Article

Homepage Article Tenun/Lurik Kain Tenun Gringsing Khas…

Kain Tenun Gringsing Khas Bali : Ragam Motif, Warna dan Makna Yang Tersembunyi di Dalamnya

Berbicara mengenai warisan budaya, tentu kita patut berbangga karena Indonesia memiliki banyak sekali kain tradisional yang sudah diakui keindahannya di mata dunia. Salah satu diantaranya yakni berupa kain tenun gringsing khas Tenganan Bali yang terkenal sangat sakral dan biasa digunakan untuk upacara adat.

Pengertian Kain Gringsing

Kain gringsing merupakan satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik teknik dobel ikat. Ditinjau dari asal bahasanya kata gringsing sendiri konon diperoleh dari penggabungan kata “gring” yang berarti “sakit” dan “sing” yang berarti “tidak”, bila digabungkan menjadi “tidak sakit”. 

Kain Tenun Gringsing

Sumber : https://rachnasandika.com/

Maksud yang terkandung di dalam kata gringsing tersebut bila diartikan secara harfiah memiliki makna penolak bala serta pengusir berbagai penyakit jasmani maupun rohani. Atas dasar itulah masyarakat percaya bahwa kain gringsing memiliki kekuatan magis yang dapat melindungi mereka dari musibah sakit.

Kain Tenun Gringsing

Sumber : https://medium.com/

Sejarah Kain Gringsing

Berdasarkan mitos yang berkembang di Bali adanya kain tenun gringsing ini konon berawal dari kekaguman Dewa Indra terhadap  keindahan langit di malam hari. Dari situ Dewa Indra lantas memaparkan keindahan yang dilihatnya melalui motif tenunan kepada rakyat yang dipilihnya yakni masyarakat Tenganan. 

Kain Tenun Gringsing

Sumber :  https://medium.com/

Dewa Indra mengajarkan para wanita untuk menguasai teknik menenun kain gringsing yang melukiskan dan mengabadikan keindahan bintang, bulan, matahari dan hamparan langit lainnya. Hingga akhirnya kain tenun yang berwarna gelap dipercaya memiliki kekuatan magis dan dipakai dalam ritual keagamaan. 

Kain Tenun Gringsing

Sumber :  https://www.tannolbalitours.com/

Masyarakat Tenganan sebagai sesama penganut Dewa Indra juga diyakini merupakan imigran dari India kuno. Imigran tersebut kemungkinan membawa teknik dobel ikat melalui pelayaran dari Orrisa atau Andhra Pradesh dan mengembangkan teknik tersebut secara independen di Tenganan. 

Kain Tenun Gringsing

Sumber :  https://medium.com/

Kemungkinan lain yang melatar belakangi lahirnya kain tenun gringsing yaitu para imigran menguraikan kutipan-kutipan dari beberapa jenis tenun patola untuk dikembangkan di Indonesia. Selanjutnya kain ini juga disebut-sebut mampu menyembuhkan penyakit dan menangkal pengaruh buruk.

Hari Baik Untuk Menenun

Pakar tekstil menyatakan metode penenunan kain gringsing sendiri konon hanya dijumpai di tiga lokasi di dunia, yaitu Tenganan (Indonesia), Jepang dan India. Sementara teknik pembuatan kain tenun dengan teknik ikat ganda  hanya dimiliki oleh 2 tempat di dunia salah satunya di Tenganan Bali. 

Kain Tenun Gringsing

Sumber : https://travel.detik.com/

Khusus di daerah Tenganan, kegiatan menenun kain gringsing biasa dilakukan di rumah pada waktu senggang oleh wanita, namun alat-alat yang di gunakan untuk menenun di buat oleh laki-laki. Dalam pembuatan kain tenun ini ada peraturan khusus yang menentukan kapan waktu yang baik untuk memulai menenun.

  1. Menenun haruslah pada hari-hari yang baik karna tidak semua hari bisa digunakan untuk menenun.
    • Hari yang dianggap bagus adalah hari yang tidak bertepatan dengan bulan.
    • Hari yang bagus untuk memulai menenun ini perhitunganya tidak menggunakan kalender konfensional, tetapi menggunakan penanggalan masyarakat Tenganan.
  2. Penenunan kain gringsing juga tidak boleh bertepatan dengan upacara- upacara adat masyarakat Tenganan.

Alat dan Bahan Untuk Menenun

Untuk menciptakan sepotong kain gringsing yang tidak hanya cantik dari segi tampilan tapi juga memiliki makna yang sangat sakral prosesnya bisa dibilang cukup panjang bahkan bisa memakan waktu lebih dari satu tahu. Disamping itu alat dan bahan yang digunakan juga masih sangat sederhana.

