Article

Homepage Article Batik Pewarna Alam

Pewarna Alam

Pembatik jaman dahulu memanfaatkan tumbuh-tumbuhan untuk diambil zat warnanya, sehingga sifat kain batik yang tercipta adalah ramah terhadap lingkungan dan ramah terhadap kulit manusia.  Banyak sekali jenis tanaman yang bisa dijadikan zat warna batik. Masing-masing bahan zat warna memiliki cara yang berbeda dalam pengerjaannya. Bisa melalui proses bejana (direbus), direct (langsung) atau melalui proses fermentasi (pembusukan).

1. Proses bejana 

Proses bejana yaitu dengan merebus bahan yang akan dijadikan zat warna alam. Dalam pembuatan larutan warna alam perlu disesuaikan dengan berat bahan yang akan diproses sehingga jumlah larutan zat warna alam yang dihasilkan cukup untuk mencelup. Banyaknya larutan warna alam yang dibutuhkan tergantung pada jumlah kain yang akan diwarnai. Perbandingan yang biasa digunakan adalah 1:30. Misalnya berat kain 100 gram maka kebutuhan warna alam adalah 3 liter. Bahannya bisa dari kulit kayu seperti mahoni, secang, tingi, jambal, dan masih banyak lagi.

Bahan pewaarna dari kulit kayu

Bisa juga dari daun rambutan, daun alpukat, daun jati, daun mangga dan masih banyak lagi bahan warna alam lainnya. 

Bahan pewarna dari daun

Ini resep untuk membuat warnanya:

  1. Timbang bahan warna alam yang dikehendaki
  2. Tiap 1 kg bahan warna alam direbus dengan 10 Liter air.
  3. Rebus dengan api panas hingga rebusan tadi menjadi ½ nya
  4. Setelah rebusan menjadi ½, biarkan larutan warna menjadi dingin, setelah larutan sudah dingin kemudian disaring lalu digunakan untuk mewarna kain.

Contoh batik warna alam secang, jalawe dan mahoni

 

Batik warna alam secang, jalawe dan mahoni

(Sumber gambar: http://archive.kaskus.co.id)

Contoh batik warna Jalawe dan mahoni

Batik warna Jalawe dan mahoni

(Sumber gambar: http://archive.kaskus.co.id)

Ingin belajar membatik? Klik Disini untuk melihat video tutorial membatik.

2. Proses direct (langsung)

Proses direct (langsung) yaitu bahan alam yang bisa langsung digunakan dengan cara ditumbuk atau diblender kemudian diambil air atau tumbukannya. Contohnya kunyit (kuning), daun katuk (hijau) dan daun suji (hijau).

Kunyit, Daun Katuk dan Daun Suji

Misal, untuk menghasilkan warna kuning dari kunyit diperlukan 1 kg kunyit lalu ditumbuk atau diblender kemudian tambahkan air secukupnya lalu saring airnya. Tambahkan 5 liter untuk pewarnaan satu helai kain (2 meter). Pemakaian daun suji maupun daun katuk pada prinsipnya memilki cara yang sama. Selain dengan proses direct biasanya bahan tersebut setelah ditumbuk/ diblender kemudian direbus, agar warna yang dihasilkan maksimal. Karena proses direct menghasilkan warna tipis tidak pekat.

Contoh Batik dengan Warna Alam dari Kunyit

Contoh Batik dengan Warna Alam dari Kunyit

(Sumber gambar: http://batikindonesia.com)

3. Proses fermentasi (pembusukan)

Proses fermentasi (pembusukan) yaitu dengan melakukan perendaman atau pembusukan daun atau kayu dalam air disertai proses-proses tertentu. Bahan yang digunakan adalah indigofera (tom/ tarum/ nila) yang menghasilkan warna biru.

Tanaman Indigofera (Tom/Tarum/Nila)

Ingin membeli alat-alat membatik? Klik Disini untuk mendapatkan alat-alat membatik.

Selain memerlukan waktu yang lebih lama, juga memerlukan tenaga yang lebih untuk menghasilkan pasta indigo. Jadi wajar jika harga sehelai kain batik warna biru indigo lebih mahal dibanding batik warna alam lainnya. Selain menghasilkan zat warna yang bagus, pewarna dari indigofera aman untuk lingkungan.

