Philips | Hair Dryer 8000 BLDC | Pengering Rambut

Article

Homepage Article Fashion Design Perencanaan Stok dalam Sistem…

Perencanaan Stok dalam Sistem Beli Putus: Mengendalikan Risiko Barang Tidak Terjual

Ringkasan

Perencanaan stok dalam sistem beli putus merupakan proses menentukan jumlah, variasi, dan waktu pembelian produk berdasarkan kebutuhan pasar serta kemampuan penjualan. Karena pembeli melakukan pengadaan barang dengan harga yang telah disepakati dan menanggung konsekuensi komersial sesuai ketentuan transaksi, kesalahan memperkirakan permintaan dapat meningkatkan risiko penumpukan persediaan. Untuk mengendalikannya, bisnis fashion perlu menganalisis data penjualan, menentukan komposisi ukuran dan warna, mengatur jumlah pembelian awal, serta mengevaluasi perputaran stok secara berkala.

Mengapa Perencanaan Stok Penting dalam Sistem Beli Putus?

Sistem beli putus memberikan kesempatan kepada retailer atau distributor untuk membeli produk dari brand atau pemasok, kemudian menjualnya kembali melalui jaringan penjualan masing-masing. Pola ini dapat mendukung pengembangan bisnis, tetapi juga membutuhkan perhitungan persediaan yang cermat.

Berbeda dengan pola kerja sama yang memungkinkan barang dikembalikan atau dibayarkan setelah terjual berdasarkan ketentuan tertentu, pembelian putus pada umumnya membuat pembeli harus mengelola produk yang sudah dibeli sebagai persediaannya sendiri. Konsekuensi komersialnya dapat berupa kebutuhan modal yang tertahan pada barang, biaya penyimpanan, dan risiko produk tidak terjual sesuai target.

Dalam industri fashion, persoalan tersebut semakin kompleks karena permintaan tidak hanya dipengaruhi oleh jenis produk. Ukuran, warna, model, bahan, tren, musim, hingga karakteristik konsumen turut menentukan kecepatan penjualan.

Sebagai contoh, sebuah retailer membeli 300 potong pakaian dari satu koleksi. Jumlah tersebut mungkin terlihat sesuai dengan target penjualan secara keseluruhan. Namun, jika komposisi ukuran dan warnanya tidak sesuai dengan preferensi pelanggan, sebagian produk dapat bergerak lebih lambat dibandingkan variasi lainnya.

Artinya, perencanaan stok tidak cukup hanya menjawab pertanyaan berapa banyak produk yang harus dibeli. Bisnis juga perlu menentukan produk apa yang dibutuhkan, variasi mana yang perlu diprioritaskan, kapan pembelian dilakukan, dan bagaimana persediaan dievaluasi setelah barang diterima.

Risiko Stok Berlebih dalam Bisnis Fashion

Stok berlebih atau overstock terjadi ketika jumlah persediaan lebih besar daripada kebutuhan penjualan dalam periode tertentu. Kondisi ini dapat terjadi karena perkiraan permintaan terlalu tinggi, pembelian tidak disesuaikan dengan data penjualan, atau bisnis kurang memperhitungkan perubahan preferensi konsumen.

Dalam sistem beli putus, stok berlebih dapat menimbulkan beberapa konsekuensi.

  • Modal tertahan: dana yang digunakan untuk membeli produk belum kembali melalui penjualan.
  • Biaya penyimpanan meningkat: persediaan membutuhkan ruang, pengelolaan, dan pemeliharaan.
  • Risiko penurunan nilai produk: model atau warna tertentu dapat kehilangan daya tarik ketika tren berubah.
  • Kebutuhan diskon: produk yang bergerak lambat mungkin harus dijual dengan potongan harga untuk mempercepat perputaran.
  • Keterbatasan ruang untuk koleksi baru: persediaan lama dapat mengurangi kapasitas penyimpanan bagi produk berikutnya.

Risiko tersebut tidak selalu berarti pembelian dalam jumlah besar harus dihindari. Pembelian dalam kuantitas besar dapat memberikan keuntungan harga atau efisiensi pengadaan. Namun, manfaat tersebut perlu dibandingkan dengan kemampuan penjualan dan biaya yang muncul selama persediaan belum terjual.

Persediaan pakaian dalam jumlah besar yang tersimpan di gudang retailer sebagai ilustrasi risiko stok berlebih dalam sistem beli putus

Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Stok Produk Fashion

Sebelum menentukan jumlah pembelian, bisnis perlu memahami faktor yang memengaruhi kebutuhan persediaan. Setiap jenis produk memiliki karakteristik permintaan yang berbeda sehingga pendekatan perencanaan tidak bisa disamaratakan.