1. Alat Tenun

Alat yang dipakai untuk membuat kain tenun gringsing termasuk kedalam kategori alat tenun gendongan yaitu alat tenun yang menggunakan tubuh si penenun untuk mengatur ketegangan benang lungsi. Alat ini juga bersifat portebel, sehingga dapat ditempatkan dimana saja sesuai dengan kebutuhan penenun.

2. Bahan Tenun

Bahan yang digunakan untuk membuat kain tenun gringsing umumnya berasal dari hasil alam yang ada di sekeliling masyarakat Tenganan yaitu benang katun yang terbuat dari kapas. Akan tetapi karena bahan tersebut masih sangat terbatas maka mereka membeli stok benang dan pewarna alam dari Pulau Nusa Penida.

Proses Produksi Kain Gringsing

Berlanjut ke pembahasan tentang proses produksi kain gringsing. Jadi untuk menciptakan kain gringsing yang berkualitas kain harus ditenun dengan ketelitian tinggi sehingga setiap warna pada lungsi akan bertemu dengan warna yang sama pada pakan dan menghasilkan motif kain yang terlihat tegas.

1. Persiapan Awal

Siapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat kain tenun. Alat yang digunakan terdiri dari alat tenun tradisional dan alat penggilas kapas tradisional sedangkan bahan yang digunakan untuk menenun adalah benang katun yang terbuat dari kapas.

2. Penggilasan Kapas

Proses selanjutnya adalah proses penggilasan kapas. Pada proses penggilasan kapas alat yang digunakan bernama penggilas. Penggilas ini berfungsi untuk memisahkan kapas dan biji kapas.

  • Alat penggilas ini penggunaanya masih sangat sederhana yaitu dengan cara di putar menggunakan tangan.
  • Setelah kapas digilas kemudian kapas digulung supaya mempermudah proses pemintalan.

Kapas yang digunakan untuk membuat benang tenun umumnya diperoleh dari kapuk berbiji satu yang didatangkan dari Nusa Penida karena hanya di tempat tersebut bisa didapatkan kapuk berbiji satu.

3. Pemintalan Benang

Dalam proses pemintalan benang alat yang digunakan berupa kincir yang terbuat dari kayu. Kincir berfungsi sebagai tempat penggulungan benang. Cara pemakaianya dengan cara di putar menggunakan tangan.

4. Pewarnaan Pertama

Setelah selesai dipintal, benang kemudian direndam dengan minyak kemiri selama lebih dari 40 hari hingga maksimum satu tahun dengan penggantian air rendaman setiap 25-49 hari. Semakin lama proses perendaman yang dilakukan maka benang yang dihasilkan akan makin kuat dan lebih lembut.

  • Dalam pewarnaanya ini minyak kemiri di campur dengan abu dapur dengan perbandingan 3:7 minyak kemiri 3 liter dan abu dapur 7 liter.
  • Kemiri yang di pakai adalah kemiri yang sudah rusak dan tidak bisa di konsumsi lagi dan sudah sangat lama, supaya warna yang dihasilkan maksimal.
  • Cara membuat warna dengan kemiri ini terlebih dahulu kemiri di gilas kemudian kemiri di kukus dan di bungkus seperti bungkusan pepes kemudian digilas lagi hingga menghasilkan minyak.
  • Setelah pembuatan minyak kemiri ini selesai kemudian benang mulai di rendam ke dalam cairan minyak kemiri yang sudah di campur dengan abu dapur.

5. Menyusun Benang

Setelah benang yang di warnai kering selanjutnya di lakukan penyusunan benang dengan cara dililitkan pada batang kayu yang berbentuk persegi yang pinggir atas dan bawahnya di ikat dengan tali sehingga membentang.

  • Benang di susun menurut ukuran dan motif yang ingin di buat.
  • Benang di pisah menurut ukuran yang sudah di tentukan dan di ikat pada bagian pinggir benang dengan tali rafia.
  • Setelah proses pemisahan benang selesai kemudian benang benang tadi di beri motif atau penanda dengan cara di gambarkan pada benang.
  • Benang diikat menurut motif yang sudah di tentukan tadi dengan cara membagi menjadi tiga bagian. Pengikatan ini berlaku pada benang lungsi dan benang pakanya.
    • Bagian benang yang akan di warna biru tua atau hitam di ikat dengan tali raffia berwarna biru.
    • Bagian benang yang akan diwarna merah kemudian di ikat dengan raffia berwarna merah.
    • Bagian benang yang tetap berwarna putih di ikat dengan raffia berwarna putih.

