Di dunia fashion yang lama dikuasai standar Barat—proporsi sempurna, siluet feminin, dan keindahan yang “rapi”—Comme des Garçons datang seperti gangguan yang disengaja. Brand asal Jepang ini menolak definisi cantik yang mapan, menawarkan pakaian yang bolong, asimetris, bahkan tampak “rusak”. Namun justru dari keanehan itulah lahir cara baru memandang mode.

Sumber: Vogue
Hari ini, sulit membayangkan fashion kontemporer tanpa pengaruh Comme des Garçons. Ia mengubah bukan hanya bentuk pakaian, tetapi cara kita berpikir tentang keindahan.
1969–1973: Lahirnya Gagasan dari Tokyo
Comme des Garçons didirikan pada 1969 di Tokyo oleh desainer visioner Rei Kawakubo. Nama brand yang berarti “seperti anak laki-laki” diambil dari lirik lagu Prancis, mencerminkan ketertarikan Kawakubo pada identitas yang ambigu dan tidak terikat gender.

Sumber: Britannica
Awalnya, Kawakubo bukan lulusan sekolah mode. Ia belajar sastra dan seni di Universitas Keio, lalu bekerja sebagai stylist sebelum mulai merancang pakaian sendiri. Pada 1973, perusahaan resmi berdiri dan membuka toko pertama di Jepang. Sejak awal, tujuannya bukan mengikuti tren, melainkan menciptakan bahasa visual baru.
1981: “Hiroshima Chic” Mengguncang Paris
Titik balik terjadi pada 1981 ketika Comme des Garçons mempresentasikan koleksi di Paris untuk pertama kalinya. Pakaian serba hitam, robek, berlapis tak beraturan, dan jauh dari siluet feminin membuat kritikus terkejut. Media Barat menjulukinya “Hiroshima Chic”—istilah kontroversial yang menunjukkan betapa asingnya estetika tersebut bagi selera Eropa.

Sumber: centr-zoru
Bagi Kawakubo, pakaian tidak harus indah dalam arti tradisional. Ia ingin mengekspresikan emosi, ketegangan, dan realitas hidup modern. Tubuh bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk diajak berdialog dengan ruang.
Dekonstruksi sebagai Bahasa Utama
Sejak 1980-an hingga kini, Comme des Garçons dikenal dengan pendekatan dekonstruksi:
- jahitan dibiarkan terlihat
- bentuk tidak simetris
- proporsi dilebihkan atau dikempiskan
- bahan diperlakukan seperti objek seni

Sumber: Hypebeast
Kawakubo sering mengatakan ia tidak tertarik pada “fashion”, melainkan pada creation—penciptaan yang murni. Koleksinya lebih mirip pertanyaan filosofis daripada tren musiman.
Pendekatan ini membuka jalan bagi desainer lain seperti Yohji Yamamoto, Martin Margiela, hingga generasi avant-garde masa kini.
1990–2000-an: Dari Avant-Garde ke Ekosistem Global
Memasuki 1990-an, Comme des Garçons berkembang menjadi jaringan kreatif yang luas. Rei Kawakubo bersama suaminya Adrian Joffe membangun strategi bisnis unik:
- membuka toko eksperimental Dover Street Market (2004)
- meluncurkan lini difusi Comme des Garçons Play dengan logo hati ikonik
- kolaborasi dengan Nike, Converse, Supreme, hingga Louis Vuitton

Sumber: Hypebae
Langkah ini membuat gagasan avant-garde bisa hidup berdampingan dengan produk komersial tanpa kehilangan integritas.
Mengapa Comme des Garçons Begitu Berpengaruh?
Pengaruhnya melampaui bentuk pakaian:
1. Mengubah definisi keindahan – cacat bisa menjadi estetika
2. Mengaburkan gender – pakaian netral dari stereotip
3. Mode sebagai seni konseptual – runway sebagai ruang ide
4. Model bisnis kreatif – eksperimen dan komersial berjalan paralel
Banyak tren yang kini dianggap normal—oversize, unfinished look, layering ekstrem—berutang pada keberanian Kawakubo puluhan tahun lalu.
Tantangan di Era Sekarang
Di era media sosial yang serba cepat, Comme des Garçons tetap memilih jalur lambat dan intelektual. Brand ini jarang mengikuti algoritma, lebih percaya pada komunitas kreatif yang setia.

Sumber: dscene magazine
Tantangannya adalah menjaga relevansi tanpa menurunkan kompleksitas ide. Sejauh ini, Kawakubo berhasil: setiap musim koleksinya masih menjadi referensi utama diskusi mode dunia.
Warisan Rei Kawakubo
Rei Kawakubo tidak hanya mendirikan brand, tetapi sekolah pemikiran. Ia mengajarkan bahwa:
- pakaian bisa mengganggu, bukan menghibur
- identitas tidak harus stabil
- mode adalah cara berpikir, bukan dekorasi tubuh

Sumber: wikipedia
Pada 2017, Metropolitan Museum of Art New York bahkan menggelar pameran tunggal untuknya—kehormatan yang jarang diberikan pada desainer yang masih aktif.
Penutup: Keanehan yang Menjadi Standar
Apa yang dulu dianggap aneh kini menjadi bahasa global fashion. Comme des Garçons membuktikan bahwa kemajuan sering lahir dari penolakan terhadap norma.
Dari Tokyo ke Paris, dari 1969 hingga hari ini, brand ini terus mengingatkan bahwa mode terbaik bukan yang paling cantik—melainkan yang paling jujur.
Baca juga “Rick Owens: Estetika Gelap yang Mengubah Cara Dunia Melihat Keindahan” kalau kamu mau tahu sisi lain dari dunia fashion yang tak biasa.
Comments 0
Leave a CommentSend Comment
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.