Article

Homepage Article Kain Tekstil Alat Pelindung Diri Bagi…

Alat Pelindung Diri Bagi Tenaga Medis dan Bahan Yang Biasa Dipakai Untuk Membuatnya

Mengenakan alat pelindung diri ketika bertugas jelas menjadi suatu hal yang wajib bagi para tenaga kesehatan terlebih lagi bagi mereka yang bertugas di rumah sakit untuk menangani pasien corona. Terkait dengan hal tersebut bahan yang dipakai untuk alat pelindung diri hendaknya juga harus dipilih sesuai standar yang berlaku.

Pengertian Alat Pelindung Diri

Alat pelindung diri (APD) merupakan sejenis kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja dengan tujuan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya, menurunkan risiko terjadinya cedera dan penyakit yang tidak diinginkan, serta kemungkinan terpapar bahan-bahan beracun di tempat kerja.

Pakaian APD

Sumber : https://indonesian.alibaba.com/

Khusus di dunia medis sendiri setidaknya terdapat beberapa jenis alat pelindung diri yang bisa digunakan dalam menjamin kesehatan serta keselamatan kerja (K3) dan secara ideal semua alat tersebut sebaiknya digunakan untuk memberikan proteksi penuh sesuai standar operasional dan juga prosedur yang telah ditetapkan.

Pakaian APD

Sumber : https://www.alibaba.com/

Penggunaan alat pelindung diri akan sangat bergantung dengan kondisi di lapangan. Mulai dari ruangan atau lokasi saat menggunakan alat pelindung diri hingga tingkat keparahan pasien, penyakit atau virus yang dihadapi. Ketentuan penggunaan APD di ruangan isolasi, ICU, IGD atau ruang administrasi akan berbeda.

Pakaian APD

Sumber : https://www.thatsmags.com/

Setelah keluar satu ruang isolasi di mana terdapat sejumlah pasien, alat pelindung diri harus dilepas dan diganti dengan yang baru saat masuk ke ruang isolasi lain. Hal ini bertujuan untuk melindungi tenaga medis dari virus di dalam ruangan, serta mencegah virus tersebut keluar dari ruangan dan menginfeksi orang lain.

Fungsi Penggunaan Alat Pelindung Diri

  1. Sebagai perlengkapan wajib yang digunakan oleh tenaga kesehatan ketika menjalankan tugasnya alat pelindung diri sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk melindungi tubuh dari adanya potensi bahaya atau penyakit akibat kerja. Lebih dari itu alat pelindung diri sebenarnya juga memiliki fungsi lain:
  2. Penggunaan alat pelindung diri dimaksudkan untuk melindungi atau mengisolasi tenaga kesehatan dari hazard kimia atau fisik dan biologi yang mungkin dijumpai.
  3. Menciptakan perasaan aman dan terlindung bagi tenaga kerja serta mampu meningkatkan motivasi utuk yang berprestasi dan memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dan keselamatan kerja.

Syarat-Syarat Alat Pelindung Diri (APD)

Untuk memberikan perlindungan yang maksimal, semua alat pelindung diri (APD) hendaknya perlu dipilih secara hati-hati sesuai standar dan persyaratan yang berlaku supaya tidak membatasi ruang gerak petugas kesehatan dan tetap nyaman digunakan untuk menutupi seluruh atau sebagian anggota tubuh tertentu.

Selain bersih, pas di badan dan nyaman dikenakan oleh pekerja kesehatan, beberapa kriteria lain yang dapat dijadikan tolok ukur layak tidaknya suatu alat pelindung diri untuk dikenakan saat bekerja diantaranya:

  1. Alat pelindung diri (APD) harus bisa memberikan perlindungan yang efektif terhadap bahaya spesifik atau bahaya-bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.
  2. Berat alatnya hendaknya seringan mungkin dan tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan.
  3. Dapat dipakai secara fleksibel bisa digunakan atau dipakai pria dan wanita.
  4. Tidak mudah rusak dan memiliki bentuk yang cukup menarik.
  5. Tahan untuk pemakaian yang lama.
  6. Tidak menimbulkan bahaya sampingan bagi pemakainya karena bentuknya yang tidak tepat atau karena salah dalam penggunaanya.
  7. Tidak membatasi gerakan dan presepsi sensoris pemakainya dan suku cadangnya mudah didapat guna mempermudah pemeliharaannya.
  8. Jika sudah tidak berfungsi dengan baik dan sudah habis masa pakainya maka alat pelindung diri (ADP) harus diganti secara berkala.