Resep untuk membuat Pasta Indigo:

  1. Siapkan 1 kg daun indigo segar (dengan rantingnya) direndam dalam 5 liter air, usahakan daun berada dibawah permukaan air.
  2. Setelah ± 10 jam, mulai terjadi proses fermentasi yang ditandai dengan adanya gelembung gas dan warna biru (larutan berwarna hijau). 
  3. Proses fermentasi selesai apabila gelembung gas tidak timbul lagi, dan air berwarna kuning kehijauan. Biasanya perlu waktu sekitar 24-48 jam. 
  4. Masukkan 20-30 gram bubuk kapur cair. 
  5. Rebus larutan selama ½ jam-1 jam. 
  6. Selama pengeburan, terjadi pembuihan hebat berwarna biru. Pengeburan dihentikan setelah tidak terjadi buih permanen dan berwarna biru pudar, yang merupakan indikasi bahwa indigo sudah mulai mengendap. Proses pengeburan dilakukan dengan cara mengambil larutan dengan gayung lalu menuangkan kembali larutan ke ember dengan ketinggian hingga menimbulkan buih-buih. 
  7. Diamkan cairan selama ± 24 jam (Proses Pengendapan). 
  8. Pisahkan air dari endapannya yang sudah berbentuk pasta (saring dengan kain halus). 
  9. Simpan pasta indigo pada tempat kering dan sejuk. Usahakan jangan terkena sinar matahari.

Pasta indigo perlu diolah menjadi zat warna Indigo sebelum digunakan:

  1. Larutkan 1 kg pasta indigo dalam ± 10 liter air. 
  2. Saring dan buang residunya. 
  3. Tambahkan ½ kg gula jawa cair dan satu genggam tunjung dan dicairkan. 
  4. Tambahkan 1 liter air kapur baru. 
  5. Aduk secukupnya sampai tercampur semua. 
  6. Diamkan dan tutup selama ± 24 jam. 
  7. Lihat bila cairan berwarna kuning kehijauan, berarti zat warna alam tersebut siap untuk digunakan. 

Kendala dalam penggunaan warna kain batik menggunakan zat warna alam adalah variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai. Sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna kain batik. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya. Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Peminat zat pewarna alami tidak hanya pembeli lokal, namun dari luar negeri, seperti Jepang.

Contoh hasil warna biru indigo:

Contoh warna biru indigo

Batik dengan warna indigo

(Sumber gambar: http://creative-kanawida.blogspot.com)

Ingin membeli batik tulis eksklusif? Klik Disini untuk melihat katalog kain batik.

Kini dengan melalui teknik modern, zat warna pada indigofera dijual dalam bentuk serbuk dengan merek dagang Gadjah Mada Indigo Natural Dye (Gama Indigo ND).

Gama Indigo ND

(Sumber gambar: http://natural-batik.blogspot.com)

Selain praktis digunakan, zat warna yang dihasilkan jauh lebih baik kualitasnya dibanding dengan zat warna alami tanaman indigofera yang diproduksi dengan cara tradisional. Warna yang dihasilkan tidak luntur.
Warna biru indigo bisa bertahan selama lebih dari 1 abad, bahkan warna akan semakin cerah karena terfiksasi oleh oksigen... Wouuw keren sekali yahhh...usia batik lebih panjang dari usia pemiliknya.... :)

Contoh batik dengan pewarna gama indigo nd

(Sumber gambar: http://natural-batik.blogspot.com)

Jika batik sebagai identitas bangsa dibuat dengan menggunakan pewarna alam, tentunya akan meningkatkan daya jual produk dalam negeri dan tetntunya meningkatkan devisa negara dan kesejahteraan masyarakat. Perlahan tapi pasti pewarna sintetis akan ditinggalkan karena merusak lingkungan dan berbahaya bagi kehidupan. Pewarna sintetis yang memiliki grup azo dicurigai sebagai penyebab kanker kulit. Hemmm harus hati-hati ya.... boleh tampil cantik tapi tak perlu mengorbankan lingkungan dan kesehatan juga kan....jadilah konsumen yang bijak dan cerdas memilih... :)

So, yuk cari bahan pewarna alam yang terdapat di sekitar kita dan lakukan beberapa eksperimen, siapatau bisa menemukan bahan dan warna baru. Selamat mencoba!

Mencari pewarna batik? Lihat katalognya Di sini.

Pewarna Batik

Tags: jual kain, jual kain batik, jual batik, jual kain batik murah, toko kain, toko kain batik, toko batik, toko batik online, toko kain batik online, beli kain, beli kain batik, beli batik, batik indonesia, belanja batik, belanja batik online, motif batik, harga batik

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.