Article

Homepage Article Tenun/Lurik Sejarah, Perkembangan dan…

Sejarah, Perkembangan dan Proses Pembuatan Sulaman Karawo Khas Gorontalo

Diantara sekian banyak kekayaan budaya Indonesia, ternyata Gorontalo punya kerajinan yang sangat istimewa yaitu berupa karawo. Salah satu alasan utama mengapa karawo ini disebut sebagai kerajinan yang istimewa adalah karena dari segi motif maupun teknik pembuatannya karawo memiliki keunikan tersendiri.

Definisi Sulaman Karawo

Karawo dapat didefinisikan sebagai sebuah produk seni budaya khas provinsi Gorontalo yang memiliki nilai seni sangat tinggi karena dibuat melalui proses penyulaman manual yang sangat rumit. Dengan motif yang bervariasi tidak heran jika karawo ini menjadi kerajinan tangan andalan di daerah Gorontalo. 

Sulaman Karawo

Sumber : http://komik.gorontalokab.go.id/

Prinsip dasar yang diterapkan untuk membentuk ornamen karawo pada bahan tekstil sendiri dapat dilakukan melalui proses pendesainan, pengirisan dan pencabutan bagian tertentu serat tekstil untuk membuat bidang dasar dan penyulaman kembali serat tekstil yang dicabut untuk membentuk motif-motif tertentu.

Sulaman Karawo

Sumber : https://www.bukalapak.com/

Khusus untuk proses desainnya, keterampilan membuat seni karawo hanya dikuasai oleh kaum wanita yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman Kerajaan di Gorontalo. Oleh karena itulah pekerjaan membuat seni karawo juga kerap dianggap sebagai simbol subordinasi kaum wanita Gorontalo.

Sulaman Karawo

Sumber : https://www.bukalapak.com/

Sejarah Sulaman Karawo

Catatan sejarah menyebutkan seni mokarawo atau membuat kain kerawang di Gorontalo sendiri konon sudah ada sejak tahun 1600-an jauh sebelum Belanda berkuasa di wilayah tersebut tepatnya pada tahun 1889. Kerajinan ini ditengarai muncul dari kreativitas wanita di Gorontalo untuk mengisi waktu luang.

Dari yang awalnya hanya dikerjakan sebagai pekerjaan sampingan, kerajinan karawo justru mampu berkembang secara dinamis dari waktu ke waktu. Sulaman inipun biasanya diaplikasikan pada pakaian wanita, baju koko pria, mukena, jilbab, pouch, sapu tangan, taplak meja, dasi dan lain sebagainya.

Kombinasi motif karawo dengan berbagai warna benang yang dipadukan pada bahan kain yang tepat tidak hanya menghasilkan sulaman kerawang yang bagus dan cantik, tetapi lebih dari itu dalam setiap motif yang ditampilkan juga terdapat nilai budaya yang merupakan ciri khas daerah Gorontalo.

Jenis-Jenis Sulaman Karawo

Berdasarkan jenisnya terdapat dua kerajinan tangan khas Gorontalo yang dikenal hingga saat ini yaitu berupa karawo manila dan karawo ikat.

1. Karawo Manila

Karawo manila dibuat dengan teknik mengisi benang sulam secara berulang sesuai dengan motif yang sudah ada. Sulaman karawo manila ini banyak dijual dipasaran dan mudah ditemukan pada bahan tekstil yang akan dibuat busana, baik busana kerja maupun busana pesta.

2. Karawo Ikat

Pembuatan karawo ikat dilakukan dengan cara mengikat bagian-bagian bahan yang telah diiris dan dicabut serat benangnya mengikuti motif yang telah dibuat. Sulaman karawo ikat ini biasanya banyak digunakan sebagai bahan taplak meja, sarung bantal dan sarung kursi.

Perkembangan Sulaman Karawo

Bila ditelusuri lebih jauh lagi dinamika perkembangan seni karawo pada prinsipnya terjadi melalui beberapa fase dan didukung oleh berbagai faktor yang saling mempengaruhi. Berikut pembahasan lebih lengkap mengenai fase-fase perkembangan seni karawo dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.

1. Sebagai Aktivitas Berkesenian

Keberadaan sulaman karawo sebagai kesenian tradisional awalnya bukanlah diniatkan untuk kepentingan komersial atau menjadi sebuah identitas budaya seperti yang dikenal sekarang, tapi seni karawo ini justru muncul dari kreativitas individu.

