Article

Homepage Article Tenun/Lurik 8 Tahapan Dalam Proses Pembuatan…

8 Tahapan Dalam Proses Pembuatan Kain Lurik

Proses pembuatan lurik melalui beberapa tahapan yang cukup rumit dan membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Proses-prosesnya sebagai berikut:

1. Proses Pewarnaan

Proses pewarnaan adalah proses memberi warna benang yang akan ditenun. Resep warna dibuat untuk satu pak benang yang terdiri dari 6 ikat terdiri dari 25-26 streng benang atau 2,5 golek. Benang-benang yang akan diwarna disusun dalam stok, satu stok terdiri dari 2 ikat. Zat pewarna yang digunakan biasanya napthol. Napthol memerlukan bahan bantu lain seperti (TRO/ Turkis Red Oil, kostik soda, tepung kanji dan asam cuka). Cara melakukan pewarnaan benangya yaitu:

  1. Benang direndam dalam bak yang berisi air dan larutan TRO kurang lebih satu malam, paginya dicuci dan diperas. Resep yang digunakan untuk satu pak benang, napthol 100 gram ditambah kostik soda 8 gram ditambah TRO 8 gram yang dilarutkan dengan air panas, kemudian ditambah air 10 liter air dalam bak I. Garam diazo 200 gram ditambahkan10 liter air dalam bak II. 
  2. Masukkan benang ke bak I kira-kira 10 menit, kemudian diangkat dan diperas lalu dicelupkan ke dalam bak II, rendam kira-kira 10menit, ulangi proses tersebut sampai 4 kali.
  3. Benang dicuci bersih dan dimasukkan ke dalam bak yang sudah berisi air yang dicampur dengan larutan cuka, cuci bersih dan diperas.
  4. Benang direbus dalam dandang yang berisi air dan TRO kira-kira 10 menit, kemudian diangkat diperas lalu dicuci ke dalam air yang telah dicampurkan dengan larutan kanji dan seterusnya diperas, diangin-anginkan sebentar. Lalu benang dijemur.

Proses Pewarnaan

Proses Pewarnaan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

2. Proses Pengelosan

Proses Pengelosan adalah proses memindahkan benang dari bentuk benang streng ke dalam bentuk kelos, dengan menggunakan alat pintal (erek). Tujuannya untuk memperbaiki benang yang masih kurang sempurna, selain itu juga untuk mendapat bentuk gulungan kelosan yang nantinya digunakan untuk proses penyekiran yaitu menyusun benang untuk lungsi.

Proses Pengelosan

Proses Pengelosan (Sumber: http://warisanmultitenun.com)  

3. Proses Pemaletan

Proses Pemaletan adalah proses memindahkan benang dari bentuk streng ke dalam keleting sehingga menjadi benang dalam bentuk paletan dengan menggunakan alat pintal (erek). Benang yang dipalet tidak boleh melewati ujung (pucuk) keleting karena dapat mengakibatkan benang dari teropong sukar ditarik atau keluar. Untuk mempermudah benang keluar dari teropong, konsentrasi susunan benang pada keleting lebih banyak pada bagian tengahnya.

Teropong

Teropong (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kelenting

Kelenting dan Benang (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Proses Pemaletan

Proses Malet (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

4. Proses Penyekiran (Penghanian)

Sekiran adalah alat untuk menyusun benang lungsi, dalam proses ini motif sudah bisa ditentukan. Proses ini merupakan pekerjaan penggulungan benang dari bentuk kelos ke dalam tambur (bom besar), dalam keadaan sejajar satu sama lain dan membentuk lapisan. Seluruh benang yang tergulung dan tersusun harus mempunyai ketegangan yang sama, dan apabila ada benang terputus pada saat digulung harus secepatnya disambung agar pada saat penenunan tidak terjadi kelonggaran atau lobang pada kain. Dalam proses ini dituntut ketelitian dalam memperhatikan jumlah benang tata warna benang dan lancarnya putaran kelos pada sekiran. Sebab kekeliruan pada proses ini akan merepotkan dalam proses penenunan. Proses ini adalah proses paling rumit, karena seorang penyekir harus menata benang-benang tipis sejumlah 2100 helai benang untuk menghasilkan satu motif tertentu kain lurik selebar 70 cm. Tiap-tiap motif memiliki rumus yang berbeda. padahal motif kain lurik sendiri berjumlah puluhan. Baik motif klasik maupun motif kontemporer.

