Panduan Memilih Bahan Softshell: Jenis, Harga, dan Tips Perawatannya
Ringkasan
Memilih bahan softshell tidak cukup hanya melihat harga atau ketebalannya. Material yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan, kondisi lingkungan, anggaran, dan standar kualitas produk yang ingin dihasilkan. Dalam praktiknya, softshell tersedia dalam berbagai konstruksi, gramasi, dan kombinasi material yang memengaruhi kenyamanan, daya tahan, kemampuan menahan angin, hingga ketahanan terhadap air.
Bagi pelaku industri fashion, konveksi, maupun perusahaan yang memesan seragam, proses pemilihan bahan sebaiknya diawali dengan memahami spesifikasi teknis kain, bukan hanya nama dagangnya. Langkah tersebut membantu mengurangi risiko salah memilih material, menjaga konsistensi kualitas produksi, dan menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Selain itu, perawatan yang tepat juga berperan penting dalam mempertahankan performa bahan selama masa pakainya.
Mengapa Memilih Bahan Softshell Tidak Bisa Sembarangan?
Softshell merupakan kategori material yang memiliki banyak variasi. Dua kain yang sama-sama dipasarkan sebagai softshell belum tentu memiliki karakteristik yang identik.
Perbedaan tersebut dapat berasal dari:
- komposisi serat
- gramasi
- konstruksi kain
- kualitas laminasi
- jenis lapisan dalam
- proses finishing
- standar produksi masing-masing pabrik
Karena itu, proses pemilihan bahan sebaiknya dimulai dengan memahami fungsi produk yang akan dibuat. Jaket untuk pekerja lapangan tentu membutuhkan spesifikasi berbeda dibandingkan jaket komunitas atau merchandise perusahaan.
Sebelum membahas cara memilihnya, pembaca yang belum memahami karakter dasar material ini dapat membaca artikel apa itu bahan softshell, karakteristik, kelebihan, dan kegunaannya. Sedangkan pembahasan mengenai kelebihan dan kekurangannya telah dijelaskan pada artikel kelebihan dan kekurangan bahan softshell untuk jaket outdoor dan seragam lapangan.

Jenis Bahan Softshell yang Umum Digunakan
Bahan softshell tidak hanya dibedakan berdasarkan merek atau ketebalannya. Dalam industri tekstil, material ini dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah lapisan (layer), komposisi serat, gramasi, konstruksi kain, jenis lapisan dalam, hingga proses finishing. Setiap kombinasi tersebut akan memengaruhi kenyamanan, elastisitas, kemampuan menahan angin dan air, daya tahan, serta bobot pakaian.
Memahami berbagai jenis softshell akan membantu fashion brand, konveksi, maupun perusahaan memilih material yang paling sesuai dengan fungsi produk yang akan dibuat.
1. Berdasarkan Jumlah Lapisan (Layer)
Softshell 2 Lapis (2-Layer)
Softshell 2 lapis terdiri atas kain luar yang elastis dan lapisan dalam yang lembut tanpa membran khusus di bagian tengah. Konstruksi ini menghasilkan bahan yang ringan, lentur, dan memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga nyaman digunakan untuk aktivitas dengan mobilitas tinggi.
Karakteristiknya meliputi:
- Bobot ringan.
- Fleksibel dan nyaman dipakai.
- Breathability lebih baik.
- Cocok untuk cuaca sejuk atau aktivitas harian.
- Banyak digunakan pada jaket komunitas, apparel olahraga, dan merchandise perusahaan.
Softshell 3 Lapis (3-Layer)
Softshell 3 lapis memiliki struktur yang lebih kompleks karena terdiri atas lapisan luar, membran fungsional di bagian tengah—seperti Thermoplastic Polyurethane (TPU) atau Polytetrafluoroethylene (PTFE)—serta lapisan dalam berupa fleece.
Konstruksi ini memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap angin, kelembapan, dan suhu dingin.
Karakteristiknya antara lain:
- Windproof lebih baik.
- Water resistance lebih tinggi.
- Isolasi panas lebih optimal.
- Lebih tebal dibandingkan softshell 2 lapis.
