Article

Homepage Article Jahit Menjahit Proses Pembuatan Benang…

Proses Pembuatan Benang Tekstur Dengan Metode False Twist

Sempat menyimak artikel Fitinline tentang texturizing?. Sahabat Fitinline pasti tahukan kalau dalam proses pembuatan benang itu ada banyak sekali metode yang dapat digunakan. Salah satu yang akan kita bahas kali ini yaitu berupa false twist, suatu metode pembentukan crimp (efek keriting) pada benang dengan menggunakan puntiran palsu.

False Twisting

Sumber :  https://www.researchgate.net/

Metode false twist sendiri merupakan bagian dari jenis texturing termo-mekanik yang dilakukan dengan mengandalkan tenaga panas dan mekanik. Metode false twist umumnya banyak digunakan dalam industri tekstil, terutama dalam pemintalan serat sintetis (buatan). Metode false twist memiliki tingkat efisiensi antara 90-98 %.

False Twisting

Sumber : http://www.tikp.co.uk/

Prinsip Kerja Metode False Twist

  1. Benang filament diberikan puntiran (twist) lalu dipanaskan dengan suhu tertentu. Penentuan suhu pemanasan tergantung pada jenis serat benang filament.
  2. Benang filament akan tertahan di dalam heater selama waktu tertentu untuk mendapatkan twist permanen.
  3. Pemberian twist pada proses pembuatan benang ini umumnya disertai pula dengan pendinginan sehingga terbentuklah sifat-sifat benang staple pada benang filament tersebut, seperti elastisitas, friksi (crimp), dan bulk and cover.

False Twisting

Sumber : http://textileengineerr.blogspot.com/

Pada proses pembuatan benang tekstur dengan metode false twist setidaknya terdapat empat faktor yang berpengaruh yaitu berupa twist, tegangan benang, suhu pemanasan, dan waktu pemanasan.

Twist

Twist merupakan pemberian puntiran pada benang filament untuk mendapatkan efek tekstur berupa crimp. Twist berguna untuk memberikan ketahanan kepada benang agar tidak pecah saat proses weaving, selain itu juga berguna untuk memberikan efek "jatuh" serta meningkatkan daya tenun karena kain mempunyai masa jenis yang tinggi.

Dalam proses pembuatan benang, twist yang diberikan haruslah seimbang.

  • Jika terlalu besar kekuatan tarik dan daya mulur benang akan menurun, selain itu penampang benang akan melonjong.
  • Jika terlalu rendah jumlah bulu pada permukaan benang akan bertambah dan sifat bulk and cover-nya akan berkurang.

Tegangan Benang

Tegangan yang diberikan pada benang dapat diukur sebelum dan setelah benang diberi twist. Tegangan benang tidak hanya berpengaruh terhadap nomor benang, namun juga berpengaruh pada kehalusan benang, kekuatan, daya mulur, daya serap zat warna, serta jumlah crimp.

Suhu Pemanasan

Tinggi rendahnya suhu pemanasan tidak hanya berpengaruh pada penetrasi warna saat pencelupan tapi bisa juga mempengaruhi sifat benang lainnya.

  • Suhu yang terlalu tinggi biasanya akan membuat warna benang menjadi lebih muda, kekuatan tarik benang menurun, dan jumlah crimp meningkat.
  • Suhu yang terlalu rendah biasanya akan membuat warna benang menjadi lebih gelap,  kekuatan tarik benang menurun, begitu pula jumlah crimp ikut menurun.

Waktu Pemanasan

Waktu pemanasan merupakan waktu yang dibutuhkan untuk memanaskan benang di dalam heater. Selama benang berada di dalam heater akan terjadi perubahan karakteristik benang sebab crimp masih dapat berubah-ubah oleh perlakuan suhu.

  • Semakin lama waktu pemanasan densitas benang umumnya akan meningkat, sementara jumlah crimp yang diberikan pada benang menjadi semakin sedikit.
  • Bila waktu pemanasan terlalu lama, akan terjadi pemuaian yang besar dan dapat mengendurkan crimp yang sudah terbentuk sehingga crimp yang sudah ada menjadi berkurang.

Ketika proses pendinginan atau pemantapan benang berlangsung waktu tidak begitu berpengaruh sebab crimp yang dihasilkan sudah cukup stabil.

Semoga bermanfaat.

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.