Bukti bahwa kerajinan karawo ini merupakah hasil dari aktifitas berkesenian yaitu:

  • Pembuatan seni karawo biasanya hanya dilakukan sebagai pengisi waktu luang bagi kaum wanita setelah mereka menyelesaikan pekerjaan pokok.
  • Tidak ditemukan adanya indikasi atau jejak-jejak seni karawo dalam kehidupan kaum bangsawan Gorontalo, baik pada pakaian atau benda lainnya.
  • Seni karawo muncul dari kalangan masyarakat pedesaan dalam rangka memenuhi kebutuhan primer yakni untuk mendapatkan unsur keindahan.

2. Sebagai Kegiatan Adat

Seni karawo bukanlah termasuk ke dalam jenis kesenian tradisional yang terlibat langsung untuk mendukung pelaksanaan kegiatan adat-istiadat Gorontalo, namun seni karawo memiliki potensi untuk mendukung kelestarian adat.

Salah satu potensi seni karawo dalam mendukung adat adalah kerumitannya dalam proses pengerjaannya yang memerlukan ketekunan, kesabaran, ketelitian dan waktu yang lama.
Potensi inilah yang dimanfaatkan untuk membatasi pergaulan para gadis di luar rumah agar selalu dalam pengawasan orang tuanya.

3. Sebagai Komoditas

Potensi seni karawo sebagai komoditas pertama-tama disadari oleh pedagang keturunan Cina yang bermukim di Gorontalo. Berangkat dari situlah karawo yang semula hanya dibuat sebagai ekspresi seni individu lambat laun mulai diperjual belikan.

  • Berkembangnya seni karawo sebagai komoditas memunculkan profesi baru yakni desainer motif karawo, yang khusus mendesain motif-motif seni karawo sebelum diwujudkan pada bahan kain.
  • Munculnya profesi desainer motif seni karawo ini merupakan faktor internal yang sangat menentukan perkembangan seni karawo selanjutnya.

4. Sebagai Simbol Identitas Budaya

Munculnya motif-motif lokal Gorontalo yang kaya dengan nilai adat berpeluang untuk menjadikan seni karawo sebagai identitas budaya suku Gorontalo. Dalam konteks ini keberadaan seni Karawo tidak saja dimaknai sebagai komoditas tetapi juga sebagai simbol identitas budaya.

  • Munculnya seni karawo sebagai simbol identitas dan kesenian khas Gorontalo mendapat sambutan yang hangat dan dukungan luas dari masyarakat, terutama di kalangan anak muda.
  • Popularitas dan rasa bangga masyarakat Gorontalo terhadap seni karawo menimbulkan optimisme yang makin kuat bagi para pekerja seni karawo, karena profesi dan kreativitasnya merasa dihargai dan dibutuhkan.
  • Hadirnya motif-motif seni karawo yang dikreasi dari ikon-ikon lokal itu, niscaya akan menambah kekhasan seni karawo sehingga menguatkan citranya sebagai identitas budaya suku Gorontalo.

5. Sebagai Budaya Massa

Eksistensi seni karawo sebagai identitas seni budaya Gorontalo dengan bentuk yang unik dan makin variatif menjadikan masyarakat dan pemerintah Gorontalo merasa memiliki kewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan seni karawo dalam berbagai kegiatan yang lebih masif.

Salah satu kegiatan penting yang merepresentasikan gerakan masif dalam mengembangan dan promosi seni karawo secara massal yaitu berupa penyelenggaraan festival karawo yang biasanya digelar pada akhir tahun dalam bentuk karnaval, lomba foto karawo, sampai lomba motif karawo.

Pembuatan Sulaman Karawo

Kain sulam karawo memang bukan kain sulam biasa karena tingkat kesulitan untuk membuatnya bisa dikatakan sangat tinggi dan memerlukan ketelitian serta ketekunan luar biasa dari pembuatnya. Butuh waktu 10 hari bahkan sebulan untuk membuat satu produk sulaman dengan motif besar.

Terkait dengan proses produksinya, dalam pembuatan sulaman karawo sendiri sedikitnya diperlukan tiga pengrajin wanita yang terlibat untuk melakukan tugas yang berbeda-beda.

  1. Orang pertama bertugas membuat pola yang diawali digambar di atas kertas.
  2. Selanjutnya dengan menyesuaikan pola di kertas, orang kedua bertugas sebagai pengiris atau pengurai benang pada bahan kain yang akan dibuat sulam karawo.
  3. Terakhir orang ketiga bertugas sebagai penyulam bahan kain yang sudah diurai benang-benangnya.