- Cocok untuk jaket outdoor dan seragam lapangan.

2. Berdasarkan Komposisi Serat
Komposisi serat menentukan karakter dasar bahan, mulai dari daya tahan, elastisitas, hingga kenyamanan saat digunakan.
|
Komposisi Serat |
Karakteristik |
|
Polyester |
Tahan sinar UV, tidak mudah menyusut, cepat kering, dan mudah dirawat. |
|
Nylon (Poliamida) |
Memiliki ketahanan abrasi dan gesekan yang tinggi sehingga cocok untuk penggunaan berat. |
|
Elastane / Spandex (±3–10%) |
Memberikan elastisitas empat arah (4-way stretch) agar pakaian lebih nyaman mengikuti gerakan tubuh. |
Pada praktiknya, banyak bahan softshell menggunakan kombinasi polyester atau nylon dengan sedikit elastane untuk menghasilkan keseimbangan antara kekuatan dan fleksibilitas.
3. Berdasarkan Gramasi
Gramasi atau grams per square meter (GSM) menunjukkan berat kain dalam satu meter persegi. Semakin tinggi gramasinya, umumnya bahan akan terasa lebih tebal dan memiliki kemampuan isolasi panas yang lebih baik.
|
Gramasi |
Penggunaan Umum |
|
150–220 GSM |
Jaket lari, windbreaker, dan aktivitas aerobik tinggi. |
|
220–300 GSM |
Jaket outdoor, seragam lapangan, dan penggunaan harian. |
|
300–350+ GSM |
Jaket untuk lingkungan bersuhu rendah atau aktivitas outdoor yang membutuhkan perlindungan lebih tinggi. |
Pemilihan gramasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi penggunaan agar pakaian tetap nyaman dipakai.
4. Berdasarkan Konstruksi Kain
Selain jumlah lapisan, softshell juga dibedakan berdasarkan teknologi konstruksi kain yang digunakan. Perbedaan ini memengaruhi keseimbangan antara kenyamanan, sirkulasi udara, perlindungan terhadap cuaca, dan daya tahan material.
Stretch-Woven Softshell
Stretch-woven softshell dibuat menggunakan konstruksi tenun yang rapat tanpa membran khusus. Untuk meningkatkan perlindungan terhadap air, permukaannya biasanya diberi lapisan Durable Water Repellent (DWR) sehingga air cenderung membentuk butiran dan menggelinding di permukaan kain.
Jenis ini memiliki beberapa karakteristik berikut.
- Sangat elastis.
- Breathability sangat baik.
- Nyaman untuk aktivitas dengan intensitas tinggi.
- Hanya mampu menahan gerimis atau percikan air ringan.
- Tidak dirancang untuk hujan deras dalam waktu lama.
Stretch-woven softshell banyak dipilih untuk apparel olahraga, hiking ringan, bersepeda, dan aktivitas luar ruang yang membutuhkan keleluasaan bergerak.
Membrane Softshell
Membrane softshell menggunakan lapisan membran teknis di antara lapisan kain sehingga memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap angin dan air.
Dibandingkan stretch-woven, material ini menawarkan performa yang lebih tinggi, tetapi biasanya memiliki sirkulasi udara yang sedikit lebih rendah.
Karakteristiknya meliputi:
- Windproof yang lebih baik.
- Water resistance hingga waterproof, tergantung jenis membran dan konstruksi jahitan pada pakaian jadi.
- Cocok untuk kondisi cuaca yang lebih berat.
- Lebih kaku dibandingkan stretch-woven.
- Breathability sedikit lebih rendah.
Perlu diperhatikan bahwa kemampuan waterproof tidak hanya ditentukan oleh membran, tetapi juga dipengaruhi oleh proses laminasi, konstruksi pakaian, dan penggunaan seam sealing pada jahitan.
Ripstop Softshell
Ripstop softshell menggunakan pola tenunan kotak-kotak (ripstop weave) yang diperkuat untuk membantu membatasi penyebaran sobekan apabila kain mengalami kerusakan.
Karakteristik utama jenis ini meliputi:
- Ketahanan abrasi tinggi.
- Tidak mudah robek.
- Lebih tahan terhadap penggunaan berat.