1. Pola Penjualan Produk

Data penjualan menjadi salah satu dasar paling penting dalam menentukan kebutuhan stok. Melalui data tersebut, bisnis dapat melihat produk yang memiliki permintaan tinggi, produk yang bergerak lambat, serta variasi yang paling sering dibeli pelanggan.

Misalnya, sebuah toko menjual tiga jenis atasan. Model A terjual rata-rata 80 potong per bulan, model B sebanyak 45 potong, dan model C sebanyak 20 potong. Data ini dapat menjadi titik awal untuk menentukan prioritas pembelian berikutnya.

Namun, angka penjualan perlu dibaca bersama konteksnya. Produk yang hanya tersedia selama satu minggu tentu tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan produk yang tersedia sepanjang bulan. Begitu pula produk yang terjual karena promosi besar-besaran perlu dianalisis secara terpisah dari penjualan normal.

2. Karakteristik Ukuran dan Warna

Produk fashion memiliki variasi yang membuat perencanaan stok lebih rumit daripada sekadar menghitung jumlah unit. Satu model pakaian dapat memiliki beberapa ukuran dan warna, sedangkan setiap variasi belum tentu memiliki tingkat permintaan yang sama.

Retailer perlu memeriksa komposisi penjualan berdasarkan variasi produk. Sebagai contoh, ukuran M dan L mungkin lebih sering terjual pada satu kategori pakaian, tetapi komposisinya dapat berbeda pada kategori lain.

Hal serupa berlaku untuk warna. Warna netral dapat memiliki pola permintaan yang berbeda dari warna musiman atau warna yang sedang populer. Karena itu, komposisi pembelian perlu mempertimbangkan riwayat penjualan dan karakteristik target konsumen.

3. Tren dan Siklus Koleksi

Produk fashion memiliki siklus penjualan yang dipengaruhi oleh perubahan tren dan pergantian koleksi. Model tertentu mungkin memiliki permintaan tinggi pada awal peluncuran, kemudian melambat setelah muncul koleksi baru.

Kondisi ini membuat waktu pembelian menjadi penting. Retailer perlu memperkirakan apakah produk akan tetap relevan selama periode penjualan yang direncanakan.

Untuk produk dasar seperti kaus polos atau kemeja dengan desain klasik, pola permintaannya mungkin lebih stabil dibandingkan produk yang sangat mengikuti tren. Meski demikian, asumsi tersebut tetap perlu diuji menggunakan data penjualan masing-masing bisnis.

4. Waktu Pengadaan dan Pengiriman

Waktu antara pemesanan dan penerimaan barang juga memengaruhi jumlah stok yang perlu disiapkan. Jika proses pengadaan membutuhkan waktu lama, bisnis harus memperhitungkan kebutuhan persediaan selama menunggu pesanan berikutnya.

Sebaliknya, pemasok dengan waktu pemenuhan yang lebih singkat dapat memberi ruang bagi retailer untuk melakukan pembelian secara lebih bertahap.

Waktu pengadaan perlu dihitung secara realistis, termasuk proses konfirmasi pesanan, persiapan barang, pengiriman, dan penerimaan. Jika hanya menghitung waktu perjalanan barang, retailer berisiko terlambat mengisi kembali produk yang dibutuhkan.

Noir Voix Condenser Microphone USB Type-C with RGB Streaming&Gaming

5. Kapasitas Modal dan Penyimpanan

Jumlah pembelian juga perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan fasilitas penyimpanan. Pembelian yang terlalu besar dapat mengurangi dana yang tersedia untuk kebutuhan operasional lain.

Selain modal pembelian, bisnis perlu memperhitungkan biaya penyimpanan, tenaga kerja, pengemasan, dan pengelolaan persediaan. Produk fashion yang membutuhkan penanganan khusus juga dapat menambah beban operasional jika disimpan terlalu lama.

Cara Menentukan Jumlah Pembelian yang Lebih Terukur

Penentuan kuantitas pembelian sebaiknya dilakukan melalui kombinasi data penjualan, perkiraan permintaan, waktu pengadaan, dan kemampuan usaha. Tidak ada satu angka yang selalu tepat untuk seluruh retailer karena setiap bisnis memiliki karakteristik pasar serta kapasitas operasional berbeda.