Indikasi Pemakaian Alat Pelindung Diri

Dalam melakukan pekerjaannya yakni menangani pasien yang sakit tidak semua alat pelindung tubuh harus dipakai oleh tenaga kesehatan. Adapun pemilihan jenis alat pelindung diri yang dipakai hendaknya disesuaikan pada jenis tindakan atau kegiatan yang dikerjakan.

1. Resiko Rendah

Untuk tindakan dengan resiko rendah seperti perawatan luka ringan, pemberian obat secara anal dan tetes mata alat pelindung diri yang dipakai paling tidak berupa sarung tangan tidak esensial.

2. Resiko Sedang

Untuk tindakan dengan resiko sedang seperti transfusi darah, penanganan spesimen laboratorium dan perawatan luka berat alat pelindung diri yang dipakai yaitu sarung tangan, mungkin perlu gaun pelindung atau celemek.

3. Resiko Tinggi

Untuk tindakan dengan resiko tinggi seperti bedah mayor, bedah mulut dan persalinan alat pelindung diri yang dipakai yakni berupa sarung tangan, celemek, kacamata pelindung dan juga masker.

Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri (APD)

Khusus untuk menangani jenis penyakit yang beresiko tinggi seperti halnya virus corona alat pelindung diri yang dipakai untuk mengisolasi tubuh tenaga kerja dari potensi bahaya di tempat kerja sendiri juga cukup beragam. Beberapa diantaranya ada hazmat suit, sarung tangan, masker wajah, penutup kepala, kacamata serta sepatu.

1. Hazmat Suit

Hazmat suit merupakan kependekan dari hazardous material suit. Pakaian yang sangat tertutup dan tampak seperti baju astronot ini bukan tanpa alasan dikenakan sebagai alat perlindungan diri karena diklaim dapat melindungi tubuh dari potensi paparan virus apapun, termasuk virus corona.

  • Hazmat biasanya dibuat dengan beberapa material seperti polietilena, bahan micro, kain spunbond dan meltblown.
  • Hazmat dirancang untuk tahan air dan dipastikan agen atau zat apaun tidak dapat menyentuh pemakainya.
  • Hazmat suit dapat melindungi tubuh dari potensi paparan virus apapapun, termasuk novel coronavirus (2019-nCov).
  • Hazmat digunakan bersama perlengkapan lain berupa kacamata, masker dan sarung tangan.

Terkait dengan prosedur pemakaian dan pelepasannya secara umum hazmat dapat dikenakan dengan cara berikut.

  • Hazmat dapat dipakai setelah pakaian normal, setelah itu baru menggunakan sarung tangan, tudung sepatu dan masker untuk memastikan tidak ada celah yang bisa dimasuki virus.
  • Bagian pergelangan tangan, kaku, wajah, leher dan pinggang kemudian dikunci.
  • Untuk melepaskannya hazmat dapat dilepas dengan cara digulung ke bawah dari ujung ke ujung.
  • Protokol menyatakan hazmat suit harus dilepas sebelum keluar dari area isolasi.

Pakaian APD

Sumber : https://gulfnews.com/

2. Sarung Tangan

Sarung tangan yang biasa di pakai oleh tenaga medis agar terhindar dari droplet pasien biasa disebut dengan nama handsoon. Tujuan penggunaan handscoon tidak lain adalah untuk mencegah terjadinya infeksi silang serta mencegah terjadinya penularan kuman.

  • Pemakaian sarung tangan bertujuan untuk melindungi tangan dari selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi.
  • Sarung tangan harus selalu dipakai oleh petugas sebelum kontak dengan darah atau semua jenis cairan tubuh serta benda yang mungkin terkontaminasi virus.
  • Sebelum menggunakan handscoon terlebih dahulu lepaskan jam tangan dan cincin. Gulung lengan pakaian ke atas kemudian cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air bersih yang mengalir, jika sudah selanjutnya lap tangan anda dengan handuk yang bersih.

Pakaian APD

Sumber : https://www.mitrakesehatan.com/

3. Masker Wajah

Pemakaian pelindung wajah dimaksudkan untuk melindungi selaput lendir hidung, mulut dan mata dari paparan virus dan bakteri selama melakukan tindakan atau perawatan pasien. Untuk merawat pasien corona masker yang biasa dipakai tenaga kesehatan yakni berupa masker pelindung muka N95.