Proses Penyekiran

Proses Penyekiran (Sumber: http://warisanmultitenun.com)

5. Proses Pengeboman

Proses Pengeboman adalah proses memindahkan benang dari tambur (bom besar) ke dalam bom kecil yaitu bom penggulung benang lungsi. Bom kecil inilah yang nantinya tersimpan pada alat tenun ATBM. Proses ini juga bertujuan agar ketegangan dan kesejajaran benang sama dan seandainya ada kesalahan dalam proses penyekiran dapat diketahui.

6. Proses Penyucukan

Proses Penyucukan adalah proses untuk memasukkan benang-benang lungsi dari bom kecil (benang lungsi sudah dikres pada saat penggulungan dari sekir) satu demi satu benang tersebut dimasukkan pada mata gun yang sesuai dengan rencana tenun, kemudian benang tersebut dimasukkan ke dalam sisir, kemudian ditata, disetel dan digulung pada bom penggulung kain. Pada bagian ini, harus dilakukan oleh dua orang, yang satu memilah benang satu persatu dan menyerahkannya kepada partnernya, sedangkan partner satunya menerima dan memasangkan pada alat tenunnya.

Sisir Tenun

Sisir tenun Gun (Sumber: http://warisanmultitenun.com)

Proses Penyucukan

Proses Penyucukan (Sumber: http://warisanmultitenun.com)

7. Proses Menenun

Proses Menenun adalah proses menggunakan alat tenun manual atau yang dikenal dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Proses penyilangan benang pakan diantara benang lungsi, disesuaikan dengan pola atau desain yang diinginkan, hingga menjadi kain. Keahlian menenun akan mempengaruhi hasil tenunannya, sehingga harus dilakukan secara teliti. Proses penenunan dilakukan melalui beberapa gerakan pokok yaitu:

  1. Penyetelan sebagai proses awal dari putaran benang melalui pemasangan bom lungsi menuju bom kain dan dilakukan juga pemisahan benang dengan nomor ganjil dengan benang nomor genap.
  2. Membuka mulut lungsi dikerjakan dengan memisahkan benang-benang lungsi ke dalam mata gun. Mata gun dibagi menjadi dua bagian, bagian yang satu ditarik ke atas dan bagian yang lainnya ditarik ke bawah. Hal ini akan bisa bergerak otomatis apabila dilakukan satu injakan pada alat tenun tersebut.
  3. Meluncurkan teropong, dimaksudkan untuk menempatkan benang pakan diantara benang lungsi yang telah terbuka, namun di dalam teropong sebelumnya telah diisi dengan benang dalam bentuk paletan. Setiap peluncuran benang pakan selalu diikuti penyilangan-penyilangan benang lungsi.
  4. Pengentakan sisir bantingan dimaksudkan untuk merapatkan benang pakan dengan cara injakan diinjak, teropong diluncurkan, injakan dilepas dan dilakukan pengentakan. 
  5. Penguluran lungsi dari bom lungsi, mengingat benang lungsi yang menganyam akan semakin tegang, maka benang lungsi perlu dikendorkan agar proses penenunan bisa berlanjut dan sekaligus dilakukan penggulungan kain ke dalam bom penyimpan atau penggulung kain.

Proses Penenunan

Proses Menenun (Sumber: http://warisanmultitenun.com)

8. Proses Finishing

Proses Finishing adalah proses penyempurnaan pada hasil produksi. Meliputi menghilangkan sambungan benang yang terlalu besar pada kain agar menjadi lebih baik, bertujuan meningkatkan kualitas kain dengan sendirinya akan meningkatkan harga jualnya.

Proses Finishing

Proses Finishing (Sumber: http://warisanmultitenun.com)

Tags: jual kain, jual kain batik, jual batik, jual kain batik murah, toko kain, toko kain batik, toko batik, toko batik online, toko kain batik online, beli kain, beli kain batik, beli batik, batik indonesia, belanja batik, belanja batik online, motif batik, harga batik

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.