6. Pewarnaan Kedua

Setelah semua benang diikat sesuai dengan motif dan ukuran yang di tentukan kemudian benang dilepas dari papan kayu dan diproses lebih lanjut dengan pewarnaan tahap kedua yaitu pewarnaan dengan menggunakan daun indigofera.

  • Daun indigofera yang sudah berbentuk bubuk di sedu dengan air sehingga menjadi cairan warna yang siap pake.
  • Setelah itu masukan benang kedalam cairan warna selama kurang lebih 12 hari sampai 15 hari kemudian angkat dan keringkan.

7. Pewarnaan Ketiga

Untuk melakukan pewarnaan tahap ketiga lepaskan ikatan yang berwarna merah kemudian dilakukan pewarnaan yang ketiga atau pewarnaan yang terahir dengan menggunakan pewarna alam dari akar mengkudu.

  • Akar mengkudu yang sudah menjadi serbuk disedu dengan air.
  • Benang yang sudah dilepas ikatanya laludirendam selama kurang lebih 15 hari.
  • Dalam proses pewarnaan yang terahir ini di lakukan peletakan bunga dan sesajen serta doa doa khusus untuk mpersembahan kepada Dewa.

8. Pembagian Motif

Setelah proses pewarnaan selesai kemudian dilakukan pembagian motif yang disebut dengan nyaik. Kemudian proses selanjutnyabenang diolesi dengan bubur beras supaya warna kain tetap awet. Setelah itu kain dibersihkan dengan air dan diangin-anginkan sampai kering.

9. Menghanai

Susun benang bermotif yang akan di tenun pada alat tenun gendongan sesuai dengan ukuran yang di tentukan. Menghani di lakukan dengan cara melilitkan benang pada tongkat kayu agar benang lebuh mudah disusun.

10. Memasukan Benang ke dalam Sisir

Masukan benang yang akan ditenun kedalam sisir satu persatu seperti proses memasukan benang pada jarum jahit. Proses ini sering di sebut dengan nyucuk. Alat yang digunakan untuk nyucuk adalah bilahan kayu kecil yang ujungnya kecil dan runcing.

11. Menenun

Setelah benang terpasang semua kemudian dapat di mulai proses penenunan. Proses menenun dilakukan dengan cara tangan penenun terlebih dahulu mengangkat jajaran mata gun sehingga mulut lungsi terangkat kemudian dimasukan teropong di tengah tengah benang lungsi yang terangkat.

  • Proses pembuatan kain dengan cara di tenun ini lebih lama dibandingkan dengan dengan proses yang lainya.
  • Kekencangan benang lungsi diatur oleh badan penenun.
  • Selain dibantu oleh apitan dan togtogan benang pakan diletakan pada alat yang bernama teropong.
  • Lama penenunan kain tergantung ukuran dan motif yang di buat.

Untuk membuat satu lembar kain tenun ikat ganda, seorang penenun harus menghabiskan waktu selama 2 hingga 5 tahun karena proses pembuatannya masih sangat manual. 

12. Finishing

Finihising menjadi proses terahir dalam pembuatan tenun yaitu merapikan bagian bagian tenun yang sudah menjadi kain, seperti mengikat pada bagian ujung kain yang masih tersisa supaya tenun tidak mudah rusak.

Warna Kain Gringsing

Ditinjau dari warna dasarnya secara umum kain tradisional ini hanya memiliki tiga komponen yaitu kuning, merah  dan hitam yang disebut “tridatu”. Semua teknik pewarnaan pada kain gringsing ini sejak dulu dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan hasil alam di sekitar Desa Tenganan.

Beberapa contoh bahan pewarna alami yang biasa digunakan dalam pembuatan motif kain gringsing diantaranya:

  1. Warna kuning didapatkan dari percampuran minyak kemiri.
  2. Warna merah didapatkan dari akar kulit kayu mengkudu.
  3. Warna hitam didapatkan dari pohon taum.

Sama seperti kain Gringsing yang memiliki makna penting bagi masyarakat Tenganan tiga warna tersebut juga memiliki makna filosofis yang sangat mendalam.

  1. Warna kuning pada kain gringsing melambangkan angin yang mengandung oksigen untuk kehidupan manusia.
  2. Warna merah melambangkan api yang merupakan panas bumi yang memberi energi dan kehidupan di muka bumi.
  3. Warna hitam melambangkan air yang memberi penghidupan untuk seluruh makhluk di muka bumi.

Selain simbol dan pemaknaan kain sebagai angin, api dan air. Masyarakat Tenganan  meyakini warna pada kain gringsing menyimbolkan Trimurti dalam agama Hindu.

  1. Warna merah melambangkan Brahma sebagai pencipta
  2. Warna hitam melambangkan Wisnu sebagai pemelihara
  3. Panca warna melambangkan Siwa sebagai pelebur.