- Cocok untuk aktivitas outdoor maupun pekerjaan lapangan.
- Umumnya digunakan pada apparel yang membutuhkan daya tahan tinggi.
Karena kekuatannya, ripstop softshell sering diaplikasikan pada jaket pendakian, pakaian kerja lapangan, tactical apparel, serta perlengkapan outdoor lainnya.

5. Berdasarkan Jenis Lapisan Dalam
Lapisan dalam berpengaruh terhadap kenyamanan, kemampuan menjaga suhu tubuh, serta bobot pakaian.
|
Lapisan Dalam |
Karakteristik |
|
Polar Fleece |
Hangat, lembut, dan paling banyak digunakan pada jaket softshell. |
|
Micro-fleece / Brushed Tricot |
Lebih tipis sehingga menghasilkan jaket yang lebih ringan. |
|
Grid Fleece |
Memiliki pola kotak-kotak yang membantu meningkatkan sirkulasi udara sekaligus mempertahankan kehangatan. |
6. Berdasarkan Proses Finishing
Tahap finishing merupakan perlakuan akhir pada permukaan kain untuk meningkatkan fungsi tertentu.
Beberapa finishing yang umum digunakan pada bahan softshell meliputi:
|
Jenis Finishing |
Fungsi |
|
Durable Water Repellent (DWR) |
Membantu air membentuk butiran sehingga tidak mudah meresap ke permukaan kain. |
|
Anti-Static Finish |
Mengurangi timbulnya listrik statis pada bahan sintetis. |
|
Anti-Microbial / Fast-Dry Treatment |
Membantu mengurangi bau akibat keringat serta mempercepat proses pengeringan kain. |
Perlu dipahami bahwa DWR berbeda dengan waterproof. DWR hanya membantu menolak air di permukaan kain, sedangkan kemampuan waterproof secara keseluruhan juga dipengaruhi oleh kualitas membran, proses laminasi, dan konstruksi pakaian jadi, termasuk penggunaan seam sealing pada jahitan.
Bagaimana Memilih Bahan Softshell yang Berkualitas?
Tidak ada satu jenis softshell yang paling baik untuk semua kebutuhan. Material terbaik adalah yang sesuai dengan fungsi produk dan target pengguna.
Berikut beberapa aspek yang layak diprioritaskan saat melakukan proses sourcing.
Periksa Komposisi Material
Komposisi serat menjadi salah satu indikator awal karakter kain.
|
Komposisi |
Karakter Umum |
|
Polyester |
Ekonomis, stabil, mudah dirawat |
|
Nylon |
Lebih kuat terhadap gesekan |
|
Polyester + Spandex |
Lebih lentur dan nyaman |
|
Nylon + Spandex |
Kombinasi kekuatan dan elastisitas |
Komposisi tersebut akan memengaruhi harga, kenyamanan, hingga daya tahan pakaian.
Sesuaikan Gramasi dengan Kebutuhan
Gramasi tidak menentukan kualitas, tetapi menentukan karakter penggunaan.
Sebagai gambaran:
- Gramasi ringan cocok untuk daerah tropis.
- Gramasi sedang banyak digunakan untuk jaket komunitas.
- Gramasi lebih tinggi sesuai untuk wilayah yang lebih dingin.
Pemilihan gramasi yang tepat akan meningkatkan kenyamanan pengguna tanpa membuat pakaian terasa berlebihan.
Perhatikan Kualitas Laminasi
Softshell merupakan material berlapis sehingga kualitas laminasi menjadi salah satu faktor yang paling penting.
Laminasi yang baik membantu menjaga lapisan tetap menyatu meskipun pakaian digunakan dan dicuci berulang kali.
Jika memungkinkan, lakukan uji sampel sebelum melakukan pembelian dalam jumlah besar.
Evaluasi Konsistensi Supplier
Selain kualitas kain, kemampuan supplier menjaga konsistensi produksi juga perlu diperhatikan.