  • Masker N95 menjadi salah satu jenis masker penutup wajah yang dirancang khusus untuk menyaring partikel berbahaya di udara termasuk virus corona.
  • Sesuai namanya, masker N95 kerap direkomendasikan lantaran mampu menyaring 95 persen partikel besar atau kecil yang mengandung virus di udara.
  • Masker N95 dapat dipakai untuk mencegah berpindahnya mikroorganisme, cairan tubuh dan partikel halus yang berdiameter 0.3 mikron.
  • Dibandingkan masker bedah, masker N95 justru bisa dipakai beberapa kali dalam arti dilepas sebentar lalu dipakai kembali maksimal lima kali pemakaian.
  • Cara memakai dan melepas masker ini sama seperti dengan masker lainnya, sebaiknya cuci tangan dengan menggunakan sabun.

Pakaian APD

Sumber : https://www.ebay.com/

Simak juga pembahasan mengenai Rekomendasi Bahan Masker Penutup Wajah Terbaik Untuk Mencegah Penyebaran Virus Corona. Kalau sahabat Fitinline lebih tertarik untuk membuat masker penutup wajah sendiri anda juga bisa menyimak kembali Tutorial Membuat Masker Penutup Wajah Dari Bahan Kain.

4. Penutup Kepala

Tujuan digunakannya tutup kepala yaitu mencegah jatuhnya mikroorganisme yang ada dirambut dan kulit kepala petugas pada p alat-alat kesehatan dan daerah steril, begitu pula sebaliknya untuk melindungi kepala serta rambut petugas dari percikan bahan-bahan dari pasien.

Pakaian APD

Sumber : https://www.thekingdomshop.com/

5. Kacamata Pengaman

Kacamata untuk pengaman yang dipakai tenaga kesehatan biasanya memiliki lensa polikarboat bening dengan pelapis uvextreme antikabut dan tahan gores. Karet penahannya yang menempel lembut pada wajah juga memungkinkan bagian mata terlindung dengan sempurna tanpa celah.

Pakaian APD

Sumber : https://www.alomedika.com/

6. Sepatu Pelindung

Sepatu pelindung diperlukan untuk melindungi kaki petugas kesehatan dari tumpahan, percikan darah atau cairan tubuh lainnya sekaligus mencegah dari kemungkinan tusukan benda tajam atau kejatuhan alat kesehatan.

  • Sepatu pelindung merupakan sepatu khusus yang digunakan oleh petugas yang bekerja di ruang bedah, laboratorium, ICU, ruang isolasi dan ruang otopsi.
  • Sepatu pelindung ini harusnya bisa menutupi seluruh ujung dan telapak kaki, tidak dianjurkan untuk menggunakan sandal atau sepatu terbuka.

Butuh bahan kain berkualitas dengan harga murah untuk membuat hazmat suit sebagai pakaian pelindung tubuh dari paparan virus maupun organisme berbahaya lainnya?. Sebagai bahan referensi mungkin anda bisa melihat-lihat dulu koleksi bahan kain kami berikut ini.

1. Kain Spunbond

Kain spunbond termasuk ke dalam jenis bahan kain sintetis yang dibuat melalui serangkaian proses kimiawi. Meski bahan yang digunakan untuk membuat kain spunbond berupa biji plastik, namun kain furing ini dikenal sebagai kain ramah lingkungan yang memiliki banyak sekali keunggulan.

Beberapa ciri paling khas dari kain spunbond yang membedakannya jenis kain lain diantaranya:

  • Kain spundbond dikenal sebagai kain ramah lingkungan yang tidak berbahaya.
  • Memiliki ketahanan yang tinggi terhadap bahan kimia.
  • Tidak menimbulkan polusi dan dapat didaur ulang.

Berdasarkan tingkat ketebalannya kain spunbond sebenarnya dapat dikelompokkan kedalam berbagai jenis dan variasi yang berbeda. Bahan kain yang dimaksud yakni berupa kain spunbond 20 gram, kain spunbond 50 gram dan juga kain spunbond 75 gram.

a. Kain Spunbond 20 Gram

Kain spunbond 20 gram merupakan sejenis bahan kain yang cenderung tipis dan memiliki berat 20 gram/m2. Untuk memesan kain spunbond dengan gramasi di bawah 50 gram bisa menghubungi Customer Service kami.

b. Kain Spunbond 50 Gram

Kain spunbond 50 gram merupakan jenis bahan yang paling tipis diantara bahan spunbond lainnya.

c. Kain Spunbond 75 Gram

Kain spunbond 75 gram merupakan salah satu jenis bahan kain spunbond yang memiliki tekstur dan tingkat ketebalannya yang sedang sehingga sangat mudah untuk dijahit.