1. Menghitung Rata-Rata Penjualan

Langkah awal adalah menghitung rata-rata penjualan dalam periode tertentu. Periode analisis dapat berupa mingguan atau bulanan, bergantung pada karakteristik produk dan frekuensi transaksi.

Rumus sederhana yang dapat digunakan:

Contohnya, sebuah toko menjual 240 potong kemeja selama tiga bulan. Rata-rata penjualan bulanannya adalah:

Angka tersebut dapat digunakan sebagai dasar perkiraan kebutuhan berikutnya. Namun, retailer perlu memeriksa apakah penjualan selama tiga bulan tersebut relatif stabil atau mengalami kenaikan dan penurunan yang cukup besar.

2. Memperkirakan Permintaan Selama Waktu Pengadaan

Setelah mengetahui rata-rata penjualan, bisnis perlu memperkirakan kebutuhan barang selama waktu pengadaan atau lead time.

Rumus sederhana:

Misalnya, sebuah retailer menjual rata-rata 4 potong pakaian per hari. Pemasok membutuhkan waktu 10 hari untuk memenuhi pesanan. Perkiraan kebutuhan selama waktu pengadaan adalah:

Artinya, retailer perlu memperhitungkan kebutuhan sekitar 40 potong selama menunggu barang berikutnya tersedia. Perhitungan ini merupakan pendekatan dasar dan belum memasukkan variasi permintaan maupun stok pengaman.

3. Menentukan Stok Pengaman

Stok pengaman atau safety stock merupakan persediaan tambahan untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan dan waktu pengadaan.

Keberadaan stok pengaman dapat membantu bisnis menghadapi lonjakan penjualan atau keterlambatan pasokan. Namun, jumlahnya perlu ditentukan secara proporsional karena stok pengaman yang terlalu besar justru dapat meningkatkan risiko penumpukan barang.

Sebagai ilustrasi, retailer memperkirakan kebutuhan 40 potong selama waktu pengadaan dan menetapkan stok pengaman sebanyak 10 potong. Dengan pendekatan sederhana, batas kebutuhan persediaannya menjadi 50 potong.

Angka tersebut tidak otomatis menjadi jumlah pembelian. Bisnis tetap harus mengurangi persediaan yang masih tersedia dan mempertimbangkan barang yang sudah dipesan tetapi belum diterima.

4. Memperhitungkan Stok yang Sudah Tersedia

Jumlah pembelian baru perlu mempertimbangkan stok yang masih dimiliki. Tanpa pemeriksaan ini, bisnis berisiko membeli barang yang sebenarnya masih mencukupi kebutuhan penjualan.

Pendekatan sederhana untuk menghitung kebutuhan pengadaan:

Misalnya, target persediaan ditetapkan sebanyak 50 potong. Stok yang masih tersedia sebanyak 18 potong dan terdapat 7 potong yang sedang dalam pengiriman. Maka kebutuhan pembelian tambahan adalah:

Perhitungan tersebut membantu retailer menghindari pembelian ganda. Dalam penerapan nyata, bisnis juga perlu memperhitungkan barang yang sudah dialokasikan untuk pesanan pelanggan, produk rusak, dan persediaan yang tidak dapat dijual.

Pemilik bisnis fashion menganalisis data penjualan dan jumlah persediaan untuk menentukan kuantitas pembelian produk

Mengatur Komposisi Ukuran, Warna, dan Model Produk

Jumlah pembelian yang tepat belum tentu menghasilkan persediaan yang sehat apabila komposisi produknya tidak sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Dalam bisnis fashion, perencanaan harus dilakukan sampai tingkat variasi produk.

Menganalisis Penjualan Berdasarkan Ukuran

Retailer perlu mengetahui ukuran yang paling sering terjual pada setiap kategori produk. Data tersebut dapat digunakan untuk menyusun komposisi pembelian berikutnya.

Sebagai contoh, sebuah toko memiliki data penjualan 100 potong kaus dengan komposisi berikut:

Ukuran

Jumlah terjual

Proporsi

S

15

15%

M

35

35%

L

32

32%

XL

18

18%

Total

100

100%

Data tersebut menunjukkan bahwa ukuran M dan L memiliki proporsi penjualan lebih besar pada contoh tersebut. Jika retailer akan membeli 200 potong kaus dengan pola permintaan yang diperkirakan serupa, proporsi tersebut dapat menjadi dasar awal pembagian ukuran.