Beberapa hal yang dapat ditanyakan kepada pemasok antara lain:
- apakah spesifikasi setiap batch tetap sama
- apakah warna dapat diproduksi ulang dengan konsisten
- bagaimana sistem quality control yang diterapkan
- apakah tersedia lembar spesifikasi teknis
- bagaimana kebijakan apabila ditemukan cacat produksi
Evaluasi ini sangat penting terutama bagi brand yang melakukan produksi secara berkala agar kualitas produk tetap konsisten.
Berapa Harga Bahan Softshell?
Jawaban singkatnya, tidak ada satu harga baku untuk bahan softshell. Kisaran harga dipengaruhi oleh spesifikasi kain, kualitas bahan baku, proses laminasi, hingga jumlah pembelian. Karena itu, dua kain yang sama-sama disebut softshell dapat memiliki selisih harga yang cukup besar.
Dalam praktik pengadaan bahan, supplier biasanya menawarkan beberapa kelas kualitas yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar, mulai dari kelas ekonomis untuk merchandise hingga kelas premium untuk apparel outdoor atau seragam operasional.
Daripada berfokus pada angka tertentu yang dapat berubah seiring waktu, lebih baik memahami faktor-faktor yang membentuk harga sebuah bahan softshell.
Faktor yang Memengaruhi Harga Softshell
Harga kain softshell umumnya dipengaruhi oleh kombinasi beberapa aspek berikut.
|
Faktor |
Dampaknya terhadap Harga |
|
Komposisi serat |
Nylon umumnya lebih mahal dibanding polyester |
|
Gramasi kain |
Kain lebih tebal biasanya membutuhkan lebih banyak bahan baku |
|
Jenis lapisan dalam |
Fleece berkualitas tinggi dapat meningkatkan biaya produksi |
|
Teknologi laminasi |
Laminasi yang lebih baik umumnya memiliki biaya lebih tinggi |
|
Finishing tambahan |
Water repellent atau perlakuan khusus dapat menambah harga |
|
Volume pembelian |
Pembelian dalam jumlah besar biasanya memperoleh harga lebih kompetitif |
|
Merek atau pabrik |
Produsen dengan standar kualitas tinggi sering menawarkan harga yang lebih tinggi |
Memahami faktor-faktor tersebut membantu tim purchasing mengevaluasi apakah perbedaan harga benar-benar sebanding dengan peningkatan kualitas yang ditawarkan.
Jangan Menentukan Supplier Berdasarkan Harga Saja
Dalam pengadaan bahan untuk produksi massal, selisih harga beberapa ribu rupiah per meter memang terlihat signifikan. Namun, keputusan yang hanya didasarkan pada harga dapat memunculkan biaya lain di kemudian hari.
Misalnya:
- tingkat cacat produksi meningkat
- warna antar batch tidak konsisten
- lapisan mudah mengelupas
- tingkat retur pelanggan bertambah
- umur pakai produk lebih pendek
Karena itu, evaluasi supplier sebaiknya mempertimbangkan keseimbangan antara harga, kualitas, kapasitas produksi, dan konsistensi pasokan.

Cara Merawat Bahan Softshell agar Tetap Awet
Perawatan yang tepat dapat membantu mempertahankan kenyamanan, tampilan, dan performa bahan softshell lebih lama. Meskipun termasuk material yang relatif mudah dirawat, beberapa kebiasaan dapat mempercepat penurunan kualitas lapisan pelindungnya.
Berikut beberapa langkah perawatan yang direkomendasikan.
Cuci Menggunakan Deterjen yang Lembut
Gunakan deterjen secukupnya dan hindari produk yang mengandung pemutih berbahan klorin apabila tidak direkomendasikan oleh produsen.
Bahan kimia yang terlalu keras dapat mempercepat penurunan fungsi lapisan pelindung pada beberapa jenis softshell.
Hindari Air Bersuhu Terlalu Panas
Air dengan suhu tinggi dapat memengaruhi daya rekat laminasi pada jenis softshell tertentu.
Apabila tidak terdapat petunjuk khusus pada label pakaian, pencucian menggunakan air bersuhu normal umumnya menjadi pilihan yang lebih aman.
Jemur di Tempat Teduh dengan Sirkulasi Udara Baik
Pengeringan secara alami membantu mengurangi risiko kerusakan akibat panas berlebih.