Motif Kain Gringsing

Sebagai salah satu kain tradisional khas Bali yang cukup melegenda, kain gringsing konon memiliki sekitar 20-an motif, namun hingga saat ini yang masih dikerjakan hanya beberapa saja. Motif yang dimaksud diantaranya:

  1. Motif lubeng yang bercirikan kalajengking berfungsi sebagai busana adat dan digunakan dalam upacara keagamaan.
  2. Motif sanan empeg yang bercirikan kotak poleng merah hitam berfungsi sebagai sarana upacara keagamaan dan adat.
  3. Motif cecempakaan yang bercirikan bunga cempaka berfungsi sebagai busana adat dan upacara keagamaan.
  4. Motif cemplong yang bercirikan sebuah bunga besar di antara bunga-bunga kecil berfungsi sebagai busana adat dan upacara keagamaan.
  5. Motif gringsing isi yang seluruh bagian motifnya penuh hanya berfungsi untuk sarana upacara adat. Ukuran kain ini yang ada hanya pat likur (24 benang).
  6. Motif wayang yang bercirikan tokoh-tokoh pewayangan, terdiri dari gringsing wayang kebo dan gringsing wayang putri.  
  7. Motif tuung batun yang bercirikan biji terong biasa digunakan untuk senteng (selendang) pada wanita dan sabuk (ikat pinggang) pada pria.

Selain ke tujuh motif yang sudah disebutkan di atas terdapat pula motif-motif kuno kain gringsing yang masih dikenal yakni berupa teteledan, enjekan siap, pepare, gegonggangan, sitan pegat, dinding ai, dinding sigading dan talidandan.

Makna Kain Gringsing

Dibalik keterbatasan dan kesederhanaan leluhur di masa lalu ada hal yang lebih penting dari kain gringsing, yaitu kain gringsing dipercaya memiliki keunikan  konsep dan  filosofi  yang mendalam akan nilai kehidupan. 

1. Makna Religi

Kain  tradisional yang satu ini dianggap sebagai kain penolak bala sekaligus media ritual masyarakat Tenganan dalam  kegiatan  upacara  agama dan  adat-istiadat.

2. Makna Ekonomi

Masuknya  budaya  global  membawa penggeseran  bentuk,  fungsi  dan  makna kain gringsing sebagai produk  komuditi yang diperjual belikan.

3. Makna Ekologi

Secara  filosofis  motif-motif  kain tenun  gringsing  yang banyak menggambarkan unsur alam dapat  dimaknai  sebagai  usaha  penyelamatan lingkungan. 

Masyarakat Tenganan percaya, mempertahankan dan melestarikan kain gringsing merupakan salah satu bentuk penghormatan agung kepada leluhur. Mereka juga meyakini bahwa pemahaman makna filosofis yang mendalam akan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu menjaga keselarasan hidup.

Kesimpulan

  1. Kain gringsing menjadi cerminan perjalanan kehidupan masyarakat Tenganan, karena itulah kain ini kerap digunakan dalam setiap upacara adat maupun upacara keagamaan.
  2. Fungsi dan makna kain gringsing begitu penting dalam kehidupan masyarakat Tenganan yakni sebagai simbol keselarasan hidup serta penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan budaya kain tersebut.
  3. Tingkat kesulitan yang tinggi dalam pembuatan sebuah kain gringsing, baik dalam teknik pewarnaan maupun penenunan menjadikan kain gringsing sebagai kain yang bernilai sangat tinggi.
  4. Diharapkan orang-orang yang mengenakan kain gringsing selalu mengingat dan memposisikan Tuhan sebagai prioritas utama di dalam dirinya.
  5. Kain gringsing bagi masyarakat Tenganan juga dimaknai sebagai pengingat untuk selalu bersifat rendah hati karena manusia hanyalah komponen kecil dari penciptaan semesta.

Demikian pembahasan singkat mengenai pengertian, sejarah, warna dan motif kain tenun gringsing yang dapat kami bagikan hanya untuk anda. Kalau sahabat Fitinline mau tahu lebih banyak tentang jenis-jenis kain tenun Indonesia yang tidak kalah menarik simak terus artikel dari kami ya.

Mencari bahan kain tradisional berkualitas dengan harga yang cukup terjangkau untuk pelengkap kebutuhan sandang?. Sahabat Fitinline mungkin bisa melihat-lihat dulu koleksi bahan kain tradisional kami Di Sini.

Semoga bermanfaat.

Comments 0

Leave a Comment
Belum ada komentar untuk saat ini.

Send Comment

Anda harus terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.