Namun, komposisi tersebut tidak boleh diterapkan secara otomatis pada seluruh kategori pakaian. Kebutuhan ukuran pada kaus, celana, outerwear, dan busana formal dapat berbeda.

Menentukan Prioritas Warna

Warna juga memengaruhi kecepatan penjualan. Retailer dapat mengelompokkan warna berdasarkan pola permintaan, misalnya warna netral, warna musiman, dan warna yang sedang menjadi tren.

Warna yang memiliki penjualan konsisten dapat dipertimbangkan sebagai prioritas pengadaan. Sementara itu, warna yang permintaannya belum terbukti dapat dibeli dalam kuantitas lebih terbatas untuk menguji respons pasar.

Pendekatan ini membantu bisnis menghindari pembelian terlalu banyak pada warna yang hanya menarik perhatian dalam periode singkat.

Mengelompokkan Produk Berdasarkan Kecepatan Penjualan

Tidak semua produk memiliki kontribusi penjualan yang sama. Karena itu, retailer dapat mengelompokkan produk berdasarkan kecepatan perputaran atau inventory turnover.

Secara sederhana, produk dapat dikelompokkan menjadi:

  • Produk dengan perputaran cepat: barang yang relatif sering terjual dan perlu dipantau agar tidak kehabisan.
  • Produk dengan perputaran sedang: barang yang memiliki penjualan cukup stabil, tetapi tidak membutuhkan pengisian ulang sesering produk utama.
  • Produk dengan perputaran lambat: barang yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut sebelum dilakukan pembelian ulang.

Pengelompokan tersebut membantu retailer menetapkan prioritas pengadaan. Produk yang bergerak cepat dapat memperoleh perhatian lebih besar, sedangkan produk yang bergerak lambat perlu ditinjau penyebabnya sebelum stok ditambah.

Produk pakaian dengan variasi ukuran dan warna yang disusun untuk membantu perencanaan komposisi stok retailer

Strategi Mengendalikan Risiko Barang Tidak Terjual

Perencanaan stok tidak berhenti ketika barang selesai dibeli. Setelah produk masuk ke gudang atau toko, bisnis perlu memantau pergerakan persediaan dan mengambil tindakan ketika penjualan tidak berjalan sesuai perkiraan.

1. Memulai dengan Pembelian Bertahap

Jika pemasok memungkinkan dan ketentuan pembelian mendukungnya, retailer dapat mempertimbangkan pembelian bertahap. Strategi ini membantu bisnis menguji respons pasar sebelum menambah kuantitas pengadaan.

Sebagai contoh, retailer ingin memperkenalkan model atasan baru. Daripada langsung membeli dalam jumlah besar, retailer dapat memulai dengan kuantitas yang lebih terbatas untuk mengamati respons pelanggan.

Setelah beberapa waktu, data penjualan dapat digunakan untuk menentukan apakah produk perlu dipesan kembali, dipertahankan dalam jumlah terbatas, atau tidak dilanjutkan.

Pembelian bertahap bukan berarti selalu membeli dalam jumlah kecil. Strategi ini perlu disesuaikan dengan minimum order quantity atau MOQ dari pemasok, biaya pengiriman, ketersediaan barang, dan kebutuhan pasar.

Noir Voix Condenser Microphone USB Type-C with RGB Streaming&Gaming

2. Menetapkan Batas Evaluasi Stok

Retailer sebaiknya memiliki jadwal untuk mengevaluasi persediaan. Evaluasi dapat dilakukan setiap minggu atau bulan, bergantung pada volume transaksi dan karakteristik produk.

Beberapa indikator yang dapat diperiksa antara lain:

  • Jumlah produk yang terjual selama periode evaluasi.
  • Persentase persediaan yang sudah terjual.
  • Jumlah produk yang belum bergerak.
  • Lama produk tersimpan.
  • Perbandingan penjualan aktual dengan target.
  • Perubahan permintaan berdasarkan ukuran dan warna.

Evaluasi rutin membantu bisnis mengenali produk yang mulai melambat sebelum jumlah persediaannya menjadi terlalu besar.

3. Menggunakan Strategi Promosi secara Terukur

Produk yang bergerak lambat dapat ditangani melalui promosi, tetapi keputusan tersebut perlu mempertimbangkan margin dan tujuan bisnis.

Beberapa pendekatan yang dapat digunakan adalah:

  • Diskon terbatas untuk produk yang mendekati akhir musim penjualan.
  • Paket bundling dengan produk yang memiliki permintaan lebih tinggi.
  • Promosi berdasarkan kategori atau variasi tertentu.
  • Penawaran khusus untuk pelanggan yang pernah membeli produk serupa.
  • Penempatan ulang produk pada kanal penjualan yang lebih sesuai.