Sebaiknya hindari paparan sinar matahari yang terlalu lama apabila tidak diperlukan, terutama untuk menjaga warna pakaian tetap stabil.
Simpan dalam Keadaan Bersih dan Kering
Sebelum disimpan, pastikan jaket benar-benar kering agar tidak memicu bau tidak sedap maupun pertumbuhan jamur akibat kelembapan.
Untuk penyimpanan jangka panjang, gunakan hanger yang sesuai agar bentuk pakaian tetap terjaga.

Bagaimana Memilih Softshell Berdasarkan Kebutuhan Produk?
Setiap kategori produk memiliki kebutuhan material yang berbeda. Oleh karena itu, proses pemilihan softshell sebaiknya dimulai dari fungsi pakaian, bukan sekadar mengikuti tren.
Berikut gambaran umum yang dapat dijadikan referensi.
|
Jenis Produk |
Karakter Softshell yang Disarankan |
|
Jaket perusahaan |
Tampilan rapi, mudah dibordir, gramasi sedang |
|
Seragam teknisi |
Tahan angin, nyaman dipakai lama, mudah dirawat |
|
Merchandise premium |
Permukaan halus, warna konsisten, tampilan eksklusif |
|
Jaket komunitas |
Fleksibel, nyaman, pilihan warna beragam |
|
Apparel outdoor |
Breathability baik, perlindungan angin, bobot seimbang |
|
Aktivitas harian |
Ringan, nyaman, desain kasual |
Tabel tersebut bukan aturan mutlak. Spesifikasi akhir tetap perlu disesuaikan dengan target pengguna, kondisi lingkungan, dan anggaran produksi.
Kapan Sebaiknya Meminta Sampel Bahan?
Meminta sampel merupakan langkah yang sering diabaikan, padahal sangat penting untuk mengurangi risiko kesalahan spesifikasi.
Sebaiknya lakukan evaluasi sampel apabila:
- memesan dalam jumlah besar
- bekerja dengan supplier baru
- mengembangkan koleksi premium
- membutuhkan konsistensi warna
- memiliki standar kualitas tertentu dari klien
Melalui sampel, tim pengembangan produk dapat menilai langsung tekstur, ketebalan, elastisitas, kualitas laminasi, serta kecocokan material dengan desain yang akan diproduksi.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membeli Bahan Softshell
Memilih bahan softshell seharusnya menjadi bagian dari strategi pengembangan produk, bukan sekadar aktivitas pembelian kain. Sayangnya, masih banyak pelaku usaha yang hanya mempertimbangkan harga atau tampilan luar tanpa mengevaluasi spesifikasi teknisnya.
Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi.
Menganggap Nama Dagang Menunjukkan Kualitas
Banyak supplier menggunakan nama dagang yang berbeda untuk produk softshell mereka. Hal ini sering membuat pembeli berasumsi bahwa nama tertentu selalu menunjukkan kualitas yang lebih baik.
Padahal, kualitas bahan tetap harus dinilai berdasarkan spesifikasi teknis seperti:
- komposisi serat
- gramasi
- kualitas laminasi
- ketahanan warna
- kemampuan menahan angin
- karakter lapisan dalam
Karena itu, jangan hanya mengandalkan nama produk atau istilah pemasaran.
Tidak Meminta Sampel Produksi
Kesalahan berikutnya adalah langsung memesan dalam jumlah besar tanpa melakukan evaluasi terhadap sampel.
Melalui sampel, tim pengembangan produk dapat memeriksa:
- tekstur kain
- fleksibilitas
- warna aktual
- kualitas jahitan uji coba
- hasil bordir
- kenyamanan saat dikenakan
Langkah sederhana ini sering kali mampu menghindari kerugian yang jauh lebih besar ketika produksi massal dimulai.
Mengabaikan Konsistensi Pasokan
Bagi brand fashion yang memproduksi koleksi secara berkala, konsistensi bahan sama pentingnya dengan kualitas.
Perubahan gramasi, warna, atau tekstur antar batch dapat menyebabkan produk baru terlihat berbeda dari koleksi sebelumnya. Hal tersebut berpotensi memengaruhi kepuasan pelanggan maupun identitas merek.