Pekerjaan terberat dalam membuat kerajinan karawo terdapat di bagian pengiris atau pengurai benang, karena memerlukan tingkat ketelitian dan ketekunan tersendiri agar tidak menimbulkan kesalahan sedikitpun. Semakin halus jenis kain seperti kain sutra, tingkat kesulitan pengiris atau pengurai makin berat.

Berdasarkan urutannya, tahapan pengerjaan sulaman karawo khas Gorontalo ini secara umum dapat dikelompokkan menjadi beberapa tahap, yakni berupa pemilihan bahan kain, pembuatan desain, tahap iris cabut benang, menyulam dan proses finishing.

1. Pemilihan Kain

Sebelum membuat kerajinan karawo pertama-tama anda harus memilih dahulu bahan kain yang akan dipakai sebagai media sulam. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal sebisa mungkin pilih bahan kain yang mempunyai serat vertikal dan horizontal seperti halnya katun, linen, sutra dan bahan kain lain yang sejenis.

Sulaman Karawo

Sumber : https://www.onlinefabricstore.net/

2. Pembuatan Desain

Proses pembuatan desian menjadi salah satu proses yang sangat penting dalam membuat sulaman karawo. Dalam hal ini pengrajin bisa mencontek desain motif sulaman yang sudah ada atau menciptakan kreasi motif baru yang sesuai dengan filosofi budaya Gorontalo.

Sulaman Karawo

Sumber : https://gorontaloholiday.wordpress.com/

3. Tahapan Iris Cabut

Berlanjut ke tahap berikutnya yaitu tahapan iris cabut. Dalam proses iris cabut benang, batas dan luas bidang yang akan dibentuk berdasarkan pola yang sudah ditentukan. Ketajaman dan kecermatan menghitung benang-benang yang akan diiris dan dicabut sangat menentukan kehalusan sulaman.

  • Pengrajin akan menghitung jumlah lubang yang akan diiris sesuai dengan ukuran motif yang akan disulam.
  • Selesai menghitung benang, pengrajin akan mengiris benang satu per satu dengan sangat teliti. Bila salah iris maka pekerjaan ini dianggap gagal.
  • Setelah benang diiris dan dicabut satu per satu, agar tersedia ruang-ruang kosong yang nantinya akan diisi dengan benang lainnya.

4. Tahapan Menyulam

Tahapan menyulam pada bahan kain dilakukan dengan cara menelusurkan benang mengikuti arah jalur benang. Pada tahap ini pengrajin dapat melakukan pekerjaan karawo dengan dua metode yaitu:

  • Melakukan karawo/mengisi motif terlebih dahulu kemudian sisa yang tidak diberi motif diikat.
  • Melakukan ikat terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan karawo/mengisi motif.

Semakin penuh lilitan benang dalam satu lubang pada proses karawo maka harga sulaman tersebut akan bernilai tinggi.

Sulaman Karawo

Sumber : https://www.webstagramsite.com/

5. Tahapan Finishing

Sebagai penyelesaian akhir perlu dilakukan tahapan finishing dengan cara melilit jalur-jalur benang dengan satu kali lilitan. Hal itu dimaksudkan untuk memperkuat jalur benang yang tidak disulam sehingga hasil akhir sulaman terlihat rapi, kokoh dan kuat.

Motif Sulaman Karawo

Keindahan motif karawo ditambah dengan kualitas produknya yang bagus tidak dapat dipungkiri memang membuat kerajinan karawo bernilai sangat tinggi. Motif atau ragam hias yang ditampilkan dalam tiap sulaman inipun juga memiliki nilai filosofi tersendiri yang bersumber dari seni budaya Gorontalo.

Berdasarkan corak atau ragam hiasnya sulaman karawo sendiri secara umum daat dibedakan menjadi empat jenis motif yaitu berupa motif flora, motif fauna, motif geometris dan motif alam. Dari ke empat jenis motif tersebut lahir pula berbagai kreasi motif lain baik itu berupa motif tunggal atau motif kombinasi.

  1. Motif tunggal merupakan motif yang merepresentasikan suatu bentuk benda nyata atau simbol budaya yang sederhana dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah motif.
  2. Motif kombinasi adalah motif yang terbentuk dari beberapa motif tunggal yang dipadukan hingga membentuk ragam hias yang cantik dan menarik.