2. Kain Micro

Kain micro adalah bahan kain microfiber terbaik yang memiliki perpaduan campuran dua jenis polymer, yaitu nylon (polyamide) dan polyester dengan ratio perbandingan 80% polyester dan 20% polyamide. Kain ini umumnya akan menyerap air lebih baik dan proses kering lebih cepat.

Beberapa ciri paling khas dari bahan micro yang membedakannya jenis kain lain diantaranya:

  • Memiliki karakteristik yang tahan terhadap air.
  • Seratnya cenderung tipis karena benang yang dipakai untuk membuat kain ini sangat halus.
  • Hangat dan tidak mudah kusut.
  • Tidak menyebabkan masalah dengan penderita alergi atau asma.
  • Sifat bahan jatuh sehingga bagus untuk digunakan sebagai bahan pakaian.
  • Sama halnya dengan kain spunbond, jenis dan variasi dari kain micronya sendiri cukup beragam.

Khusus untuk membuat baju hazmat kain micro yang banyak digunakan yakni berupa Kain Micro (Mikro) Waterproof yang mempunyai lapisan anti air (waterproof). Bahan ini terasa lembut karena jalinan benangnya yang tipis dan rapat namun kuat.

3. Kain Medis TR Waterproof

Kain medis TR waterproof adalah jenis kain TR (tetoron rayon) yang mempunyai lapisan anti air yang kuat yang biasanya digunakan untuk keperluan medis yang aman namun tetap nyaman dipakai.

4. Saten Waterproof

Kain saten waterproof adalah kain saten polieter yang mempunyai lapisan anti air untuk melindungi kain maupun pemakaian terkena air. Kain ini lebih mengkilap dibanding parasut dengan jalinan benang yang lebih longgar.

Selain itu terdapat pula alternatif bahan kain lainnya yang bisa dipakai. Bahan kain yang dimaksud yakni berupa kain parasut bening, kain parasut ripstop dan kain parasut milky.

1. Kain Parasut Bening

Kain parasut bening merupakan jenis kain yang mempunyai coating bening (transparant) di bagian buruk bahan kainnya sementara bagian baik kainnya tetap berwarna. Kain parasut bening ini bersifat water-resistant.

2. Kain Parasut Milky

Kain parasut milky merupakan jenis kain yang mempunyai sifat water-resistant (tahan air dalam kondisi air mengalir bukan menggenang). Kain parasut ini mempunyai coating milky (warna putih susu).

3. Kain Parasut Ripstop

Kain parasut ripstop merupakan jenis kain yang memiliki coating (lapisan anti air) bening/transparan dengan tektur kotak-kotak. Kain parasut ini umumnya bersifat water resistant.

Cara Menyimpan Alat Pelindung Diri

Sebagai salah satu alat yang memiliki fungsi sangat penting yakni memberikan proteksi menyeluruh pada tubuh, alat pelindung diri sudah semestinya harus dijaga dan disimpan dengan benar agar saat digunakan tidak terjadi kerusakan yang membahayakan penggunanya.

  • Pastikan untuk selalu menyimpan alat pelindung diri (ADP) di lemari yang kering dan bersih.
  • Siapkan juga alat pelindung diri (ADP) cadangan sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu diperlukan.
  • Selalu periksa alat pelindung diri (APD) sebelum dan sesudah digunakan untuk melihat kerusakan yang terjadi.
  • Jangan remehkan sedikit kerusakan di alat pelindung diri (APD) karena sedikit perubahan saja bisa mengganggu fungsi alat tersebut.
  • Pasang kertas berisi informasi tentang tahapan dan cara menggunakan alat pelindung diri (APD) di dekat lemari penyimpanan sebagai pengingat.
  • Bila ada bagian alat pelindung diri (APD) yang hilang, segera ganti dengan yang sesuai.

Setelah menyimak pembahasan di atas sekarang sahabat Fitinline jadi makin tahukan betapa pentingnya bagi petugas kesehatan untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) agar terhindar dari penularan penyakit, infeksi, maupun virus berbahaya.

Semoga bermanfaat.

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.