Article

Homepage Article Desain Fesyen Pelajari 10 Jenis Kain Bali…

Pelajari 10 Jenis Kain Bali Yang Bisa Untuk Padu Padan Busanamu, Jangan Sampai Salah Memakai Ya

Selain terkenal dengan panorama alamnya yang mempesona pulau Bali ternyata juga menyimpan banyak kekayaan yang tidak kalah memukau lho. Salah satunya dapat dilihat dari keberadaan produk kain Bali yang sarat akan makna dan nilai filosofis. Mau tahu apa saja jenis kain yang dimaksud?. Simak pembahasannya yuk...

Kain Cepuk

Kain cepuk merupakan salah satu kain tenun khas Bali yang memiliki motif sangat khas yakni berwarna dasar merah. Kain ini kebanyakan dipakai dengan cara dililitkan pada pinggang sebagai penutup tubuh bagian bawah dan lazim dipakai dalam upacara-upacara khusus di Bali.

Kain tenun cepuk sendiri diyakini memiliki kekuatan mistik yakni sebagai pelindung dari rintangan dan bahaya dalam melakukan upacara. Karena itulah kain tenun cepuk ini sampai sejarang juga masih digunakan dalam upacara keagamam, tidak hanya dipakai saat melaksanakan persembahyangan saja.

Kain Bali

Sumber : https://www.sarajo.com/

Berdasarkan desain dan kegunaannya kain tenun cepuk terdiri dari berbagai macam jenis, diantaranya:

  1. Cepuk ngawis merupakan kain tenun yang biasa dipakai saat upacara pitra yadnya atau upacara ngaben.
  2. Cepuk tangi gede merupakan kain tenun yang dipakai oleh anak tengah yang seluruh kakak dan adiknya meninggal (upacara ngaben).
  3. Cepuk liking paku biasa dipakai oleh laki-laki dalam upacara potong gigi.
  4. Cepuk kecubung biasa dipakai oleh perempuan dalam upacara potong gigi.
  5. Cepuk sudamala merupakan kain cepuk yang dipakai untuk membersihkan diri.
  6. Cepuk kurung merupakan kain cepuk yang dapat digunakan dalam hari-hari biasa.

Jauh sebelum digunakan sebagai bahan pakaian luar, pada awalnya keenam jenis kain tenun khas Bali tersebut awalnya digunakan sebagai ‘tapih’ yakni kain yang digunakan sebagai lapisan terdalam sebelum menggunakan pakaian lainnya. 

Warna benang yang digunakan pada kain cepuk ternyata juga mempunyai simbol-simbol warna penjuru mata angin yang diyakini orang Bali lho.

  1. Warna kuning di barat melambangkan Dewa Mahadewa. Warna kuning umumnya dibuat dari campuran kunyit, lemon jus, dan daun semangka.
  2. Warna merah di selatan melambangkan Dewa Brahma. Warna merah ini diperoleh dengan campuran kulit luar akar (babakan) sunti atau tibah (Morinda citrifolia) dan minyak buah kemiri (Aleurites mollucana).
  3. Warna putih di timur melambangkan Dewa Iswara.
  4. Warna hitam di utara melambangkan Dewa Wisnu. Warna hitam diperoleh dengan menambahkan indigo (daun taum) pada jelaga minyak kelapa dan palem.
  5. Campuran keseluruhan warna tersebut melambangkan Dewa Siwa yang berada di tengah.

Kain Bali

Sumber : http://cepukbali.blogspot.com/

Kain Endek

Kain endek merupakan kain tenun khas Bali yang memiliki motif sangat beragam. Beberapa motif kain endek Bali ada dianggap sakral sehingga hanya boleh digunakan untuk kegiatan keagamaan dan kegiatan lain di pura, namun ada juga motif kain endek yang hanya boleh digunakan kalangan tertentu seperti raja atau bangsawan.

Berkembangnya berbagai motif kain endek Bali yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar juga semakin menarik perhatian banyak orang untuk menggunakan jenis kain yang satu ini. Meski pemakaian kain endek terbilang bebas tapi motif-motif sakral tetap dipertahankan dan tidak digunakan secara sembarangan.