Promosi sebaiknya tidak dilakukan tanpa evaluasi. Jika diskon terlalu besar, bisnis mungkin berhasil mengurangi stok tetapi kehilangan sebagian besar margin. Sebaliknya, menunda promosi terlalu lama dapat membuat produk semakin sulit dijual ketika tren sudah berubah.

4. Memindahkan Produk ke Kanal Penjualan yang Lebih Sesuai

Produk yang kurang diminati di satu kanal belum tentu tidak memiliki pasar di kanal lain. Misalnya, model pakaian tertentu kurang bergerak di toko fisik, tetapi dapat memperoleh respons lebih baik melalui marketplace atau penjualan media sosial.

Retailer dapat mengevaluasi karakteristik pelanggan setiap kanal sebelum memindahkan atau mempromosikan produk. Foto produk, deskripsi, harga, dan cara penyajian juga dapat disesuaikan dengan kebiasaan belanja konsumen di kanal tersebut.

Pendekatan ini perlu memperhitungkan biaya tambahan, seperti komisi platform, biaya promosi, pengemasan, dan pengiriman.

5. Meninjau Ulang Produk yang Perlu Dibeli Kembali

Pembelian ulang sebaiknya didasarkan pada data, bukan hanya karena produk pernah terjual dengan baik. Retailer perlu memeriksa apakah permintaan masih stabil, apakah produk masih relevan, dan apakah persediaan yang ada benar-benar hampir habis.

Produk dengan penjualan tinggi pada awal peluncuran belum tentu mempertahankan tingkat permintaan yang sama beberapa bulan kemudian. Karena itu, keputusan pembelian ulang perlu mempertimbangkan tren penjualan terbaru dan kondisi pasar.

Tim retailer mengevaluasi persediaan pakaian dan menentukan strategi penjualan untuk produk yang bergerak lambat

Mengukur Kinerja Persediaan dalam Sistem Beli Putus

Agar perencanaan stok dapat dievaluasi, bisnis membutuhkan indikator yang menggambarkan kondisi persediaan. Indikator tersebut membantu retailer mengetahui apakah pembelian yang dilakukan sudah sesuai dengan kebutuhan penjualan.

Inventory Turnover

Inventory turnover atau perputaran persediaan menunjukkan seberapa sering persediaan terjual dan digantikan selama periode tertentu.

Salah satu rumus yang umum digunakan:

Rumus tersebut menggunakan nilai moneter, bukan jumlah unit. Hasilnya dapat membantu bisnis mengevaluasi seberapa efektif persediaan dikelola selama periode pengamatan.

Perputaran yang tinggi tidak selalu berarti kondisi persediaan sudah ideal. Jika terlalu tinggi, bisnis juga perlu memeriksa kemungkinan kekurangan stok yang menyebabkan kehilangan penjualan. Sebaliknya, perputaran rendah dapat menjadi tanda bahwa persediaan bergerak lambat atau jumlah pembelian terlalu besar.

Sell-Through Rate

Sell-through rate menunjukkan persentase produk yang terjual dibandingkan dengan jumlah produk yang tersedia untuk dijual selama periode tertentu.

Rumus sederhana:

Misalnya, retailer memiliki 200 potong produk yang tersedia untuk dijual dan berhasil menjual 120 potong selama periode evaluasi. Tingkat penjualannya adalah:

Angka tersebut menunjukkan bahwa 60 persen dari jumlah produk yang menjadi dasar perhitungan telah terjual. Untuk memperoleh hasil yang konsisten, bisnis perlu menetapkan definisi jumlah unit tersedia yang digunakan, termasuk bagaimana memperlakukan stok awal, penerimaan barang baru, dan produk yang tidak dapat dijual.

Stock Aging

Stock aging digunakan untuk mengelompokkan persediaan berdasarkan lamanya barang tersimpan. Pengelompokan ini membantu bisnis mengenali produk yang terlalu lama berada di gudang atau toko.

Contohnya, retailer dapat membuat kelompok umur persediaan:

  • 0–30 hari.
  • 31–60 hari.
  • 61–90 hari.
  • Lebih dari 90 hari.

Batas waktu tersebut dapat disesuaikan dengan karakteristik produk. Produk musiman mungkin membutuhkan evaluasi lebih cepat dibandingkan produk dasar yang permintaannya cenderung stabil.