Beberapa contoh motif sulaman yang banyak diapliksikan pada kerajinan karawo khas Gorontalo dan biasa digunakan pada acara adat setempat seperti pernikahan (pelamaran, akad nikah dan ngunduh mantu), perkabungan (kematian), penerimaan tamu maupun penobatan diantaranya:

  1. Motif pohon pinang memiliki makna lurus, pengayom dan jujur.
  2. Motif makuta atau mahkota memiliki makna berguna bagi orang lain.
  3. Motif buaya memiliki makna hukum dan nasehat.
  4. Motif tali atau simpul memiliki makna persaudaraan.
  5. Motif kelapa memiliki makna kemuliaan, keteguhan, kokoh, menyatu, pribadi yang baik, jujur, halus budi bahasa, amanah, teladan, bijaksana dan berbagi.
  6. Motif pahangga atau gula aren memiliki makna status manusia.
  7. Motif alikusu atau gapura memiliki makna memegang teguh agama, semangat hidup, memberi sumbangsih bagi dunia.
  8. Motif lale atau janur memiliki makna pemimpin yang mencintai rakyatnya.
  9. Motif pisang memiliki makna semangat hidup dan memberi sumbangsih bagi dunia.
  10. Motif tebu memiliki makna hangat, ekspresif dan keras kepala.
  11. Motif senjata aliyawo memiliki makna berbahaya seperti ular berbisa dan agresif.
  12. Motif senjata eluto memiliki makna berbahaya.
  13. Motif senjata baladu memiliki makna berwibawa dan perkasa.
  14. Motif senjata pito memiliki makna aman dan tidak berbahaya.
  15. Motif senjata sabele memiliki makna teguh memegang agama.
  16. Motif senjata sumala memiliki makna agresif.
  17. Motif senjata banggo memiliki makna idealis.
  18. Motif senjata bitu’o memiliki makna selalu ingin menang.
  19. Motif senjata wamilo memiliki makna lemah lembut dan bahagia.
  20. Motif senjata badi memiliki makna perkasa dan berbahaya.
  21. Motif tombak yilambua memiliki makna bangsawan.
  22. Motif tombak pumbungo memiliki makna bersemangat, pantang mundur dan bersatu.
  23. Motif senjata tadui-dui memiliki makna keperkasaan.
  24. Motif kepingan mata uang memiliki makna keuletan dan keterampilan.
  25. Motif pala dan cengkih memiliki makna ketegaran hidup.

Merawat Sulaman Karawo

Ingin membeli kerajinan karawo tapi bingung bagaimana cara merawatnya?. Supaya sulaman karawo tetap awet dan dapat digunakan sebagaimana mestinya pastikan cara perawatan yang anda lakukan juga sudah tepat ya. Salah satu teknik perawatan yang paling mudah yaitu biasakan mencuci bahan yang di sulam dengan tangan.

  1. Supaya kualitas sulaman tetap bagus, sebaiknya selalu cuci bahan yang disulam tersebut dengan menggunakan tangan.
  2. Untuk membersihkan kotoran yang mungkin sulit untuk dihilangkan, anda bisa merendamnya dengan air hangat dan detergen selama 10 menit untuk menjaga kelembutan serat bahan kain.
  3. Jika kebetulan anda kehabisan detergen gunakan shampoo atau sabun yang dikucekkan lebih dulu pada bahan kain yang terkena noda.
  4. Setelah selesai dicuci, anda bisa menjemurnya dengan cara menyembunyikan bagian yang bersulam agar tidak mudah kusam dan menjadi pudar.
  5. Usai dikeringkan setrika dengan suhu sedang lalu simpan ditempat yang tidak lembab dan bersih.
  6. Untuk menjaga kesegarannya anda bisa menyemprotkan wewangian yang beraroma harum.

Demikian pembahasan singkat mengenai sejarah, perkembangan dan beberapa contoh motif yang biasa diaplikasikan pada sulaman karawo khas Gorontalo. Kalau sahabat Fitinline mau tahu lebih banyak lagi tentang sejarah dan ragam kain tradisional Indonesia yang tidak kalah menarik simak terus artikel dari kami ya.

Mencari bahan kain tradisional berkualitas dengan harga murah untuk membuat pakaian maupun produk pelengkap fashion lainnya?. Sebagai bahan pertimbangan anda bisa melihat-lihat dulu koleksi bahan kain tradisional dari kami Di Sini.

Semoga bermanfaat.

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.