Pernah ada masa ketika logo Esprit identik dengan gaya kasual yang bersih, modern, dan optimistis. Brand ini hadir di hampir setiap pusat perbelanjaan besar dunia—terlihat aman, ramah, dan mudah diterima lintas generasi. Namun justru di situlah masalahnya bermula. Di tengah perubahan cepat industri fashion global, Esprit perlahan kehilangan arah strategi—dan relevansi.

Sumber: The Narrative Vintage
Kisah Esprit adalah cerita tentang bagaimana “cukup baik untuk semua orang” bisa berubah menjadi “tidak spesial bagi siapa pun”.
Dari California ke Dunia: Awal yang Sangat Kuat
Esprit didirikan pada tahun 1968 di California, Amerika Serikat, oleh Susie dan Doug Tompkins. Sejak awal, Esprit membawa semangat kebebasan khas West Coast: pakaian kasual, nyaman, dan berjiwa muda. Di era 1980–1990-an, Esprit berkembang pesat secara global—terutama di Eropa dan Asia.

Sumber: WWD
Branding Esprit kala itu sangat kuat. Logo ikonik rancangan desainer grafis ternama, kampanye visual yang optimistis, dan produk yang konsisten menjadikan Esprit simbol gaya hidup urban yang positif dan modern.
Esprit bukan brand paling murah, tapi juga bukan premium. Posisi “tengah” ini dulu menjadi keunggulan.
Ketika Dunia Fashion Berubah Lebih Cepat
Masalah Esprit mulai terasa ketika industri fashion memasuki fase percepatan. Fast fashion berkembang dengan sangat agresif, menawarkan desain yang lebih segar dengan harga lebih kompetitif. Di sisi lain, brand premium memperkuat identitas, kualitas, dan storytelling.
Esprit terjebak di antara dua dunia itu.

Sumber: Messy Nessy Chic
Desainnya terasa terlalu aman, terlalu generik, dan kurang berani mengambil risiko. Ketika tren berubah cepat, Esprit tetap berjalan dengan ritme lama. Akibatnya, koleksi-koleksi Esprit semakin sulit dibedakan dari brand lain di rak yang sama.
Strategi Global yang Terlalu Terpecah
Sebagai brand global, Esprit menghadapi tantangan kompleks: pasar Amerika, Eropa, dan Asia memiliki selera yang berbeda. Namun alih-alih memperkuat identitas inti lalu menyesuaikan secara lokal, Esprit justru terlihat kehilangan konsistensi.

Sumber: ELLE
Di beberapa negara, Esprit diposisikan sebagai brand keluarga. Di tempat lain, sebagai fashion kasual anak muda. Tanpa narasi global yang kuat, pesan brand menjadi kabur.
Konsumen pun mulai bertanya: sebenarnya Esprit itu brand untuk siapa?
Digitalisasi yang Terlambat
Saat brand lain agresif berinvestasi di e-commerce, data konsumen, dan pengalaman digital, Esprit bergerak terlalu hati-hati. Ketergantungan pada toko fisik tetap tinggi, sementara pengalaman online tertinggal.

Di era ketika konsumen ingin belanja cepat, personal, dan seamless, Esprit belum mampu menjawab ekspektasi tersebut dengan baik. Keterlambatan ini menjadi beban besar ketika pandemi mempercepat pergeseran ke belanja digital.
Penurunan Bisnis dan Krisis Terbuka
Tekanan finansial yang menumpuk akhirnya terlihat jelas pada pertengahan dekade 2020-an. Operasi Esprit di beberapa wilayah Eropa dilaporkan mengalami kesulitan serius, termasuk penutupan toko dan restrukturisasi besar-besaran. Pada 2024, unit Esprit di Eropa memasuki proses insolvensi, menandai titik kritis bagi keberlangsungan bisnis ritel fisiknya.
Langkah ini bukan kejutan total, melainkan puncak dari masalah struktural yang sudah lama dibiarkan.
Brand Tanpa Cerita di Era Storytelling
Di era modern, fashion bukan hanya soal pakaian, tetapi soal nilai, sikap, dan cerita. Brand yang bertahan adalah mereka yang tahu apa yang mereka perjuangkan—entah itu keberlanjutan, identitas budaya, atau inovasi desain.
Esprit, sayangnya, kehilangan suara khasnya. Ia tidak cukup vokal soal keberlanjutan, tidak cukup berani soal desain, dan tidak cukup kuat dalam membangun komunitas. Tanpa diferensiasi emosional, brand menjadi mudah tergantikan.
Upaya Bertahan: Lisensi dan Reposisi
Dalam beberapa tahun terakhir, Esprit mulai menggeser fokus dari ekspansi ritel ke pendekatan berbasis lisensi dan kemitraan. Strategi ini bertujuan mempertahankan nilai merek sambil mengurangi beban operasional.

Sumber: Machinas
Namun tantangan terbesarnya tetap sama: bagaimana mengembalikan makna Esprit di mata konsumen yang sudah berubah.
Pelajaran dari Kejatuhan Esprit
Kisah Esprit adalah pengingat bahwa skala global bukan jaminan ketahanan. Brand yang terlalu nyaman dengan identitas lama, tanpa keberanian berevolusi, akan tertinggal.
Fashion adalah industri emosi dan kecepatan. Tanpa arah strategi yang jelas, bahkan brand sebesar Esprit pun bisa kehilangan tempatnya.
Lebih dari Sekadar Penurunan Penjualan
Esprit bukan hanya cerita tentang angka dan laporan keuangan. Ini adalah kisah tentang identitas yang memudar. Tentang brand yang pernah dicintai karena kesederhanaannya, tetapi gagal menemukan makna baru di dunia yang menuntut kejelasan sikap.
Di era sekarang, netral bukanlah posisi aman. Dan Esprit membayar mahal karena terlalu lama berdiri di tengah.
Simak juga kisah Benetton: Ketika Iklan Kontroversial Mengaburkan Esensi Fashion jika kamu penasaran dengan sisi lain industri ini.
Comments 0
Leave a CommentSend Comment
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.