Gross Margin

Margin kotor membantu bisnis menilai keuntungan yang diperoleh dari penjualan setelah memperhitungkan harga pokok penjualan.

Indikator ini penting ketika retailer menggunakan diskon untuk mengurangi stok yang bergerak lambat. Penjualan yang meningkat belum tentu menghasilkan keuntungan yang lebih baik apabila potongan harga terlalu besar.

Dashboard analisis inventory turnover, sell-through rate, dan stock aging untuk memantau kinerja persediaan produk fashion

Kesalahan Perencanaan Stok yang Perlu Dihindari

Beberapa kesalahan dapat membuat persediaan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar meskipun bisnis sudah memiliki data penjualan.

Membeli Berdasarkan Perkiraan Tanpa Memeriksa Data

Mengandalkan intuisi saja dapat membuat retailer salah memperkirakan jumlah permintaan. Pengalaman pemilik bisnis memang berguna, tetapi sebaiknya tetap dibandingkan dengan data penjualan aktual.

Misalnya, sebuah warna terlihat populer di media sosial. Namun, popularitas tersebut belum tentu menghasilkan pembelian yang tinggi di toko. Retailer perlu mengamati respons pelanggan dan hasil penjualan sebelum menambah kuantitas secara besar-besaran.

Menggunakan Komposisi Ukuran yang Sama untuk Semua Produk

Setiap kategori pakaian memiliki karakteristik ukuran yang berbeda. Komposisi ukuran pada kaus belum tentu cocok untuk celana, jaket, atau busana formal.

Jika retailer menggunakan komposisi yang sama tanpa evaluasi, beberapa ukuran dapat menumpuk sementara ukuran yang lebih dibutuhkan justru habis.

Mengabaikan Produk yang Sudah Dipesan

Kesalahan lain adalah menghitung kebutuhan pembelian hanya berdasarkan stok fisik yang ada. Padahal, bisnis mungkin sudah memiliki pesanan yang sedang diproses atau barang yang masih dalam perjalanan.

Persediaan yang akan datang perlu diperhitungkan agar retailer tidak melakukan pembelian berulang secara berlebihan.

Terlalu Berfokus pada Harga Grosir

Harga satuan yang lebih rendah dapat terlihat menarik ketika pemasok menawarkan potongan berdasarkan jumlah pembelian. Namun, retailer perlu menghitung total biaya dan risiko sebelum mengambil keputusan.

Diskon pembelian tidak selalu menghasilkan keuntungan lebih besar jika sebagian barang akhirnya tidak terjual. Biaya penyimpanan, promosi, dan penurunan harga juga perlu dimasukkan dalam pertimbangan.

Tidak Menetapkan Batas Evaluasi Produk

Produk yang tidak bergerak selama beberapa periode perlu diperiksa. Jika retailer tidak memiliki jadwal evaluasi, persediaan lambat dapat terus bertambah karena pembelian baru dilakukan tanpa mempertimbangkan stok lama.

Penetapan batas evaluasi membantu bisnis mengambil keputusan lebih cepat, baik melalui promosi, pengalihan kanal penjualan, maupun penghentian pembelian ulang.

Membuat Sistem Perencanaan Stok yang Lebih Konsisten

Perencanaan stok sebaiknya menjadi bagian dari proses operasional yang dilakukan secara rutin, bukan hanya aktivitas menjelang pembelian produk baru.

Retailer dapat membangun prosedur sederhana yang mencakup beberapa langkah berikut.

Membuat Data Persediaan per SKU

Setiap variasi produk sebaiknya dicatat menggunakan kode atau SKU yang konsisten. Data minimal mencakup nama model, warna, ukuran, jumlah stok, harga beli, dan status produk.

Pencatatan per SKU membantu bisnis mengetahui variasi mana yang masih tersedia dan variasi mana yang membutuhkan pengadaan ulang.

Menetapkan Jadwal Evaluasi

Evaluasi persediaan dapat dilakukan secara berkala. Produk dengan perputaran cepat mungkin perlu dipantau lebih sering, sedangkan produk dasar dengan permintaan stabil dapat dievaluasi dalam periode yang lebih panjang.

Jadwal tersebut sebaiknya disesuaikan dengan volume penjualan, waktu pengadaan, dan perubahan permintaan.

Menghubungkan Data Penjualan dengan Keputusan Pembelian

Data penjualan perlu digunakan sebagai dasar menentukan kuantitas pembelian berikutnya. Dengan demikian, keputusan pengadaan tidak hanya didasarkan pada stok yang terlihat di gudang, tetapi juga mempertimbangkan kecepatan penjualan dan pesanan yang sedang berjalan.