Karena itu, selain mengevaluasi kualitas kain, pastikan supplier memiliki kemampuan menjaga konsistensi produksi dalam jangka panjang.
Checklist Memilih Bahan Softshell Berkualitas
Sebelum memutuskan pembelian, gunakan checklist berikut sebagai panduan sederhana.
|
Checklist |
Tujuan |
|
Menentukan fungsi utama produk |
Memilih spesifikasi yang sesuai |
|
Memeriksa komposisi serat |
Mengetahui karakter material |
|
Menyesuaikan gramasi |
Menjaga kenyamanan pengguna |
|
Mengecek kualitas laminasi |
Mengurangi risiko delaminasi |
|
Meminta sampel |
Memastikan kualitas aktual |
|
Membandingkan beberapa supplier |
Mendapatkan kombinasi harga dan kualitas terbaik |
|
Memastikan ketersediaan stok |
Menjaga kelancaran produksi berikutnya |
|
Membaca petunjuk perawatan |
Membantu mempertahankan performa produk |
Checklist ini dapat digunakan baik oleh fashion brand, konveksi, maupun perusahaan yang melakukan pengadaan seragam.

FAQ Seputar Memilih dan Merawat Bahan Softshell
Bagaimana cara mengetahui bahan softshell berkualitas?
Periksa spesifikasi teknisnya, bukan hanya tampilannya. Beberapa indikator yang dapat dievaluasi meliputi komposisi serat, gramasi, kualitas laminasi, kerapian permukaan kain, konsistensi warna, serta kemampuan supplier menyediakan spesifikasi yang jelas. Jika memungkinkan, lakukan uji sampel sebelum memesan dalam jumlah besar.
Apakah bahan softshell yang lebih mahal selalu lebih baik?
Tidak selalu. Harga yang lebih tinggi sering kali berkaitan dengan penggunaan bahan baku, teknologi laminasi, atau finishing yang lebih baik, tetapi bukan jaminan bahwa material tersebut paling sesuai untuk kebutuhan Anda. Pilihlah spesifikasi berdasarkan fungsi produk dan target pengguna.
Berapa lama umur pakai jaket berbahan softshell?
Umur pakai dipengaruhi oleh kualitas bahan, frekuensi penggunaan, cara pencucian, dan kondisi penyimpanan. Dengan penggunaan serta perawatan yang tepat, jaket softshell umumnya dapat mempertahankan kenyamanan dan tampilannya lebih lama dibandingkan jika dirawat secara kurang tepat.
Apakah softshell cocok untuk bordir logo perusahaan?
Ya. Permukaan luar softshell yang relatif halus membuat material ini banyak dipilih untuk seragam perusahaan karena mampu menghasilkan bordir yang rapi. Namun, teknik bordir tetap perlu disesuaikan dengan ketebalan kain agar hasilnya optimal.
Kapan waktu terbaik mengganti supplier bahan softshell?
Pertimbangkan evaluasi supplier apabila sering terjadi perubahan kualitas antar batch, keterlambatan pengiriman, kesulitan memperoleh spesifikasi teknis, atau meningkatnya tingkat cacat bahan. Konsistensi pasokan merupakan faktor penting dalam menjaga kualitas produk jadi.
Kesimpulan
Memilih bahan softshell tidak cukup hanya melihat harga atau tampilan permukaannya. Material yang tepat harus disesuaikan dengan fungsi produk, karakter pengguna, lingkungan pemakaian, serta standar kualitas yang ingin dicapai.
Selain memahami jenis dan karakteristik kain, pelaku industri fashion juga perlu mengevaluasi kualitas laminasi, komposisi serat, gramasi, konsistensi supplier, dan kemudahan perawatan. Pendekatan ini membantu menghasilkan produk yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memberikan performa yang sesuai dengan harapan konsumen.
Sebagai bagian dari strategi sourcing, proses evaluasi bahan sebaiknya dilakukan melalui pengujian sampel dan komunikasi yang jelas dengan pemasok. Langkah tersebut dapat mengurangi risiko produksi sekaligus menjaga kualitas koleksi dalam jangka panjang.



Comments 0
Leave a CommentSend Comment
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.