  1. Motif patra dan encak saji yang bersifat sakral hanya dapat digunakan untuk kegiatan upacara keagamaan. Motif patra dan encak saji tersebut memiliki makna mendalam yakni menunjukkan rasa hormat kepada Sang Pencipta.
  2. Motif yang mencerminkan nuansa alam, biasa digunakan untuk kegiatan sosial atau kegiatan sehari-hari.
  3. Motif kain endek yang menggambarkan flora, fauna, dan tokoh pewayangan yang sering muncul dalam mitologi-mitologi Bali digunakan untuk kegiatan upacara, kegiatan sembahyang serta bahan busana modern.

Untuk menciptakan sebuah kain tenun endek Bali yang berkualiyas, proses pembuatannya sendiri harus melawati dua tahapan yakni proses persiapan tenunan dan proses penenunan.

  1. Tahap awal pembuatan kain endek dimulai dengan memintal benang.
  2. Benang tersebut kemudian dibentangkan di alat perentang dan helaiannya diikat dengan tali rafia sesuai pola ragam hias dan warna yang diinginkan.
  3. Setelah pengikatan berpola tersebut benang dicelup atau diwarnai dengan bahan pewarna tekstil.
  4. Benang yang sudah diwarnai kemudian digintir atau dipilah, baru ditenun menjadi kain.

Sampai saat ini setidaknya terdapat satu teknik tenun ikat yang berkembang di Bali, terutama pada motif kain endek Bali. Teknik yang dimaksud yaitu berupa nyantri, semacam penambahan warna kain endek dengan goresan kuas bambu yang dilakukan seperti layaknya orang yang sedang melukis di atas kain.

Kain Bali

Sumber : https://nyonyamalas.com/

Kain Bebali

Kain bebali merupakan salah satu jenis kain tradisional khas Bali yang sangat cantik dan memiliki warna cukup menarik. Di daerah Bali Utara kain bebali ini lebih dikenal dengan nama “wangsul” sedangkan di daerah Bali Timur kain ini lebih populer dengan nama “gedogan”.

Karena kata “bebali” sendiri memiliki arti upacara, maka kain ini umumnya hanya digunakan untuk keperluan keagamaan saja. Konon hanya anggota dalam tiga kasta tertinggi (triwangsa) yang mengetahui proses pembuatan kain bebali. Selain itu kain bebali ini juga hanya boleh ditenun oleh para tetua perempuan yang sudah tidak lagi menstruasi.

Kain Bali

Sumber : http://www.instagub.com/

Ditinjau dari proses pembuatannya kain bebali ini pada prinsipnya termasuk dalam jenis kain tenun ikat pakan yang dibuat dengan alat khusus bernama prabot tenun cag-cag. Proses penenunan secara umum terdiri dari lima tahap.

  1. Tahap pertama yaitu ngeliying atau membantangkan benang pada undar hingga benang dapat dibuka, digulung pada ulakan atau peleting.
  2. Tahap kedua yaitu ngayi.
  3. Tahap berikutnya nyahsah yaitu bahan tenunan yang ada pada panynan dilepaskan dan dibentangkan memanjang.
  4. Proses selanjutnya lipatan benang dimasukkan pada serat dengan mempergunakan alat seperti jarum panjang yang kecil.
  5. Tahap terakhir barulah benang ditenun.

Benang pakan yang sudah selesai diikat, dicalup dan dilepas ikatannya selanjutnya digulung pada palet-palet. Jika sudah benang pakan itu kemudian akan disilangkan dengan benang lungsi yang telah disiapkan, melalui proses penenunan. Sehingga benang lungsi yang dipakai hanya memakai satu jenis warna atau polos.

Untuk menciptakan pola atau ragam hias yang menarik, pembuat kain tenun cukup dengan mengatur kedudukan benang pakannya saja pada saat menenun. Khusus untuk kain bebali ragam hias yang biasa ditampilkan setidaknya terdapat lima macam.

1. Ragam Hias Tumbuhan
Ragam hias tumbuhan sering disebut dengan istilah patra yang berasal dari bahasa sansekerta bearti “daun” atau “surat”.
2. Ragam Hias Binatang
Ragam hias binatang biasa disebut kekarangan atau karang. Kekarangan meniru bentuk binatang dalam arti mitologis yang dianggap sebagai kendaraan para dewa.
3. Ragam Hias Garis-Garis Geometris
Garis-garis geometris terdiri atas garis tegak dan terbalik, garis lengkung, hiasan duri ikan, hiasan meander spiral, hiasan segitiga hingga hiasan emas-emasan.
4. Ragam Hias Bentuk Manusia
Ragam hias bentuk manusia yang ditampilkan pada kain bebali umumnya berupa gambar bagian-bagian tubuh manusia seperti muka dan mata orang.
5. Ragam Hias Perembon
Ragam hias perembon diperoleh dari perpaduan antara berbagai ragam hias lain yang  distilir berdasarkan garis-garis benang lungsi dan pakan hingga membentuk suatu bentuk baru.