Membuat Batas Pembelian Berdasarkan Kapasitas Usaha

Bisnis perlu menentukan batas pengadaan yang sesuai dengan modal, ruang penyimpanan, dan kemampuan penjualan. Batas tersebut dapat ditinjau ulang ketika bisnis mengalami perubahan skala atau memasuki periode penjualan dengan permintaan berbeda.

Mendokumentasikan Hasil Evaluasi

Setiap evaluasi sebaiknya menghasilkan catatan mengenai produk yang perlu dibeli ulang, dipertahankan, dikurangi, atau dihentikan pengadaannya.

Dokumentasi ini membantu bisnis membandingkan keputusan pembelian dengan hasil penjualan pada periode berikutnya. Dengan cara tersebut, perencanaan stok dapat terus diperbaiki berdasarkan pengalaman dan data aktual.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan perencanaan stok dalam sistem beli putus?

Perencanaan stok dalam sistem beli putus adalah proses menentukan jumlah dan variasi produk yang akan dibeli berdasarkan perkiraan kebutuhan penjualan. Perencanaan ini mencakup analisis data penjualan, pemilihan ukuran dan warna, penentuan waktu pembelian, serta evaluasi persediaan setelah barang diterima.

Dalam bisnis fashion, perencanaan stok perlu dilakukan secara lebih terperinci karena satu model produk dapat memiliki banyak variasi. Jika jumlah pembelian tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen, sebagian produk berisiko menumpuk dan membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual. Oleh karena itu, retailer perlu mempertimbangkan kemampuan pasar sebelum menyetujui pembelian.

2. Mengapa sistem beli putus berisiko menyebabkan stok berlebih?

Sistem beli putus dapat menimbulkan risiko stok berlebih ketika pembeli membeli produk dalam jumlah yang lebih besar daripada kebutuhan penjualan. Setelah barang dibeli, pembeli perlu mengelola persediaan tersebut sesuai ketentuan transaksi, termasuk menanggung konsekuensi komersial apabila produk tidak terjual sesuai perkiraan.

Risiko ini dapat meningkat jika pembelian hanya didasarkan pada harga grosir yang lebih murah, tanpa memeriksa pola permintaan dan komposisi variasi produk. Perubahan tren, ketidaksesuaian ukuran, dan keterlambatan evaluasi stok juga dapat membuat barang lebih lama tersimpan.

3. Bagaimana cara menentukan jumlah stok yang harus dibeli?

Jumlah pembelian dapat ditentukan dengan menganalisis rata-rata penjualan, kebutuhan selama waktu pengadaan, stok pengaman, serta persediaan yang masih tersedia. Bisnis juga perlu mengurangi jumlah barang yang sudah dipesan tetapi belum diterima agar tidak terjadi pembelian berlebihan.

Sebagai contoh, retailer memperkirakan membutuhkan 50 potong produk untuk memenuhi target persediaan. Jika stok yang tersedia berjumlah 18 potong dan terdapat 7 potong dalam perjalanan, kebutuhan pembelian tambahannya adalah 25 potong. Perhitungan tersebut merupakan pendekatan dasar dan perlu disesuaikan dengan perubahan permintaan maupun kondisi operasional.

4. Apakah jumlah stok harus sama untuk setiap ukuran dan warna?

Tidak. Komposisi ukuran dan warna sebaiknya mengikuti karakteristik permintaan pada setiap kategori produk. Ukuran yang paling banyak terjual pada kaus belum tentu memiliki proporsi yang sama pada celana atau jaket.

Retailer perlu memeriksa data penjualan berdasarkan variasi produk agar mengetahui ukuran dan warna yang lebih diminati. Jika data historis belum tersedia, pembelian awal dapat dilakukan secara lebih hati-hati sambil mengamati respons pelanggan. Hasil pengamatan tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki komposisi pembelian berikutnya.

5. Apa perbedaan stok berlebih dan stok mati?

Stok berlebih merupakan kondisi ketika jumlah persediaan lebih besar daripada kebutuhan penjualan dalam periode tertentu. Produk tersebut masih mungkin terjual, tetapi jumlahnya terlalu banyak dibandingkan kemampuan penjualan bisnis.

