumen. Misalnya, brand Indonesia dapat mengambil prinsip relaxed tailoring tetapi menggunakan konstruksi dan material yang lebih sesuai untuk iklim lokal.
Bagaimana cara mengetahui apakah celebrity trend layak diproduksi?
Brand dapat melihat kombinasi beberapa sinyal: frekuensi kemunculan tren, pencarian konsumen, engagement yang menunjukkan intent, respons terhadap sample atau content test, conversion, serta feedback setelah pembelian. Tidak ada satu metrik yang cukup untuk membuktikan demand karena setiap tahap funnel mengukur perilaku berbeda.
Apakah celebrity effect selalu menguntungkan brand?
Tidak. Celebrity effect dapat mempercepat awareness, tetapi juga dapat memperpendek siklus tren, meningkatkan risiko salah forecast, atau membuat brand terlalu bergantung pada figur tertentu. Efeknya paling berguna ketika celebrity reference digunakan sebagai salah satu input dalam proses validasi, bukan sebagai pengganti riset pasar dan product development.
Bagaimana brand kecil bisa memanfaatkan tren selebriti tanpa risiko stok besar?
Brand kecil dapat menguji tren melalui content testing, limited release, pre-order, atau produksi batch kecil sebelum melakukan replenishment. Model yang tepat bergantung pada cash flow, lead time supplier, MOQ, dan karakter produknya. Pendekatan bertahap membantu brand memperoleh sinyal demand sebelum mengunci modal dalam inventory besar.
Kesimpulan
Jacob Elordi Effect bukan tentang satu selebriti yang secara otomatis menentukan apa yang akan dipakai semua pria. Fenomena tersebut lebih berguna jika dipahami sebagai hubungan antara celebrity visibility, media attention, consumer interpretation, dan kemampuan industri menerjemahkan estetika menjadi produk.
Gaya Elordi menarik karena beberapa elemen yang digunakannya—tailoring relaxed, denim, leather outerwear, loafers, oversized proportions, dan basic pieces—mudah dikenali tetapi tetap dapat diadaptasi ke berbagai wardrobe.
Bagi brand, nilai terbesarnya bukan pada menyalin satu outfit. Yang lebih penting adalah membaca kode visual di balik outfit tersebut, menguji apakah kode itu relevan bagi target konsumen, lalu menerjemahkannya melalui desain, material, pricing, merchandising, dan komunikasi yang sesuai.
Dengan pendekatan itu, celebrity style dapat menjadi sumber insight tanpa membuat brand kehilangan kendali atas arah produknya.
Pada akhirnya, tren yang paling bernilai bukan selalu tren yang paling viral. Tren yang bernilai adalah tren yang dapat diterjemahkan menjadi produk yang relevan, dapat diproduksi, dapat dijual, dan tetap masuk akal bagi konsumen setelah perhatian terhadap selebritinya berkurang.



Comments 0
Leave a CommentSend Comment
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.