Kain Gringsing

Kain gringsing merupakan kain tradisional Indonesia yang berasal dari Desa Tenganan Bali. Kain tenun bali ini disinyalir sebagai hasil karya suku Bali Aga (Bali asli) dan menjadi satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik teknik dobel ikat.

Ditinjau dari asal bahasanya kata gringsing sebenarnya didapat dari penggabungan kata “gring” yang berarti sakit dan “sing” yang berarti tidak, sehingga kata gringsing ini artinya adalah tidak sakit. Maksud yang terkandung dalam kata tersebut yakni seperti penolak bala.

Untuk menciptakan sebuah kain gringsing, prosesnya konon selalu dibuat secara manual dengan menggunakan tangan. Tidak heran jika untuk membuat kain gringsing ini waktu yang diperlukan lumayan lama bahkan bisa mencapai 2 hingga 5 tahun.

  1. Proses pembuatan kain gringsing ini bisa dimulai dengan pemintalan benang dengan alat bantu tradisional. Benang yang digunakan sebagai bahan baku kain gringsing sendiri didatangkan dari Nusa Penida karena hanya di tempat ini bisa diperoleh kapuk berbiji satu.
  2. Setelah selesai dipintal, benang akan mengalami proses perendaman dalam minyak kemiri selama lebih dari 40 hari hingga maksimum satu tahun dengan penggantian air rendaman setiap 25-49 hari sebelum dilanjutkan ke proses ikat dan pewarnaan. Semakin lama direndam benang akan makin kuat dan lebih lembut.
  3. Benang akan dipintal menjadi sehelai kain yang memiliki panjang (sisi pakan) dan lebar (sisi lungsi) tertentu. Untuk merapatkan hasil tenunan benang akan didorong menggunakan tulang kelelawar.
  4. Kain yang sudah jadi akan diikat oleh juru ikat mengikuti pola tertentu yang sudah ditentukan. Proses pengikatan menggunakan dua warna tali rafia, yaitu jambon dan hijau muda. Setiap ikatan akan dibuka sesuai proses pencelupan warna untuk menghasilkan motif dan pewarnaan yang sesuai.
  5. Proses penataan benang, pengikatan, dan pewarnaan dilakukan pada sisi lungsi dan pakan, sehingga teknik tersebut disebut dobel ikat. Pola yang dibuat pada kain harus ditenun dengan teliti sehingga setiap warna pada lungsi akan bertemu dengan warna yang sama pada pakan.

Kain Bali

Sumber : http://panduanwisata.id/

Kain Kling

Kain kling termasuk ke dalam kelompok kain yang dianggap memiliki kekuatan magis sehingga kain ini lebih banyak digunakan pada upacara-upacara tertentu seperti upacara adat karena termasuk dalam golongan kain yang sakral. Kain tenun khas bali yang satu ini biasanya digunakan saat upacara potong gigi.

Kain Bali

Sumber : https://kerajinanindonesia.id/

Kain Poleng

Kain poleng merupakan kain khas Bali yang memiliki motif kotak-kotak seperti layaknya papan catur. Khusus di daerah Bali kain ini dianggap sebagai kain penolak bala dan juga pembawa keberuntungan. Dilihat dari segi ukuran kotaknya kain poleng sendiri sebenarnya memiliki banyak variasi, ada yang berukuran 1x1 cm, 3x3 cm dan 5x5 cm.

Selain memiliki ukuran yang berbeda, warna kain poleng ini juga sangat beragam. Berdasarkan warnanya ada kain poleng yang disebut rwabhineda (hitam putih), sudhamla (putih, abu-abu, hitam) dan tridatu (putih, hitam, merah).

1. Poleng Rwabhineda

Secara filosofis rwabhineda memiliki filosofi ajaran penerapan rwabhineda. Dalam agama Hindu rwabhineda ini merupakan dua sifat bertolak belakang yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan, seperti baik buruk, tinggi rendah, siang malam, hitam putih, panas dingin dan sebagainya.