Sementara itu, stok mati atau dead stock merujuk pada persediaan yang tidak mengalami penjualan atau pergerakan dalam jangka waktu tertentu. Produk yang awalnya hanya mengalami stok berlebih dapat berkembang menjadi stok mati jika permintaannya terus menurun dan tidak ada langkah penanganan yang efektif. Batas waktu untuk mengategorikannya perlu disesuaikan dengan karakteristik produk dan kebijakan masing-masing bisnis.

6. Apa fungsi safety stock dalam perencanaan persediaan fashion?

Safety stock atau stok pengaman merupakan persediaan tambahan untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan dan waktu pengadaan. Stok ini membantu bisnis tetap memiliki barang ketika penjualan meningkat atau pemasok mengalami keterlambatan pengiriman.

Namun, jumlah safety stock perlu ditentukan secara proporsional. Jika terlalu sedikit, retailer berisiko kehabisan produk yang banyak dicari. Jika terlalu banyak, biaya penyimpanan dan risiko stok berlebih dapat meningkat. Penentuannya sebaiknya mempertimbangkan variasi permintaan, ketepatan waktu pemasok, serta kemampuan modal usaha.

7. Bagaimana cara mengetahui produk fashion yang perputaran stoknya lambat?

Retailer dapat memantau jumlah penjualan, lama penyimpanan, dan perubahan persediaan setiap produk. Produk yang terus tersedia dalam jumlah besar tetapi hanya terjual sedikit selama beberapa periode perlu diperiksa lebih lanjut.

Indikator seperti inventory turnover dan stock aging dapat membantu mengidentifikasi produk yang bergerak lambat. Retailer juga perlu memeriksa faktor penyebabnya, misalnya harga kurang sesuai, variasi ukuran tidak tepat, desain kurang diminati, atau produk sudah melewati periode tren. Setelah penyebabnya diketahui, bisnis dapat menentukan langkah penanganan yang lebih sesuai.

8. Apakah diskon selalu menjadi solusi untuk mengatasi stok berlebih?

Tidak selalu. Diskon dapat membantu mempercepat penjualan produk yang bergerak lambat, tetapi besarnya potongan harga perlu dibandingkan dengan margin yang diperoleh. Jika diskon terlalu besar, bisnis mungkin berhasil mengurangi persediaan tetapi kehilangan sebagian keuntungan.

Sebelum memberikan diskon, retailer dapat mempertimbangkan strategi lain seperti bundling, promosi berdasarkan kategori, penempatan ulang produk, atau pemindahan penjualan ke kanal yang lebih sesuai. Pemilihan strategi perlu mempertimbangkan karakteristik produk, kondisi pasar, biaya promosi, dan target pengurangan persediaan.

9. Seberapa sering retailer perlu mengevaluasi stok?

Frekuensi evaluasi stok bergantung pada volume penjualan, jenis produk, dan kecepatan perubahan permintaan. Produk yang mengikuti tren musiman atau memiliki perputaran cepat mungkin membutuhkan pemantauan lebih sering daripada produk dasar dengan permintaan relatif stabil.

Retailer dapat memulai evaluasi mingguan untuk produk prioritas dan evaluasi bulanan untuk melihat kondisi persediaan secara keseluruhan. Hal terpenting adalah memiliki jadwal yang konsisten serta menggunakan hasil evaluasi untuk memperbaiki keputusan pembelian. Dengan begitu, stok tidak hanya dihitung, tetapi juga dikelola berdasarkan kinerja penjualan.

Kesimpulan

Perencanaan stok merupakan bagian penting dalam menjalankan sistem beli putus di bisnis fashion. Pembelian produk tidak cukup hanya mempertimbangkan harga grosir atau jumlah minimum pemesanan. Retailer dan distributor perlu memperhitungkan pola penjualan, variasi ukuran dan warna, siklus koleksi, waktu pengadaan, serta kemampuan modal dan penyimpanan.

Pengendalian stok dapat dilakukan melalui analisis rata-rata penjualan, perhitungan kebutuhan selama waktu pengadaan, penetapan stok pengaman, dan pemeriksaan persediaan yang masih tersedia. Setelah produk dibeli, kinerjanya perlu dipantau menggunakan indikator seperti inventory turnover, sell-through rate, stock aging, dan gross margin.

Dengan perencanaan yang konsisten, bisnis dapat mengurangi risiko penumpukan barang, menjaga perputaran persediaan, serta mengambil keputusan pembelian yang lebih terukur. Sistem beli putus pun dapat dijalankan dengan pengelolaan persediaan yang lebih disiplin dan sesuai kebutuhan pasar.

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.