2. Poleng Sudhamla

Poleng sudhamala merupakan cerminan dari rwabhineda sehingga warna hitam dan putih dalam Rwabhineda diselaraskan menjadi warna abu-abu. Inti dari motif kain poleng ini adalah keseimbangan dunia dan kecerdasan pemakainya dalam membedakan baik buruk, benar salah.

3. Poleng Tridatu

Secara filosofis poleng tridatu yang terdiri dari tiga warna yakni putih, merah, hitam sebenarnya memiliki filosofi ajaran triguna, yakni tiga sifat yang mempengaruhi manusia.

  • Warna putih  melambangkan satwam yang diartikan sebagai ketenangan dan kebijakan.
  • Warna merah melambangkan rajas yang diartikan sebagai keaktifan dan keras.
  • Warna hitam melambangkan tamas yang diartikan sebagai kemalasan dan bodoh.

Selain itu ada juga yang menganggap jika ketiga warna tersebut melambangkan tiga dewa. Putih melambangkan Brahmana, merah melambangkan Wisnu, dan hitam melambangkan Siwa.

Kain Bali

Sumber : https://budaya-indonesia.org/

Kain Prada

Kain prada merupakan salah satu kain khas Bali yang memiliki motif lukisan dengan menggunakan cat emas. Bahan dasar kain Bali ini ibisa berupa kain polos ataupun kain bermotif seperti endek. Kain motif keemasan prada biasanya tidak digunakan sehari-hari, namun lebih sering digunakan untuk sarana persembahyangan atau kostum tari.

Kain Bali

Sumber : http://baliartsuvenir.blogspot.com/

Kain Rang-Rang

Kain tenun rang-rang merupakan kain tenun khas Bali yang juga menjadi salah satu warisan adat dan tradisi di Nusa Penida dan Seraya Karangasem. Kain ini secara keseluruhan dibuat dengan teknik ikat tunggal menggunakan Alat tenun bukan mesin (ATBM).

Kain bali yang satu ini umumnya memiliki pola berbentuk zig zag dengan perpaduan warna yang segar dan mencolok. Tidak hanya menampilkan keindahan saja, kain rang-rang juga menyuguhkan filosofi mendalam mengenai hidup dan kepercayaan masyarakat Bali terhadap alam, karmapala, serta tridarma penguasa jagat.

Untuk menjamin kualitasnya, kain tenun rang-rang kebanyakan diciptakan dari perpaduan wol dan sutra dengan proses pengerjaan yang dilakukan secara manual. Selain dibuat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kain bali ini juga dibuat untuk melestarikan kebudayaan tradisional sebagai pelengkap sarana upacara keagamaan dan pakaian adat.

Kain Bali

Sumber : https://www.baliayucraft.com/

Kain Songket

Kain songket Bali dapat dikategorikan ke dalam salah satu kain tenun tradisional yang memiliki corak sangat khas. Kain tenun Bali ini merupakan hasil dari sungkitan benang lungsi yang bisa dibentuk motif beraneka ragam. Kain songket Bali juga ditenun dengan bahan benang katun, semi sutra dan full sutra.

Beberapa jenis songket yang terkenal di Bali diantaranya adalah songket dengan bahan baku benang emas, songket benang perak, songket benang katun, songket campuran dan kombinasi.

Khusus di Bali kain songket biasanya dipakai pada acara-acara besar dan resmi serta upacara penting dalam siklus kehidupan masyarakat Bali. Beberapa upacara yang dimaksud yakni berupa upacara perkawinan, hari raya, potong gigi, kremasi, upacara keagamaan serta acara adat lainnya.

Kain Bali

Sumber : http://luhurbusana.com/

Kain Wali

Kain wali merupakan kain Bali yang diperuntukkan sebagai pelengkap pakaian bagi pria dan wanita pada upacara selamatan akil baliq. Usia menginjak akil baliq di Bali ditandai dengan upacara yang melibatkan sanak keluarga dan pemuka adat serta agama.

Kain Bali

Sumber : http://mahligai-indonesia.com/

Demikian pembahasan singkat mengenai kain tenun bali yang dapat kami bagikan untuk anda. Mau tahu lebih banyak tentang Teknik dan Ragam Tenun Ikat?. Sahabat Fitinline bisa mendownload E-Book kami Di Sini.

Semoga bermanfaat.

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.